MANADOPOST.ID- Sulawesi Utara kembali menundukkan kepala. Seorang perempuan tangguh yang pernah berdiri di pusaran sejarah daerah ini berpulang dalam usia 90 tahun.
Ibu Leintje Altje Pantouw bukan sekadar seorang ibu, bukan hanya tokoh organisasi. Ia adalah bagian dari denyut perjuangan Permesta — sebuah bab penting dalam sejarah Sulawesi Utara dan Indonesia.
Di tengah dentum senjata dan ketegangan politik akhir 1950-an, ketika nama-nama besar militer memenuhi ruang-ruang sejarah, ada kekuatan sunyi yang bekerja tanpa sorot lampu. Kekuatan itu bernama Pasukan Wanita Permesta (PWP), dan di dalamnya berdiri sosok Lientje Pantouw sebagai pemimpin pasukan.
Di Balik Garis Depan
Permesta, yang diproklamasikan pada 2 Maret 1957, bukan hanya gerakan militer. Ia adalah ekspresi keresahan daerah terhadap ketimpangan pembangunan dan kebijakan pusat. Dalam pusaran itulah tokoh seperti Ventje Sumual memimpin gerakan bersenjata.
Namun perjuangan tak hanya digerakkan oleh mereka yang memanggul senjata.
Ibu Lientje Pantouw mengorganisir perempuan-perempuan Sulawesi Utara untuk mengambil bagian dalam perjuangan.
Di dapur-dapur umum, di pos-pos logistik, di ruang-ruang perawatan darurat, bahkan dalam jaringan komunikasi internal, perempuan-perempuan ini bekerja dalam disiplin dan keberanian.
Ia memimpin bukan dengan komando keras, melainkan dengan keteguhan dan keteladanan. Dalam suasana serba terbatas, ia menanamkan keyakinan bahwa perjuangan bukan hanya tentang perlawanan fisik, tetapi tentang menjaga semangat, merawat yang terluka, dan memastikan keluarga pejuang tetap bertahan.
Kepemimpinan yang Membumi
Sebagai pimpinan Pasukan Wanita Permesta, Lientje Pantouw memahami satu hal penting: perang bisa menghancurkan mental masyarakat jika tidak ada jangkar sosial. Perempuanlah yang menjadi jangkar itu.
Ia menghimpun ibu-ibu, istri prajurit, dan pemudi untuk terlibat aktif. Mereka dilatih disiplin, diajarkan tanggung jawab, dan dibangun dalam solidaritas. Dalam banyak kesaksian lisan, PWP bukan sekadar organisasi pendukung, melainkan fondasi ketahanan sosial Permesta.
Ia memimpin dengan hati keibuan, namun dengan ketegasan seorang organisator. Di situlah letak kekuatannya.
Sunyi Setelah Badai
Ketika konflik berakhir dan lembaran rekonsiliasi mulai dibuka awal 1960-an, banyak kisah perempuan pejuang perlahan tenggelam dalam narasi besar sejarah nasional.
Nama-nama laki-laki lebih sering tercatat, sementara kontribusi perempuan mengendap dalam ingatan keluarga dan komunitas.
Namun sejarah sejati tidak pernah benar-benar hilang.
Warisan Leintje Pantouw hidup dalam cerita-cerita tentang keberanian perempuan Minahasa. Hidup dalam kesadaran bahwa perjuangan daerah ini bersifat “semesta” — melibatkan seluruh unsur masyarakat tanpa kecuali.
Kepergian Ibu Leintje Pantouw bukan sekadar kabar duka bagi keluarga dan kerabat. Ia adalah kehilangan bagi memori kolektif Sulawesi Utara.
Di usia 90 tahun, ia menutup perjalanan panjang yang pernah bersentuhan langsung dengan arus besar sejarah bangsa. Ia menyaksikan pergolakan, rekonsiliasi, hingga perubahan zaman. Dari masa konflik hingga era demokrasi modern.
Senin 23 February esok, ketika ia dimakamkan di Desa Tombuluan Kecamatan Tombulu Minahasa, tanah Sulawesi Utara menerima kembali seorang putrinya yang pernah berdiri tegak dalam masa paling sulit daerah ini.
Dan mungkin, di tengah keheningan upacara pemakaman itu, kita diingatkan kembali bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh mereka yang berperang di garis depan, tetapi juga oleh mereka yang menjaga kehidupan tetap menyala di belakangnya.
Selamat jalan, Ibu Lientje Pantouw.
Jejakmu adalah bagian dari jiwa sejarah Permesta. (*)