Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cerita Letjen Pusung jadi Wakil Kepala BGN, Ditunjuk Langsung Presiden Prabowo

Reza Abdilah • Kamis, 12 Februari 2026 | 23:58 WIB

 

 

Wakil Kepala BGN Letnan Jenderal TNI (Purn) Lodewyk Pusung, saat berada di Grha Pena Manado Post, Kamis (12/2).
Wakil Kepala BGN Letnan Jenderal TNI (Purn) Lodewyk Pusung, saat berada di Grha Pena Manado Post, Kamis (12/2).

MANADOPOST.ID—Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Letnan Jenderal TNI (Purn) Lodewyk Pusung berkesempatan membagikan cerita di Grha Pena Manado Post, Kamis (12/2) kemarin.

 

Dalam balutan Forum Group Discussion (FGD) kaitan efektifitas MBG di Sulawesi Utara, dirinya berkesempatan menjelaskan awal mulanya Badan Gizi Nasional (BGN) ini terbentuk.

 

Lulusan Akmil angkatan 1985 ini menegaskan, awalnya muncul pertanyaan kenapa Jendral TNI dipercaya sebagai Wakil Kepala BGN.

 

"Jadi boleh Wakilnya (BGN) Jenderal, tapi punya ahli gizi banyak. saya punya tiga ahli Gizi di tempat saya. Jadi kalau orang ribut, kok Jendral ngurusin ini (MBG), saya punya ahli gizi. Yang tiap hari memberikan saran dan masukan, saya belajar ke anak kecil ini," tegasnya.

 

Dihadapan para peserta FGD yang terdiri dari berbagai pihak, kata Jenderal kelahiran 27 September 1960 ini, rencana Tuhan sangatlah baik. "Jadi rencana Tuhan baik betul, saya tiba-tiba ada disini. Tadinya tidak direncanakan. Karena orang baik pasti ketemu dengan orang baik," diamini semua peserta FGD.

 

"Saya awali kenapa saya di BGN. Terus terang tahun 2024 bulan Maret akhir, Presiden pak Prabowo baru terpilih, saya dipanggil. Malamnya mereka rapat, saya esoknya dipanggil oleh pak Sjafril. Saya ditelpon malam-malam. Pak Pusung esok ke posko," katanya mengulang sewaktu dirinya ditelepon. "Saya datang ke posko, saya langsung dapat tugas itu. Pak Pusung, perintah pak Prabowo (saat itu Presiden terpilih yang belum dilantik), kamu urus itu Makan Siang Gratis waktu itu," tegasnya bercerita.

 

Sebab ungkapnya, waktu itu belum ada Badan Gizi Nasional. "Belum ada namanya. Karena menurut pak Presiden, saya bisa. Dan saya waktu itu sudah ditunjuk nantinya Wakil Kepala Badan. Terus mulailah saya berpikir gimana. Untung dapatlah kita dapat para ahli gizi. Kita berdiskusi bagaimana, kemudian saya dipanggil pak Syarif," terangnya.

 

"Sebab saya dapat perintah itu, bulan Agustus 2024 kalau bisa sudah ngebul atau masak. Maka saya lapor ke pak Syafril bahwa kalau dari segi waktu ini darurat. Sebab waktu itu masih beberapa orang. Semua bingung mau diapain. Maka saya bilang, karena saya tentara, kalau yang bermain-main dengan darurat kayaknya tentara," tegasnya.

 

Dari situlah dirinya mengkomunikasikan hal tersebut. "Makanya saya beberapa kali ke sini (Manado), mencari lahan di Kodim-kodim itu. Seluruh Indonesia. Itulah kita kira awalnya. Yang tadinya belum ada namanya. Apa badan gizi atau apa, belum. Masih berkecamuk," katanya lagi.

 

Terus apa MBG, atau apa SPPG, masih bingung? Sebab waktu itu ungkapnya, juga direncanakan membentuk para SPPI ini. "Jadilah tiga gelombang. Pertama hampir 1000 orang, namun tidak sampai 1000 orang yang lulus. Itu 7 bulan kita didik," terangnya.

 

"Kemudian SPPI gelombang kedua ada 1062 orang. Kita didik 4 bulan. Baru SPPI gelombang ketiga, ada 30 ribu orang. Kita rencanakan semua," sambungnya.

 

"Sebab maunya pak Presiden itu, dapur ini diawaki oleh anak muda yang benar-benar brilian. IQ mereka minimal 120. Kalau ada kurang-kurang 115, itu paling rendah. Karena saya yang merekrut mereka," tambah Jenderal Bintang Tiga ini.

 

Begitu dapat, langsung dicarikan nama. "Nah begitu dapat, mau dikasih nama. Awalnya sarjana penggerak pembangunan desa, kata beliau. Kata beliau (Presiden), jangan kamu kerdilkan anak-anak itu. Sebab kalu desa kayaknya kok kecil sekali. Akhirnya beliau yang kasih nama mereka. Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, jadilah SPPI," jelasnya terkait pembentukan nama SPPI.

 

"Terus saya bilang bahwa mereka adalah kepala dapur. Namun beliau ngomong lagi, kok Kepala dapur jelek sekali jabatannya. Kemudian dipikir lagi, maka jadilah itu Kepala SPPG. Panjang sekalian. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi," ungkapnya terkait Kepala SPPG.

 

"Nama ini dicari untuk membungkus mereka supaya morilnya tinggi, untuk menyiapkan 2045 ya mereka. Itulah awalnya pembentukan BGN. Maka saya di BGN sudah mau dua tahun. Dari kita tidak tau mau diapain itu," katanya lagi.

 

"Sebab saya kan resminya itu pada saat beliau (Presiden) dilantik, baru saya dilantik. Tapi SK saya, Kepres saya, masih pak Jokowi. Jadi Agustus 2024 sudah ada SK Presiden sebagai Badan Gizi Nasional. Tapi dilantiknya, disumpah pada jaman pak Prabowo," sambungnya lagi

 

Itulah perjuangan kita. "Bersyukur BGN sampai saat ini terus bergerak terus walaupun lambat. Tapi kalau bandingkan dengan Brazil yang butuh 11 tahun untuk bisa kasih makan 10 sampai 15 juta anak. Indonesia sampai detik ini, kita sudah kasih makan 60 juta lebih penerima manfaat. Dengan jumlah dapur 23.144," tegasnya.(rez)

Editor : Angel Rumeen