MANADOPOST.ID- Tangisan pilu seorang ibu memecah keheningan. Dengan suara bergetar dan mata sembab, ia memohon kepada siapa pun yang mendengar agar jenazah anaknya dapat dipulangkan ke tanah kelahiran di Sulawesi Utara.
Di balik air mata itu, tersimpan duka yang tak terucap kehilangan seorang anak yang pergi terlalu cepat, jauh dari rumah, jauh dari pelukan keluarga.
Hal ini yang dialami oleh Marcy Derek, orang tua dari Hartono Pajama. Namun doanya kini terwujud. Sebab dari informasi yang diperoleh, proses pemulangan jenazah Hartono Pajama, WNI yang meninggal dunia di Kamboja, kini sementara dilaksanakan.
Doa dan harapan sang ibu itu akhirnya didengar. Anggota DPR RI Rio Dondokambey menangkap jeritan hati seorang ibu yang sedang berada di titik terendah hidupnya. Bukan sekadar laporan atau cerita duka, tetapi sebuah panggilan kemanusiaan.
Tangisan itu mengetuk nurani, mengingatkan bahwa di balik setiap peristiwa tragis, ada keluarga yang hancur dan rindu yang tak terobati.
Perhatian dan respons yang datang memberi secercah harapan di tengah duka mendalam. Bagi sang ibu, bantuan untuk memulangkan jenazah anaknya bukan hanya soal proses administrasi, tetapi tentang memulangkan cinta terakhir agar anaknya bisa kembali ke pangkuan tanah Nyiur Melambai, ke rumah, ke keluarga, untuk beristirahat dengan tenang.
Halnya disampaikan Ma Eng, sapaan ibu dari Hartono Pajama, saat ditemui dirumahnya, Kamis (29/1). Menurutnya dari informasi yang disampaikan ke pihak keluarga, jenazah anaknya akan tiba esok.
"Infonya esok pagi tiba di Manado. Info dari pemerintah desa," katanya dengan harapan.
Dirinya pun langsung menyampaikan teima kasih kepada Rio Dondokambey dan semua pihak yang telah membantu kepulangan jenazahnya anaknya. "Katanya bapak Rio Dondokambey yang bantu. Namun belum tau pasti, cuman dengar-dengar," ungkapnya.
"Terima kasih banyak kepada pak Rio. Pemerintah daerah dan pusat, pemerintah di desa. Terlebih bapak Rio yang sudah menjadi donator kepulangan anak kami. Kami menyampaikan banyak-banyak teima kasih," katanya lagi.(*)
Editor : Reza Abdilah