Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Diskusi Panel HUT Manado Post dan 69 Tahun Permesta Tegaskan Permesta Bukan Pemberontak

Jasinta Bolang • Selasa, 3 Maret 2026 | 16:53 WIB

Diskusi Panel bertajuk “Semangat Indonesia Raya Prof. Soemitro” yang digelar Manado Post menghadirkan sejumlah tokoh penting di Sulawesi Utara.
Diskusi Panel bertajuk “Semangat Indonesia Raya Prof. Soemitro” yang digelar Manado Post menghadirkan sejumlah tokoh penting di Sulawesi Utara.

MANADOPOST.ID
— Pemikiran ekonomi nasional yang digagas ekonom besar Indonesia, Sumitro Djojohadikusumo, kembali menjadi bahan refleksi dalam diskusi panel bertajuk “Semangat Indonesia Raya Prof. Sumitro yang Teruntai dalam Benang Emas Sumitronomics dan Prabowonomics Menuju Indonesia Emas.”

Kegiatan yang berlangsung di Grha Pena Manado Post, Senin (2/3/2026), ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-39 Manado Post sekaligus 69 tahun Piagam Permesta.

Diskusi ini juga sekaligus menjadi momentum untuk meluruskan persepsi publik terkait sejarah Permesta. Philip P. Pantouw menegaskan bahwa Permesta bukanlah gerakan pemberontakan. Perlu diluruskan bahwa konflik yang terjadi justru dipicu oleh tindakan militer dari pemerintah pusat terlebih dahulu, sehingga pihak Permesta melakukan langkah pembelaan diri.

Rektor Universitas Sam Ratulangi Oktovian Berty Alexander Sompie memaparkan materi dalam diskusi panel di Grha Pena Manado Post. Tampak: Philip P. Pantouw, Willy Rawung, Elisa Regar, dan Elvira Katuuk
Rektor Universitas Sam Ratulangi Oktovian Berty Alexander Sompie memaparkan materi dalam diskusi panel di Grha Pena Manado Post. Tampak: Philip P. Pantouw, Willy Rawung, Elisa Regar, dan Elvira Katuuk

Diskusi panel tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat hingga dunia usaha di Sulawesi Utara. Hadir sebagai panelis antara lain Ketua Majelis Keluarga Besar Permesta Philip P. Pantouw, Ketua Perhimpunan Tou Minahasa Willy Rawung, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Utara Elvira Katuuk, Rektor Universitas Sam Ratulangi Oktovian Berty Alexander Sompie, serta pengusaha Johny Lieke dari Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Turut hadir dan memberikan sambutan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Ulyas Taha. Diskusi dipandu oleh Direktur Manado Post Tommy Waworundeng sebagai moderator.

Kakanwil Kementerian Agama Republik Indonesia Sulut Ulyas Taha memberi sambutan pada diskusi panel di Grha Pena Manado Post bersama Philip P. Pantouw, Willy Rawung, dan Tommy Waworundeng.
Kakanwil Kementerian Agama Republik Indonesia Sulut Ulyas Taha memberi sambutan pada diskusi panel di Grha Pena Manado Post bersama Philip P. Pantouw, Willy Rawung, dan Tommy Waworundeng.

Dalam forum tersebut, para pembicara menyoroti kembali konteks historis lahirnya Piagam Permesta pada tahun 1957. Piagam tersebut merupakan bentuk koreksi daerah terhadap kebijakan pembangunan nasional pada masa itu, dengan menekankan pentingnya pemerataan pembangunan, keadilan ekonomi, serta penguatan peran daerah dalam pembangunan bangsa.

Ketua Majelis Keluarga Besar Permesta, Philip P. Pantouw menegaskan bahwa pemikiran ekonomi Sumitro Djojohadikusumo memiliki keterkaitan erat dengan semangat yang melatarbelakangi Piagam Permesta.

“Soemitronomics adalah semangat, Prabowonomics adalah gerakan,” ujarnya.

Menurut Pantouw, pernyataan tersebut menggambarkan bahwa Prabowonomics merupakan bentuk eksekusi dari ide dan semangat Sumitronomics, yakni gagasan pembangunan ekonomi nasional yang menekankan kedaulatan ekonomi, penguatan sektor strategis, serta pemerataan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Tou Minahasa Willy Rawung menjelaskan bahwa perkembangan pemikiran ekonomi nasional dapat dilihat sebagai rangkaian “benang emas” yang terus berlanjut dari masa ke masa.

Willy Rawung menjawab pertanyaan peserta dalam diskusi panel di Grha Pena Manado Post, Senin (2/3/2026).
Willy Rawung menjawab pertanyaan peserta dalam diskusi panel di Grha Pena Manado Post, Senin (2/3/2026).

Ia memaparkan bahwa gagasan tersebut dapat ditelusuri melalui beberapa fase penting, yakni Program Benteng pada periode 1950–1957, lahirnya Piagam Permesta pada 1957, Trilogi Pembangunan pada masa Orde Baru, hingga konsep Prabowonomics yang berkembang saat ini menuju Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, konsep Sumitronomics bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, serta stabilitas nasional yang dinamis.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Bappeda Sulawesi Utara Elvira Katuuk menyoroti relevansi nilai-nilai Permesta dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah.

Ia menjelaskan bahwa semangat pemerataan pembangunan dan penguatan daerah yang menjadi inti perjuangan Permesta juga tercermin dalam arah kebijakan pembangunan Provinsi Sulawesi Utara melalui RPJMD 2025–2029.

Menurutnya, pembangunan daerah harus selaras dengan kebijakan pembangunan nasional agar Sulawesi Utara dapat mengambil peran dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Rektor Universitas Sam Ratulangi Oktovian Berty Alexander Sompie menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Piagam Permesta masih memiliki relevansi kuat hingga saat ini.

“Piagam Permesta menjadi salah satu instrumen yang memperkuat negara. Relevansi Piagam Permesta dan gagasan Prabowonomics sangatlah kuat, karena Prabowonomics memiliki konteks modern, memperjuangkan kedaulatan ekonomi, serta mengintegrasikan aspek pertahanan dan keamanan,” jelasnya.

Menurut Sompie, meskipun strategi pembangunan ekonomi dapat berubah mengikuti perkembangan zaman, tujuan utamanya tetap sama, yakni memperkuat kedaulatan ekonomi nasional serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Diskusi panel ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman generasi muda mengenai sejarah Permesta sekaligus memperkuat kesadaran bahwa gagasan ekonomi nasional yang berakar dari sejarah bangsa masih relevan dalam menghadapi tantangan pembangunan di masa depan. (*)

Editor : Jasinta Bolang
#Prabowonomics #Diskusi Panel Semangat Indonesia Raya Prof Sumitro #69 Tahun Permesta #indonesia emas 2045 #Majelis Keluarga Besar Permesta #Philip pantouw #sumitronomics