Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Dr Ferry Daud Liando: Ormas Kepemudaan Tidak Boleh Dimanfaatkan Untuk Kepentingan Elektoral

Reza Abdilah • Rabu, 3 Desember 2025 | 10:23 WIB
Seminar Kepemudaan diikuti oleh para Kepala Dinas kabupaten/kota dan pimpinan ormas kepemudaan seantero Sulut.
Seminar Kepemudaan diikuti oleh para Kepala Dinas kabupaten/kota dan pimpinan ormas kepemudaan seantero Sulut.

 

MANADOPOST.ID- Ormas Kepemudaan dinilai harus lebih aktif dalam memberikan kontribusi melalui partisipasi politik. Hal ini tegas disampaikan akademisi Fisip Unsrat Ferry Daud Liando.

Menurutnya dalam beberapa tahun terakhir, ormas kepemudaan mengalami kemerosotan nilai juang, dalam memberikan kontribusinya melaui parisipasi politik. Sehingga tegas Dekan Fisip Unsrat ini, kepedulian ormas dalam mengawal, mendampingi dan memperjungkan nasib kepemudaan makin memudar.

Dijabarkan kala menjadi narasumber Seminar Kepemudaan yang dilaksanakan oleh Dispora Provinsi Sulut, di Hotel GrandPuri Manado, Selasa (2/11) kemarin. Tampil dengan membawakan materi Konsolidasi dan Integrasi Organisasi Kepemudaan, Liando mengatakan bahwa saat ini organisasi pemuda mengalami 3 krisis yang membutuhkan penyelesaian.

Pertama terangnya, kebanyakan organisasi kepemudaan mengalami dualisme atau kegandaan kepengurusan, lonflik berkepanjangan dan sulit diselesaikan.

"Penyebabnya karena perbedaan dukungan politik terhadap kontestan, baik di pemilu maupun di pilkada. Perbedaan dukungan ini menyebabkan terjadi friksi-friksi dalam tubuh organisasi. Dampak atas semua itu, terjadi tarik menarik kepengurusan, baik dalam kontetasi musyawara nasional ataupun daerah. Masing-masing kubu mengamankan gerbong afiliasi politik," katanya.

Kedua menurutnya, kontribusi organisasi kepemudaan untuk pengembangan, pemberdayaan pemuda maupun dalam perumusan kebijakan publik, makin melemah. "Malah nyaris tidak ada sama sekali. Tidak banyak lagi ormas kepemudaan yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan," terangnya.

Ketiga lanjutnya, makin banyak pemuda yang tidak mau lagi terdafar dan terlibat dalam organisasi kepemudaan. "Perkembangan teknologi yang makin pesat menyebabkan apa yang menjadi manfaat organisasi telah diambil alih oleh teknologi. Teknologi menjadi sumber ilmu pengetahun dan pengembangan keterampilan. Informasi yang disajikan kerap menginspirasi. Teknologi juga membuka akses hubungan sosial lebih meluas dan berjejaring," ungkapnya.

Kata Liando, sebelum teknologi berkembang, peran tersebut banyak dilakukan oleh ormas kepemudaan. Sehingga tegasnya, pemuda yang aktif dalam ormas di masa lalu, ternyata sebagian besar menjadi pemimpin-pemimpin yang berhasil di kemudian hari.

"Penyebab lain, makin tidak tertariknya pemuda berorganisasi adalah karena adanya trauma atas konflik yang berkepanjangan dalam internal organisasi. Organisasi yang penuh konflik, maka tidak mungkin ada yang ingin bergabung," tegasnya.

Maka untuk mengatasi ketiga masalah tersebut, dirinya menegaskan salah satu cara yang harus dilakukan oleh organisasi adalah menkonsolidasikan diri, dengan cara memperkuat intitusi organisasi.

"Urusan ormas kepemudaan harusnya terputus dengan organisasi politik. Sehingga kompetisi politik antar partai politik tidak menjadikan ormas sebagai arena kepentingan. Ormas kepemudaan harusnya tetap sebagai lembaga mandiri dan independen. Jika ada oknum pengurus yang sudah berafiliasi dengan parpol, harusnya dengan gentle mengundurkan diri dalam kepengurusan ormas, agar ormas tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik elektoral, baik dalam pemilu ataupun pilkada," tegasnya lagi.(rez)

Editor : Reza Abdilah
#Partisipasi Politik #ormas kepemudaan #FISIP Unsrat