Opa Malik Laonga (78) dan istrinya, Oma Maria Rondonuwu (61), menutup perjalanan panjang rumah tangga mereka dengan cara yang nyaris tak terpisahkan meninggal di hari yang sama, 31 Desember 2025.
Pagi itu, suasana duka menyelimuti RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Opa Malik dinyatakan meninggal dunia pada pukul 09.15 Wita setelah menjalani perawatan intensif.
Sejak awal sakit, Oma Maria setia mendampingi sang suami, hampir tak pernah beranjak dari sisi tempat tidurnya.
Kepergian Opa Malik menjadi pukulan berat bagi Oma Maria. Rasa kehilangan yang begitu dalam membuatnya mengalami syok berat. Tak berselang lama, tepat pada pukul 10.25 Wita, Oma Maria pun menghembuskan napas terakhir, seolah tak sanggup menjalani hidup tanpa pasangan yang telah menemaninya bertahun-tahun. Terhitung, 41 tahun keduanya membangun bahtera rumah tangga.
Keduanya kini terbaring berdampingan di satu tempat tidur di Rumah Duka Desa Kamangta. Sunyi, namun penuh makna.
Warga yang datang melayat tak kuasa menahan haru melihat dua insan yang bahkan dalam kematian pun memilih untuk tetap bersama.
“Selamat jalan Opa Malik dan Oma Maria. Mereka berdua dikenal sebagai pribadi yang aktif dalam ibadah dan menjaga kerukunan di desa,” ungkap Pnt Inyo Rorimpandey, Pelsus Kolom 18 Jemaat GMIM Imanuel Kamangta dimana opa Malik dan oma Maria berdomilisi dalam gereja.
Bagi keluarga dan kerabat dekat, kisah Opa Malik dan Oma Maria akan selalu dikenang sebagai bukti bahwa cinta sejati benar-benar ada, setia dalam suka dan duka, dan bertahan hingga akhir hayat. Sebuah kisah sederhana, namun meninggalkan jejak yang dalam di hati banyak orang.(ler)
Editor : Lerby Fabio Tamuntuan