MANADOPOST.ID – Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Sulawesi Utara Drs Ferry Raymond Mawikere,.M.Hum,.MA, mengungkapkan bahwa secara historis akar berdirinya Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Universitas Permesta yang pernah berdiri di Manado.
Mantan Dekan Fakultas Sastra Unsrat dua periode ini menjelaskan, perjalanan berdirinya universitas negeri terbesar di Sulawesi Utara ini melalui proses sejarah yang panjang dan beberapa kali perubahan nama serta status kelembagaan.
“Berdasarkan sejarahnya, memang benar bahwa salah satu cikal bakal berdirinya Universitas Sam Ratulangi adalah Universitas Permesta, meskipun kemudian mengalami berbagai transformasi kelembagaan,” jelas Mawikere.
Ia memaparkan, embrio berdirinya UNSRAT berawal dari dua perguruan tinggi swasta di daerah Minahasa dan Manado.
Pada periode awal 1954–1957, berdiri dua universitas swasta yakni Universitas Pinaesaan yang didirikan pada 1 Oktober 1954 di Tondano, serta Universitas Permesta yang didirikan pada 23 September 1957 di Manado.
Namun situasi politik pada masa pergolakan Gerakan Permesta menyebabkan perubahan pada lembaga pendidikan tersebut. Pada 1 Agustus 1958, universitas itu berganti nama menjadi Perguruan Tinggi Manado (PTM).
Perkembangan selanjutnya terjadi pada awal 1960-an. Nama PTM kemudian berubah menjadi Universitas Sulawesi Utara Tengah (UNSUT). Ketika statusnya ditetapkan sebagai universitas negeri pada 4 Juli 1961, nama tersebut disingkat menjadi UNISUT.
Perubahan nama kembali terjadi pada 14 September 1965 ketika universitas tersebut resmi menggunakan nama pahlawan nasional Sam Ratulangi, sehingga dikenal hingga kini sebagai Universitas Sam Ratulangi.
“Dengan demikian, Universitas Permesta dapat dipahami sebagai salah satu institusi pendahulu yang kemudian melebur dan berkembang menjadi Universitas Sam Ratulangi seperti yang kita kenal sekarang,” ujar Mawikere yang juga penulis buku sejarah Indonesia yang ditugaskan Menteri Kebudayaan RI Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
Bahkan Ketua Majelis Keluarga Besar Permesta Philip Pantouw menambahkan, bahwa Unsrat itu ada karena salah satu syarat yang diminta Permesta kepada Pemerintah Pusat saat Pusat minta berdamai. Permesta sendiri di belakangnya ada Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo.
"Pembangunan universitas negeri di Manado pada awal 1960-an merupakan bagian dari upaya rekonsiliasi antara pemerintah pusat dan pihak Permesta. Pemerintah pusat membangun universitas negeri pada 1961 sebagai bagian dari respons terhadap aspirasi daerah setelah proses perdamaian dengan pasukan Permesta. Puncak prosesi perdamaian antara pemerintah pusat dan pasukan Permesta sendiri terjadi pada 12 Mei 1961," jelas Pantouw.
Karena itu sangat layak usulan Rektor dan Majelis Keluarga Besar Permesta agar auditorium Unsrat akan diberi nama Auditorium Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo. Karena Prof Sumitro adalah tokoh di belakang Piagam Permesta. (*)
Editor : Tommy Waworundeng