Penulis: Philip P Pantouw (Ketua Umum MKB-Permesta) dan Willy H Rawung (Perhimpunan Tou Minahasa)
MANADOPODT.ID-Dibandingkan generasi kami yang lahir tahun 1946, usia Rektor UNSRAT Prof.Dr.Ir. Oktovian Berty Alexander Sompie dan Kepala Bappeda Prov. Sulut Dr. Elvira Mercy Katuuk, ST.ME, sudah tentu jauh lebih muda. Mereka adalah generasi baru yang lahir belakangan, belasan dan mungkin puluhan tahun setelah Piagam Permesta ditandatangani sekaligus dideklarasikan oleh Letkol Herman Nicolas (Ventje) Sumual dan 50 tokoh Indonesia Timur di Makassar pada tanggal 2 Maret 1957.
Walau terpisah rentang waktu cukup panjang, namun materi kedua ilmuwan itu cukup mengejutkan sekaligus membanggakan. Betapa tidak, dalam Diskusi Panel di Manado Post 2 Maret 2026 yang lalu bertema *“Semangat Indonesia Raya Prof. Sumitro Teruntai dalam Benang Emas Sumitronomics dan Prabowonomics Menuju Indonesia Emas 2045”*. Kedua teknokrat Minahasa ini, mencerna pemikiran rasional dan cerdas dari gagasan yang terkandung dalam Piagam yang dicetuskan 69 tahun lalu. Seingat kami, materi atau kami menyebutnya ‘testimoni’ ini, adalah yang pertama kali disampaikan resmi kepada publik oleh otoritas universitas dan birokrasi Sulut.
Testimoni dua teknokrat ini mencerminkan pemikiran rasional dan cerdas dari jaman ‘now’, berpikir global namun nasionalis, searah jaman keterbukaan era sosial media. Sebagai ilmuwan, Sompie dan Katuuk memandang gagasan yang terkandung dalam Piagam Permesta 69 tahun lalu - yang merupakan pemikiran Dr. Sumitro - secara oyektif dan jernih. Memisahkan gagasan murni Piagam Permesta sebagai konsep ekonomi politik otonomi daerah dan pemerataan pembangunan. Melepaskannya dari persepsi politik praktis komplikatif yang dibangun untuk memberangus Piagam Permesta dalam diksi ‘pemberontak’.
Prof. Sompie, yang memilih judul *Relevansi Substansi 'Piagam Perjuangan Semesta' - dalam Perspektif Soemitronomics, Trilogi Pembangunan, dan Prabowonomics (Era PRAGIB)*, menegaskan Piagam Permesta sebagai landasan ideologis dan strategis perjuangan nasional, yang menekankan kedaulatan, kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Ditegaskannya, Piagam Permesta relevan dalam dinamika kebijakan ekonomi lintas rezim dan lintas era. Menjadi benang merah kebijakan ekonomi nasional, transformasi strategi, namun dengan tujuannya tetap: kedaulatan dan kesejahteraan bangsa. *Bravo Prof. Sompie!*
Dr. Katuuk, yang memilih materi *‘Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Provinsi Sulawesi Utara - Relevansi dengan Piagam Permesta’*.
Bahkan menguraikan Ekonomi Benteng 1950-1957 (Soemitronomics) relevan dengan Piagam Permesta. Ia menyebutkannya sebagai *‘sama-sama berorientasi pada nasionalisme ekonomi’*. Kemudian keterkaitan Trilogi Pembangunan Ore Baru dan relevansinya dengan Permesta disebutkannya sebagai unsur “pemerataan hasil pembangunan” yang menjawab tuntutan Permesta tentang keadilan distribusi ekonomi. Bahkan Katuuk menjelaskan *Prabowonomics relevan dengan Piagam Permesta, dan menyebutkan pemda Sulut telah mewujudkan tuntutan Piagam dalam Kebijakan Pembangunan Sulawesi Utara 2025–2029*.
