MANADOPOST.ID— Gagasan menjadikan ekonom senior Sumitro Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional terus bergulir.
Dalam panel diskusi yang digelar di Graha Pena Manado Post pada 2 Maret lalu, Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) mengangkat pentingnya menghadirkan bentuk penghormatan nyata berupa monumen atau penamaan fasilitas publik sebagai bagian dari syarat pengusulan gelar tersebut.
Wakil Ketua Tim Pengkaji Gelar Pahlawan Daerah (TP2GD) Provinsi Sulawesi Utara, Raymond Mawikere, menjelaskan bahwa proses pengusulan Pahlawan Nasional tidaklah mudah. Salah satu syarat penting adalah adanya tinggalan fisik atau monumen yang merepresentasikan kontribusi tokoh yang diusulkan.
Merespons hal tersebut, Rektor Universitas Sam Ratulangi, Oktavian Berty A. Sompie, bergerak cepat. Dalam pertemuan bersama MKBP pada 11 Maret, ia menyatakan kesediaannya untuk menamai auditorium kampus yang belum memiliki nama menjadi Auditorium Prof. Sumitro Djojohadikusumo.
“Ada alasan-alasan mendasar yang melatarinya. Selain kebesaran beliau dalam bidang ekonomi, juga relevansi pemikirannya dalam konteks pembangunan bangsa saat ini, serta kemampuannya menjangkau aspek pemerataan kesejahteraan rakyat di masa depan,” ujar Sompie.
Tak hanya itu, pihak kampus juga berencana membangun taman serta menghadirkan patung Sumitro Djojohadikusumo sebagai bentuk penghormatan terhadap sosok yang dikenal sebagai “Begawan Ekonomi” Indonesia tersebut.
Langkah ini disambut antusias oleh MKBP. Ketua MKBP, Philep Pantouw, menyatakan rasa syukur dan optimisme atas dukungan dari Unsrat.
“Kami sangat gembira dan bersyukur. Ini seperti jalan yang direstui Tuhan, karena salah satu syarat untuk menjadikan Sumitro Djojohadikusumo sebagai Pahlawan Nasional bisa lebih cepat terpenuhi,” ungkap Pantouw.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa masih banyak persyaratan lain yang harus dipenuhi. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan saling mendukung dalam upaya tersebut.
“Masih banyak syarat yang harus digenapi. Mari torang semua bergandengan tangan, satu suara, untuk mewujudkan cita-cita ini,” tutupnya.(*)
Editor : Tommy Waworundeng