MANADOPOST.ID— Tokoh marketing dunia Hermawan Kartajaya kembali menghadirkan perspektif unik yang memadukan budaya Nusantara dengan kebutuhan pemasaran masa kini.
Dalam welcome dinner Indonesia Marketing Association (IMA) pada rangkaian Rakernas–UMKM & Tourism Award di Graha Sawunggaling, Surabaya, Hermawan memaparkan filosofi marketing berbasis karakter empat Punakawan: Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Menurut pendiri MarkPlus itu, konsep marketing tidak cukup hanya kreatif dan humanis, tetapi juga harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
“Marketing sekarang sudah harus menggunakan AI. Tanpa AI, kita akan tertinggal,” tegas Hermawan sambil mengaitkan filosofi Punakawan dengan kebutuhan inovasi digital.
“Marketing itu harus berjiwa Semar, berpikir seperti Petruk, berhati Gareng, dan bersuara seperti Bagong,” tambahnya.
Marketing Berjiwa Semar: Spiritualitas dan Purpose.
Semar sebagai pemimpin Punakawan digambarkan bijak, sederhana, dan kuat secara spiritual. Hermawan menilai bahwa merek pada era digital harus memiliki purpose, bukan sekadar menjual produk.
“Merek yang hebat itu seperti Semar — menjadi pemomong bagi konsumen. Membimbing, membantu, dan memberikan makna,” katanya.
Ia menegaskan bahwa di tengah disrupsi teknologi dan penetrasi AI, purpose yang kuat menjadi fondasi agar brand tetap relevan.
Gareng: Integritas dan Kerendahan Hati di Tengah Kompetisi Digital.
Gareng melambangkan integritas dan anti keserakahan. Hal ini penting di era digital yang serba cepat dan kompetitif.
“Brand jangan sombong, jangan overclaim. Janji harus realistis,” ujar Hermawan.
Menurutnya, teknologi seperti AI harus digunakan untuk meningkatkan kejujuran dan transparansi kepada konsumen, bukan untuk memanipulasi.
Petruk: Kreativitas, Imajinasi, dan Inovasi Teknologi.
Petruk menjadi simbol kreativitas dan visi jauh ke depan.
“Petruk itu simbol inovasi. Di era sekarang, inovasi itu salah satunya adalah AI,” tegas Hermawan.
AI membuka peluang baru dalam membaca tren konsumen, memprediksi pasar, mempersonalisasi komunikasi, dan mempercepat pengambilan keputusan.
“Kalau mau maju, brand harus kreatif dan berani memanfaatkan teknologi,” ujarnya.
Bagong: Komunikasi Blak-blakan dan Engagement di Era Media Sosial.
Bagong yang polos dan jenaka menggambarkan gaya komunikasi yang humanis dan mudah dipahami.
“Marketing sekarang harus seperti Bagong: fun, cepat, spontan, dan mudah dimengerti,” jelas Hermawan.
Dengan hadirnya AI generatif, brand bisa membangun engagement yang lebih cepat, interaktif, dan personal — tetap dengan prinsip kejujuran dan kedekatan ala Bagong.
Empat Punakawan sebagai Pilar Marketing Nusantara di Era AI.
Hermawan merangkum bahwa empat tokoh Punakawan memberikan gambaran lengkap tentang sikap brand modern:
Semar Spiritualitas & Purpose Merek berjiwa dan punya tujuan mulia.
Gareng Kesederhanaan & Kejujuran Marketing etis di tengah disrupsi digital.
Petruk Kreativitas & Imajinasi Inovasi dan pemanfaatan AI secara visioner.
Bagong Komunikasi & Humor Engagement yang humanis dan fun, termasuk lewat AI.
Menutup pemaparannya, Hermawan mengingatkan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan nilai budaya.
“Marketing terbaik tetap marketing yang manusiawi. Tapi sekarang harus ditopang AI agar lebih cepat, relevan, dan efisien.”
Filosofi ini mendapat sambutan hangat dari peserta Rakernas IMA, terutama pelaku UMKM dan pariwisata yang kini dituntut mampu memadukan kearifan lokal Punakawan dengan kekuatan teknologi AI untuk meningkatkan daya saing di era digital.(*)
Editor : Tommy Waworundeng