Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

“Tuhan… Mama Cuma Minta, Mama Mo Kubur Dia”

Tommy Waworundeng • Rabu, 14 Januari 2026 | 14:29 WIB

 

Ibunda korban yang meninggal di Kamboja dan jenazahnya belum bisa dipulangkan
Ibunda korban yang meninggal di Kamboja dan jenazahnya belum bisa dipulangkan

Penulis: Antonius Sangkay

MANADOPOST.ID-Tangisan Mama Opo Pecah di Manado.


Di setiap malam yang sunyi di Manado, tangisan Mama Opo Hartono Pajama nda pernah berhenti. Mama tua itu duduk lemah di sudut rumahnya, memeluk doa sambil menahan sakit yang terus menggerogoti tubuhnya.

Sejak kabar kematian Opo Hartono Pajama datang dari negeri orang, hidup Mama Opo runtuh pelan-pelan. Badannya sakit, jalannya so lemah, tapi tiap malam mama ini bangun, baku dapa deng Tuhan berdoa. Tangannya gemetar, suaranya pecah.

“Tuhan… mama mohon… kirim jo orang baik. Mama so nda kuat. Mama cuma mo kubur anak mama,” tangisnya, suara parau, nafas tersengal menusuk hati.


“Pak… tolong jo Pak… jang bakar kasiang anak mama.....Mama mo lihat dia terakhir kali..... Mama mo kubur dia di Manado. Mama mo peluk dia for terakhir kali…”


Permohonan itu diulang-ulang, terhenti oleh sesak, lalu pecah lagi dalam isak. Bagi Mama Opo, menguburkan Hartono di kampung halaman adalah harga diri seorang ibu—tugas terakhir sebelum ajal menjemput.


“Mama so tua. Mama sakit. Kalau mama mati duluan, siapa mo kubur dia?” ucapnya lirih.
Hari-hari Mama Opo kini hanya penantian dan doa.

Tangisannya bukan sekadar duka, tapi jeritan hati seorang ibu yang hanya menyisakan satu harapan terakhir: anaknya pulang, dimakamkan dengan layak di tanah kelahiran.


Di Manado, tangisan itu terus bergema, memanggil siapa saja yang masih punya rasa kemanusiaan. (*)

Editor : Tommy Waworundeng
#Kamboja #Jenazah #orang tua #Korban