MANADOPOST.ID — Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado bersama Organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) menyelenggarakan Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Lahir Pahlawan Nasional Ibu Maria Walanda Maramis ke-153 di Aula IAKN Manado, Jumat (28/11/2025).
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI dan mengusung tema: “Mewarisi Jejak Perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis Menuju Indonesia Emas 2045 Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan.”
Seminar ini sekaligus menjadi bagian dari kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, memperteguh komitmen lembaga keagamaan, akademisi, dan organisasi perempuan dalam menghadirkan ruang aman bagi perempuan di Indonesia.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd. Dalam sambutannya, Dirjen menegaskan bahwa perlindungan terhadap perempuan merupakan bagian dari program prioritas Kemenag, khususnya dalam penguatan nilai Cinta Kemanusiaan, peningkatan Layanan Keagamaan yang Berdampak, serta pembangunan pendidikan unggul dan terintegrasi.
“Perlindungan perempuan bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga bagian dari iman. Setiap perempuan adalah citra Allah yang tidak boleh dicederai,” tegas Tulung.
Ia juga menyerukan peran Gereja sebagai safe space bagi perempuan yang mengalami kekerasan. Gereja diharapkan menyediakan pelayanan pastoral yang memulihkan, berpihak kepada korban, serta memastikan layanan keagamaan berdampak langsung pada penguatan keluarga dan pencegahan kekerasan.
“Layanan keagamaan harus memberi dampak sosial nyata, termasuk dalam upaya pencegahan kekerasan dan penguatan keluarga,” tambahnya.
Terkait hal ini, Ketua Umum BPP PIKAT Novia Helena Annatje Lambey, SS mengucapkan limpah terima kasih kepada keyspeaker Ibu Dirjen Bimas Kristen Protestan, Kementrian Agama RI, Pdt Dr Jeane Tulung, STh, MPd.
"Kami sangat terharu atas komitmen dan dukungan penuh dari Ibu Dirjen bersama jajarannya, Sekretaris dirjen Bimas Kristen, Bpk Pdt John Tilaar secara langsung memastikan agar hasil audiensi BPP PIKAT kepada Ibu Dirjen terimplementasi dengan baik," tegas Lambey.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yg tinggi kepada Rektor IAKN Dr. Olivia Cherly Wuwung, ST, MPd dan jajarannya bahwa hari ini telah menjadi kick off untuk memulai realisasi kerjasama atas komitmen bersama dalam MoU yg dibuat antara IAKN & BPP PIKAT.
Begitu juga kepada Ibu Chatarina Pancer Istiyani, Komisioner Komnas Perempuan yang telah menjadi narasumber dalam Seminar dalam rangka Peringatan Hari Lahir Ibu MWM ke 153 serta Kampanye 16HAKtP. "Dengan kehadiran Komnas Perempuan, telah nyata betul PIKAT didukung sepenuhnya sebagai bagian gerakan perempuan yang akan terus berjuang bersama dalam upaya menciptakan kondisi kondusif tanpa kekerasan bagi perempuan," ungkap Lambey.
Begitu juga dirinya berterima kasih buat narasumber kedua Pdt Lilly Danes yang adalah salah satu pengurus dari Badan Pimpinan Pusat PIKAT yang sangat paham tentang gerakan perempuan di mana sebelum bergabung dgn PIKAT, adalah Sekjen Komnas Perempuan dan terima kasih kepada moderator Giffliani Nina Nayoan MTh yang telah memandu Seminar Nasional hari ini dengan baik.
Ucapan terima yang dalam kepada semua peserta lintas organisasi, pemerintah maupun NGOs, lintas usia, lintas latar pendidikan dan profesi yang telah memenuhi, hadir dan memberikan kontribusi pemikiran yang penting untuk ditindaklanjuti oleh kita semua.
"The last but not least, terima kasih untuk semua pengisi acara, Panitia IAKN Manado dan BPP PIKAT yang kerja cepat, cermat mewujudkan mimpi besar kita bersama. Semoga langkah awal ini akan terus berlanjut ke depan sebagai sumbangsih penuh kita bersama bagi bumi pertiwi, bagi tanah air yang begitu dicintai Maria Walanda Maramis," tegasnya.
