Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bantuan 2 Juta Pohon Kelapa dari Mentan Potensi Sumbang Triliunan PDRB untuk Sulut Setiap Tahunnya,Ekonom: Asal Pemerintah Serius

Ayurahmi Rais • Selasa, 10 Februari 2026 | 08:05 WIB

 

Warga Sulawesi Utara yang mayoritas petani kelapa, mengeluh anjloknya harga kelapa. Sudah sebulan belum juga naik
Warga Sulawesi Utara yang mayoritas petani kelapa, mengeluh anjloknya harga kelapa. Sudah sebulan belum juga naik

MANADOPOST.ID — 2 juta bibit kelapa yang akan diberikan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman buat petani di Sulawesi Utara, dipastikan akan membawa kesejahteraan bagi masyarakat Sulut yang 50 persen ada keterkaitan dengan kalapa. Tentunya dengan catatan, bantuan tersebut disalurkan dengan baik dan diawasi proses tanam, pemeliharaan hingga masa panennya. 

Walaupun bantuan bibit kelapa ini baru tahap pertama, namun 4 sampai 5 tahun ke depan saat panen, tiap tahun bisa memberi tambahan kontribusi sekira Rp1,2 triliun terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Sulut. 

2 juta Itu baru tahap pertama untuk dua kabupaten saja, Minahasa dan Minsel. Jika semua kabupaten mendapat bantuan masing masing 1 juta bibit, maka 5 tahun ke depan bisa memberi kontribusi tambahan bagi PDRB Sulut mencapai Rp7 triliun.  

Masyarkat Sulut yang mayoritas petani kelapa, dipastikan maju dan sejahtera, dikarenakan kelapa di Sulut itu milik petani langsung. Bukan milik korporasi. Sehingga triliunan uang hasil panen kelapa per tahun itu, diterima dan dinikmati langsung rakyat petani. 

Karena itu komoditas kelapa ini ditegaskan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi Sulawesi Utara. Sebagai kekuatan dan kemandirian ekonomi Sulut. 

Potensi besar tersebut menempatkan kelapa bukan sekadar komoditas pertanian, tetapi kunci strategis dalam mewujudkan Sulut Maju Sejahtera dan Berkelanjutan.

Johanes Tenda, Udi Tamuntuan, Jhony W, Yan Worotikan, Marten S, Yopi, dan petani petani kelapa lainnya pun meminta Pemerintah Provinsi Sulawesi untuk lebih fokus dan konsisten pada visi-misi pembangunan daerah, yakni membawa masyarakat dan daerah Sulut maju sejahtera berkelanjutan. 

Pengamat ekonomi daerah Dr Robert Winerungan menilai, dengan pengelolaan yang tepat mulai dari peremajaan tanaman, peningkatan produktivitas, hingga pengembangan industri hilir, nilai tambah kelapa dapat meningkat signifikan. Tidak hanya dari kopra, tetapi juga dari produk turunan seperti minyak kelapa, VCO, santan, arang tempurung, hingga coco fiber dan cocopeat.

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, pengembangan kelapa secara terintegrasi juga dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja baru, serta memperkuat posisi Sulut sebagai salah satu sentra kelapa nasional dan ekspor. Karena itu, Pemprov Sulut diharapkan menjadikan sektor kelapa sebagai program prioritas lintas OPD, didukung kebijakan anggaran, akses pembiayaan, serta kemitraan dengan pelaku industri dan perbankan.

“Kelapa bukan hanya warisan, tetapi masa depan ekonomi Sulut. Jika dikelola serius dan konsisten sesuai visi-misi daerah, kontribusinya terhadap PDRB akan terus meningkat,” katanya.

Winerungan meyakini kelapa lebih menjanjikan dibandingkan komoditas perkebunan lain seperti cengkih.

Selain pasar yang relatif stabil, kelapa tidak memerlukan perawatan intensif sebagaimana komoditas perkebunan lainnya. Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan di lapangan, khususnya berkurangnya tenaga pemanjat kelapa. "Ke depan, pemerintah perlu mendorong penggunaan teknologi dan alat panen modern untuk menjawab persoalan tersebut," sarannya. 

Lanjutntnya, jika penanaman bibit itu berhasil maka ekonomi Sulut akan semakin kuat. Ia menuturkan keberhasilan hidup tanaman kelapa itu sangat besar.

Dalam hitungan sederhana jika 2 juta bibit pohon ini tumbuh subur dan bisa dipanen, dalam satu pohon rata-rata menghasilkan 30 butir kelapa. Jika harga kelapa Rp5.000 per butir atau per kilogram, maka nilai produksi per pohon mencapai Rp150.000 per panen. Dikali 2 juta pohon, maka akan menghasilkan Rp300 miliar. 

Karena kelapa dapat dipanen empat kali dalam setahun, maka potensi pendapatan per tahun mencapai Rp1,2 triliun. 

"Ini baru sekedar kelapa butir. Belum dihitung jika diolah produk turunan lainnya. Karena keunggulan kelapa terletak pada nilai manfaatnya yang menyeluruh.

Mulai dari buah, air, daging, tempurung, hingga sabut kelapa, seluruhnya memiliki nilai ekonomi dan pasar tersendiri," kuncinya.

Editor : Ayurahmi Rais