Manadopost.id -
Mendengar kata Modoinding, sudah pasti semua orang di Indonesia Timur langsung berpikir, DAERAH PENGHASIL SAYUR MAYUR. Ya tempat ini juga identic dengan rasa ‘Dingin’, tempat yang berada di daerah bagian paling selatan Kabupaten Minahasa Selatan ini berada di dataran tinggi, 1000-1100 meter dari permukaan laut. Merupakan daerah yang paling tinggi di Propinsi Sulut ini, sudah pasti lokasi dan cuacanya sangat sejuk dan menarik untuk dikunjungi.
Hortikultura menjadi pegangan hidup juga profesi para penduduk di Modoinding. Agrobusiness sudah sangat dimaksimalkan oleh penduduk setempat, sehingga sejak dari 32 tahun yang lalu sudah di juluki ‘Dapur Indonesia Timur’. Tentunya ini sangat beralasan, karena hampir 70% suplai bahan dapur, dari rempah-rempah sampai sayur-sayuran di produksi dari lembah Modoinding dimana per tahun 2012 Kecamatan ini sudah mempunyai 10 Desa.
Data yang di dapat sepanjang minggu ini, untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri tahun 2026 ini telah terjadi pengeluaran/transportasi keluar dari lembah Modoinding ke seluruh Propinsi di Pulau Sulawesi, Maluku Utara, Maluku sampai ke seluruh Tanah Papua. Kentang krang lebih 19,667 Karung dimana perkarung nya seberat 60kg , Kol -/+ 160,000 biji, Sawi Putih -/+ 200,000 biji, Wortel -/+ 12,500 karung dimana perkarungnya seberat 40 kg. Begitu juga komoditas lainnya seperti Labu Siam, Labu Kuning(Sambiki), Buncis, Tomat, cabai keriting, cabai, bunga kol, brokoli dan lain sebagainya.
Per hari dari 10 Kampung dan kampung tetangga di Kabupaten tetangga Bolaang Mongondow dan Bolaang Mongondow Timur, di dapat informasi bahwa semua komoditas di atas di transportasikan ke Makassar, Kendari, Palu, Gorontalo. Yang di angkut dengan container dan mobil kas terbuka lainnya di kirimkan ke Ternate, Tidore, Ambon, Sorong Monokwari, Fakfak, Biak, Jayapura, Timika sampai ke Merauke.
Untuk hal ini para petani dan pelaku agrobisnis sangat mengharapkan adanya pendampingan dan penguatan kelompok tani terlebih ada kendala Kelangkaan Pupuk dan Pestisida, dimana sangat mengganggu volume produksi atas permintaan Pasar Indonesia Timur.
Untuk mengantisipasi prediksi BMKG bahwa akan ada Panas yang Dahsyat maka sangat di perlukan pengaktifan lagi sumber2 mata air, tambahan tractor dan benih. Sehingga akan bisa memenuhi permintaan pasar di waktu-waktu yang akan datang.
Jusuf Kalengkongan sebagai Pemerhati dan penggiat Pengembangan Potensi Pertanian dan Kesehatan Masyarakat sangat berharap agar Kementerian Pertanian boleh membantu situasi para petani dan pebisnis agrikultur di Modoinding Minahasa Selatan ini. Khususnya yang sangat mendesak adalah Pembuatan Bibit Kentang G-0 (G-nol) di Modoinding ini oleh Petani sendiri, yang mana saat ini para Petani Modoinding masih berharap dari produksi Bibit Kentang dari Pulau Jawa.
(JK )