MANADOPOST.ID— Duta Besar Republik Indonesia untuk China, Jauhari Oratmangun, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Sulawesi Utara agar lebih agresif memanfaatkan peluang ekspor ke pasar Tiongkok yang terus berkembang.
Dorongan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama pelaku UMKM Manado dan sekitarnya di Kawasan Mega Mas, Manado, Senin (19/1).
Jauhari menegaskan, pasar China masih sangat terbuka, khususnya untuk produk makanan dan minuman, hasil laut, serta kerajinan berbasis sumber daya alam.
Namun, ia mengingatkan pelaku usaha agar cermat dalam menentukan harga dan skema pembayaran saat bernegosiasi dengan mitra dagang di China.
“Pasar China masih berkembang. Produk Indonesia cukup diminati, tetapi pelaku usaha harus benar-benar memperhatikan harga dan term of payment agar tidak merugikan,” ujar Jauhari.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah UMKM memamerkan produk unggulan berpotensi ekspor, mulai dari olahan ikan dan hasil laut, wastra lokal Sulawesi Utara, vanili, hingga kerajinan berbahan dasar kelapa. Pemerintah, kata Jauhari, siap memfasilitasi melalui perwakilan diplomatik Indonesia di China.
Salah satu pelaku usaha, Suriana dari CV Lyvia Nusa Boga, mengaku terbantu dengan kegiatan tersebut. Ia menyebut perusahaannya saat ini tengah menjalani proses pendaftaran pada General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC), yang menjadi salah satu syarat utama ekspor ke China.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara dan Tengah, Erwin Situmorang, menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap prosedur dan regulasi ekspor. Menurutnya, kesalahan administratif dan minimnya pengetahuan teknis kerap menjadi kendala utama UMKM.
“Ketidaktahuan terhadap regulasi bisa menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, UMKM harus memahami proses ekspor secara detail,” kata Erwin.
Ia juga menyoroti peluang pemanfaatan jalur kargo udara internasional melalui Bandara Sam Ratulangi Manado, khususnya untuk produk bernilai tambah tinggi dan membutuhkan waktu pengiriman cepat.
Dari sisi pelaku usaha, Ketua Apindo Sulawesi Utara, Niko Lieke, mengingatkan bahwa ekspor merupakan proses jangka panjang. Tantangan seperti permintaan diskon besar dari pembeli hingga kompleksitas pendaftaran GACC merupakan bagian dari dinamika pasar China.
“UMKM sebaiknya didampingi dan memiliki mitra atau kakak angkat yang sudah berpengalaman agar bisa masuk pasar China secara berkelanjutan,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), China masih menjadi negara tujuan utama ekspor Sulawesi Utara. Sepanjang 2025, nilai ekspor Sulut mencatat pertumbuhan signifikan dengan kontribusi terbesar berasal dari perdagangan dengan China. Kondisi ini dinilai membuka peluang besar bagi UMKM daerah untuk terlibat langsung dalam rantai pasok global.
Pertemuan yang berlangsung interaktif tersebut juga dihadiri perwakilan APINDO dan Balai Karantina, serta dipandu oleh Amelia Tungka.
Kegiatan ini diharapkan memperkuat kesiapan UMKM Sulawesi Utara dalam menembus pasar internasional, khususnya Tiongkok.
Editor : Ayurahmi Rais