MANADOPOST.ID— Kepala Balai Perlindungan Pelayanan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara M. Syachrul Afriyadi, S.Kom, kembali melontarkan peringatan keras kepada warga Sulut agar menghentikan niat bekerja ke Kamboja.
Ia menegaskan, pemberangkatan tenaga kerja ke negara tersebut murni penipuan dan telah menelan banyak korban jiwa.
“Sekali lagi saya ingatkan warga Sulawesi Utara, stop jo ke Kamboja. Jangan kumabal. Sudah berulang kali diberitahu, pemberangkatan ke Kamboja itu penipuan,” tegas Syachrul saat berbincang dengan wartawan Manado Post, Selasa (13/1).
Syachrul mengungkapkan, hingga kini masih ada dua jenazah pekerja asal Sulut yang belum bisa dipulangkan dari Kamboja.
Korban pertama adalah Joko Arifianto, warga Kota Tomohon, yang meninggal dunia pada 29 September 2025. Korban kedua, Hartono Pajama, warga Desa Tungoi I, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, meninggal pada 23 Desember 2025.
“Jangan lagi jadi korban berikut. Kita sayang kalian semua,” katanya dengan nada prihatin.
Ia juga memperingatkan warga agar tidak tergiur bujuk rayu calo yang menjanjikan gaji fantastis. “Kalau ada yang tawarkan gaji ratusan juta, terus bilang ke Kamboja, itu target saya. Saya tangkap,” tegasnya lantang.
Menurut Syachrul, Kamboja, Laos, dan Myanmar bukan negara penempatan resmi bagi pekerja migran Indonesia. Dalam empat bulan bertugas di Manado, ia mengaku sudah menangani empat kasus kematian pekerja migran asal Sulut, dan semuanya berasal dari Kamboja.
“Saya sering ditanya, kenapa orang Manado ini kumabal. Baru empat bulan saya di sini, sudah empat jenazah. Dari mana? Dari Kamboja,” ungkapnya miris.
Ia bahkan mengungkap modus penyelundupan pekerja yang kerap digagalkan di bandara. “Kemarin saya tangkap di bandara. Alasannya mau ke Batam, tapi setelah dicek, tujuannya Kamboja. Saya bilang silakan jalan, tapi ingat, kalau kamu mati dan bermasalah di sana, jangan cari saya,” katanya.
Syachrul membeberkan kondisi kerja yang dialami para korban di Kamboja. Mereka dipaksa bekerja 24 jam, dengan target tinggi. Jika tidak mencapai target dalam seminggu dan ingin pulang, korban harus “kepala ganti kepala”, yakni mengirim anggota keluarga sebagai pengganti, atau membayar puluhan juta rupiah.
“Yang bikin lebih parah, ada komunitas orang Manado di Kamboja yang justru memanggil adik-adiknya dan keluarganya. Padahal kalian itu dijual,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pekerjaan yang dijanjikan sebenarnya adalah scamming dan judi online ilegal. “Tidak ada judi kaya. Yang ditipu itu kita, saudara-saudara kita sendiri. Orang Manado di sana dipakai untuk mempengaruhi orang Manado kirim uang. Itu perjudian,” ungkapnya.
Menutup pernyataannya, Syachrul menegaskan kembali bahwa tidak ada perjanjian kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Kamboja, Laos, dan Myanmar terkait penempatan tenaga kerja.
“Pemberangkatan ke sana tidak resmi. Teman-teman dari BIN juga sedang mengawasi. Sudah ada beberapa target,” pungkasnya. (*)
Editor : Tommy Waworundeng