Ia menyebutkan antara lain Desentralisasi Ekonomi & Hilirisasi: kebijakan Hilirisasi Prabowo-Gibran yang bertujuan agar nilai tambah sumber daya alam tetap berada di daerah, melalui investasi pabrik dan penyerapan tenaga kerja lokal. Ia menjelaskan visi Prabowo-Gibran membangun dari desa dan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) sejalan dengan aspirasi Permesta yang menginginkan perhatian pembangunan tidak hanya berpusat di Pulau Jawa. Lalu, ketahanan pangan & kemandirian lokal, program yang mencerminkan semangat kemandirian ekonomi wilayah yang dulu menjadi salah satu tuntutan kesejahteraan dalam Piagam Permesta. Ia juga menekankan dorongan untuk menghidupkan kembali koperasi di tingkat desa selaras dengan model ekonomi kerakyatan yang diinginkan oleh para pejuang Permesta di masa lalu untuk meningkatkan daya saing ekonomi lokal.
Secara esensial, menurut Dr. Katuuk, melalui pendekatan integrasi nasional dan pemerataan ekonomi yang sistematis, kebijakan Prabowo-Gibran sangat relevan dengan Piagam Permesta terkait ketimpangan dan pemerataan Pembangunan. Ia menambahkan 8 misi Pemda Sulut menuju Sulawesi Utara maju, sejahtera dan berkelanjutan di tahun 2045, tidak lain adalah perwujudan substansial Piagam Permesta yang merupakan buah pikir Sumitronomics dan terwujud dalam Prabowonomics. Bravo Dr. Katuuk!
Pada Seminar Nasional 9 April di UNSRAT, yang diprakarasai oleh UNSRAT dan MKB-Permesta, peran “Begawan Ekonomi” dan salah satu arsitek ekonomi Indonesia ini ditegaskan oleh Kepala LPEM FEB UI Chaikal Nuryakin Ph.D., yang menguraikan peran beliau yang sangat besar bagi bangsa dan negara. Bergelar Ph.D. dari Nederlandsche Economische Hogerschool, Rotterdam (1943) dengan disertasi Het volkscrediet wessen in de Depressie (Sistem Kredit Rakyat di Masa Depresi). Doktor ekonomi pertama Indonesia, Menteri dalam 5 Kabinet, mendirikan FE UI (1950), LPM UI (1953), ISEI (1955), telah melahirkan ekonom-ekonom muda melalui Ford Foundation, yang kemudian menjadi menteri-menteri di era Orde Baru. Peran beliau ditegaskan secara historis oleh Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, dan ia secara pribadi merekomendasikan ayahanda Presiden Prabowo Subianto itu sebagai Pahlawan Nasional.
Mengingat peran beliau juga dihargai dan diapresiasi oleh para intelektual di Jakarta, saya mengusulkan agar MKB-Permesta melangkah lanjut untuk penguatan, dengan melakukan lagi Seminar Nasional di Jakarta. Mengundang narasumber antara lain, Menteri Keuangan Dr.Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, Muhamad Chatib Basri, Ph.D. Menteri Keuangan (2013-2014) yang menjabat Visiting Scholar di Harvard Center for International Development (Harvard Kennedy School), dan Denni Puspa Purbasari, SE.,M.Sc.,Ph.D ekonom senior dari Universitas Gajah Mada. Sangat diyakini para ekonom yang memiliki reputasi ini akan merekomendasikan pengusulan Prof. Dr. Sumitro sebagai Pahlawan Nasional.
Akhirnya, kita juga mencatat bahwa gagasan yang diperjuangkan Program Benteng dan Piagam Permesta 2 Maret 1957 “terlalu cepat lahir”, mendahului jamannya. Seperti sambutan *Hasyim Djojohadikusumo* pada Perayaan Paskah Nasional 8 April di Manado, *“Prof Sumitro adalah salah satu pemimpin Permesta. Tuntutan Permesta baru terwujud dua puluh tahun kemudian”*.
Ucapan yang membenarkan Ludwig von Mises Ludwig von Mises (1881–1973) ekonom, filsuf, dan teoretikus terkemuka asal Austria: *“The history of mankind is the history of ideas.”* Dan last but not least, ucapan selamat yang tulus kepada Prof. Sompie atas penamaan Auditorium UNSRAT yang megah dengan nama Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Semoga gedung ini menjadi inspirasi generasi "now" (Gen Z dan Gen Y) untuk meneladani intelektualitas beliau. Terutama dalam menyongsong peran sebagai "game changer" ketika Indonesia memasuki bonus demografi pada tahun 2030-2040 dimana penduduk usia produktif akan mencapai sekitar 64% dari total populasi. (*)
Editor : Tommy Waworundeng