MANADOPOST.ID– Ketua Majelis Keluarga Besar Permesta (MKBP) Philip Pantouw mengaku sangat kehilangan atas meninggalnya sejarawan asal Sulawesi Utara, Drs Raymond Mawikere M.Hum, yang dikenal sebagai salah satu penulis dalam buku Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 5.
Menurut Pantouw, almarhum merupakan sosok yang memiliki kepakaran mendalam dalam sejarah nasional maupun sejarah lokal, termasuk sejarah Permesta. Almarhum juga mengungkap Universitas Permesta adalah cikal bakal lahirnya Universitas Sam Ratulangi.
“Kami sangat kehilangan. Saya shock pagi pagi dengar kabar Pak Raymod dipanggil Tuhan. MKBP kehilangan karena Pak Raymond juga berperan penting dalam team kami untuk proses pengajuan Pahlawan Nasional buat Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo. Karena almarhum juga merupakan wakil ketua Tim Pengkaji Gelar Pahlawan Daerah (TP2GD) Provinsi Sulawesi Utara yang salah satu tugasnya, memproses pengusulan gelar pahlawan nasional," ujar Pantouw.
Beliau bukan hanya akademisi, almarhum juga adalah Ketua Masyarakat Sejarah Indonesia. "Karena itu almarhum merupakan penulis sejarah yang memberi kontribusi besar dalam memperkaya narasi sejarah Indonesia, sejarah Minahasa, termasuk sejarah Permesta dan Unsrat," ujarnya.
Pantouw menjelaskan, keterlibatan Mawikere dalam penulisan buku tersebut merupakan bagian dari upaya nasional yang diinisiasi oleh Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, untuk menulis kembali dan melengkapi sejarah Indonesia secara lebih komprehensif.
Dalam proyek tersebut, Mawikere menjadi salah satu sejarawan dari sekian sejarawan di Indonesia yang dipercaya menyumbangkan pemikirannya.
Buku Indonesia dalam Arus Sejarah Jilid 5 yang diterbitkan oleh Ichtiar Baru van Hoeve pada 2011 ini mengulas secara mendalam periode penting kebangkitan nasional pada awal abad ke-20.
Dengan ketebalan 436 halaman, buku ini mendokumentasikan perjuangan kaum terpelajar melalui organisasi politik dan gerakan massa dalam melawan kolonialisme, diskriminasi sosial-budaya, hingga lahirnya cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Sebagai (dua periode) mantan Dekan Fakultas Sastra di Universitas Sam Ratulangi, Mawikere turut menulis bagian penting dalam buku tersebut.
Jilid ini terdiri dari 14 artikel yang disusun secara kronologis oleh para sejarawan, membahas dinamika kebangsaan sejak akhir abad ke-19 hingga menjelang masa pendudukan Jepang.
Fokus utama jilid ini adalah peralihan dari perjuangan kedaerahan menuju pergerakan nasional yang lebih terorganisir, ditandai dengan lahirnya berbagai organisasi modern seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, hingga Perhimpunan Indonesia.
Pantouw menambahkan, buku tersebut menjadi rujukan penting dalam memahami bagaimana kaum intelektual pribumi mulai membangun kesadaran kebangsaan serta memperjuangkan persamaan hak dan kemerdekaan.
“Kontribusi almarhum dalam penulisan sejarah nasional akan selalu dikenang. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kita tou Minahasa dan Sulawesi Utara, tetapi juga bagi Indonesia,” pungkas Pantouw sambil menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian Raymond Mawikere dan berharap Tuhan Yesus memberi kekuatan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. (*)
Editor : Tommy Waworundeng