Dipimpin langsung Kepala Kejaksaan Tinggi Sulut, Jacob Hendrik Pattipeilohy, S.H., M.H., rombongan panitia Natal Kejati Sulut yang diketuai Fanny Widyastuti yang juga merupakan Kajari Manado, datang dengan semangat yang tampak tulus. Anak-anak duduk menyambut.
Di sebuah sudut ruangan yang sederhana namun hangat, Kajati Sulut kemudian berbincang singkat dengan para pengurus yayasan. Dengan nada yang bersahabat, ia menegaskan bahwa perayaan Natal ini adalah kesempatan untuk lebih dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.
“Natal mengingatkan kita untuk saling memperhatikan dan saling menguatkan. Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi juga membawa hati,” ujarnya seusai menyerahkan bingkisan kebutuhan pokok dan paket bagi seluruh anak asuh.
Menurutnya, bantuan yang diserahkan hari ini baru sebagian kecil. “Kami ingin lebih banyak lagi memberikan bantuan bagi yang membutuhkan di momen menyambut natal ini, kalau bisa tembus sampai ribuan paket bantuan. Kemudian kami juga akan bekerja sama dengan PMI dalam waktu dekat ini, untuk melaksanakan donor darah,” ungkap Kajati Sulut Jacob Hendrik Pattipeilohy.
Namun ada satu hal yang membuat kunjungan ini terasa lebih dari sekadar seremoni tahunan. Di hadapan pengurus yayasan, Kajati dengan terbuka menawarkan pintu bantuan apabila yayasan menghadapi kendala, baik administratif maupun persoalan hukum.
“Kalau ada persoalan di yayasan—apapun bentuknya—silakan sampaikan. Kami siap membantu, memberi konsultasi, dan mencarikan jalan keluarnya,” katanya, membuat para pengurus mengangguk lega.
Momen itu menjadi titik yang memperlihatkan bagaimana Kejati Sulut ingin menautkan pendekatan humanis dalam tugasnya. Tidak menggurui, tidak menjaga jarak. Justru merangkul.
Anak-anak panti tampak senang, beberapa menggenggam bantuan usai diserahkan secara simbolis. Di sela senda gurau bersama para jaksa, terlihat dengan jelas bahwa kunjungan Kajati Sulut dan rombongan benar-benar membawa warna baru bagi anak panti asuhan, warna Natal yang sesungguhnya: harapan, kebersamaan, kasih.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama. Rombongan Kejati Sulut kemudian berpamitan, meninggalkan jejak kebaikan yang tak hanya terlihat dari bingkisan yang tertata rapi, tetapi juga dari semangat baru bagi yayasan untuk terus berdiri dan melayani. Di Bailang, kehangatan Natal datang lebih awal. Dan Kejati Sulut menjadi bagian dari cerita itu.(gnr)
Editor : Grand Regar