"Tentu tak ada gading yang tak ada retaknya, karenanya mohon maaf apabila Ibu Bapak Saudara Saudari menemukan ada kekurangan dan kekhilafan kami dalam penyelenggaraan Seminar ini. Kiranya moment hari ini akan terus menggelinding, semakin besar, bergerak bersama meneruskan perjuangan Ibu MWM bagi perempuan, anak-anak, kemanusiaan yang bermartabat meraih cita-citanya," harapnya.
Sebelumnya, Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia Cherly Wuwung, ST., M.Pd., menyampaikan sambutan yang menekankan bahwa perjuangan Ibu Maria Walanda Maramis—pelopor pendidikan perempuan Indonesia—masih sangat relevan hingga hari ini.
Rektor menegaskan bahwa pendidikan yang memerdekakan perempuan, serta perjuangan melawan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, harus terus dilanjutkan lintas generasi.
Wuwung menggarisbawahi bahwa kegiatan ini merupakan implementasi dari MoU IAKN Manado dan PIKAT, yang berkomitmen melanjutkan warisan nilai-nilai kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, pendidikan, dan keadilan sosial.
“Jika Indonesia bercita-cita menuju Indonesia Emas 2045, maka ruang aman bagi perempuan adalah syarat mutlak,” ujar Wuwung.
Kegiatan seminar ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional yang membahas isu kekerasan terhadap perempuan dari berbagai perspektif, mulai dari hukum, sosial, teologi, hingga sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia.
Hadir sebagai narasumber dan tamu kehormatan, Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI, Dr. Jeane Marie Tulung, S.Th., M.Pd., bersama Sekretaris Ditjen Bimas Kristen, Johni Tilaar, S.Th., M.Si., serta Rektor IAKN Manado, Dr. Olivia C. Wuwung, ST., M.Pd., dan Kepala Biro AUAK IAKN Manado, Anneke Marie Purukan, S.PAK., M.Pd., Wakil Rektor III, Dr. Anita Inggrith Tuela, M.Th.
Turut hadir Komisioner Komnas Perempuan, Chatarina Pancer Istiyani, S.S., M.Hum., serta Sekjen Komnas Perempuan 2014–2024 sekaligus aktivis PIKAT, Pdt. Heemlyvaartie D. Danes, yang memberikan pemaparan mendalam terkait situasi terkini kekerasan berbasis gender.
Selain itu, Ketua Umum BPP PIKAT, Novia Helena Lambey, SS, Kasubdit Pendidikan Menengah Ditjen Bimas Kristen, Dr. Santi Uanti Kalangi, S.Th., M.Pd.K., dan Kabid Pendidikan Kanwil Kemenag Sulawesi Utara, Pdt. Frangki Rompas, S.Th., M.Pd., yang hadir mewakili Kepala Kanwil, juga memberikan perhatian serta dukungan terhadap penyelenggaraan seminar ini.
Kehadiran beragam tokoh lintas sektor tersebut menegaskan bahwa penanganan kekerasan terhadap perempuan membutuhkan kerja multipihak, melibatkan negara, lembaga keagamaan, institusi pendidikan, masyarakat sipil, media, serta komunitas akar rumput.
Dalam sesi pemaparan, para narasumber menyoroti beberapa isu utama, yakni peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan di berbagai ranah, urgensi layanan terpadu melalui pendekatan SPPT-PKKTP, serta pentingnya gerakan bersama dalam kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Para narasumber juga menekankan bahwa kekerasan berbasis gender merupakan persoalan struktural yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan.
Seminar ini juga dihadiri ratusan peserta yang terdiri atas pimpinan organisasi perempuan, pimpinan lembaga keagamaan, organisasi kepemudaan lintas agama, tokoh masyarakat, jurnalis, dosen, dan mahasiswa dari berbagai latar agama dan budaya. Kehadiran peserta yang sangat beragam ini menunjukkan bahwa isu perlindungan perempuan merupakan isu universal yang melampaui batas agama, budaya, usia, dan profesi.
Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif, di mana para peserta memberikan pandangan terkait pencegahan kekerasan, pembentukan ruang aman di lingkungan keluarga dan gereja, serta penguatan edukasi publik termasuk di ruang digital. (mpd)
Editor : Filip Kapantow