Bernostalgia di Ibadah Paskah dan Hari Anak Sinode GMIM, Ketua BPMS Pdt Adolf Wenas: Saya Engku Sekolah Minggu Sejak 1987, ASM Menentukan GMIM Kedepan
Reza Abdilah• Sabtu, 25 April 2026 | 12:24 WIB
Pdt Adolf Wenas bersama jajaran Komisi Pelayanan Anak Sinode GMIM saat bernostalgia menyanyikan lagu ASM
MANADOPOST.ID- Ketua BPMS GMIM Pdt Dr Adolf Wenas bernostalgia saat memimpin ibadah Paskah Raya dan Hari Anak Sinode GMIM tahun 2026, Sabtu (25/4).
Hal ini disampaikannya di hadapan belasan ribu Anak Sekolah Minggu (ASM) dan Guru Sekolah Minggu (GSM) yang hadir di area Karpet Biru, di wilayah pelayanan GMIM Mapanget Satu.
"Pendeta engku sekolah minggu sejak 1987," katanya dalam kegiatan yang dipimpin langsung Ketua Komisi Pelayanan Anak Sinode (KPAS) GMIM Pnt Michael Mait dan jajaran.
Pdt Adolf bahwa bernostalgia dengan lagi ASM dengan lagu 'Bagaimana Aku Harus Mengatakannya'. Sukacita dan keceriaan kala dinyanyikan bersama belasan anak, lengkap dengan koreografi khas lagu tersebut.
"Pdt teringat berapa puluh tahun lalu. Waktu jadi GSM. Maka paling tidak, banyak tahu cerita anak dan lagu anak. Di masa itu, Pdt jadi guru sekolah minggu, melayani anak-anak, jemput di rumah masing-masing," ungkapnya.
Maka tegas Pdt Adolf, dari pengalaman pelayanan sebagai GSM, terketuk karakter dirinya sebagai hamba Tuhan. "Jujur Pendeta mau katakan dari situ dibentuk karakter sebagai hamba Tuhan. Jadi pembina remaja, penatua dan pendeta, saya kini dipercaya jadi ketua BPMS. Itu semua kemurahan Tuhan," tegasnya.
"Saya terbentuk jadi pendeta yang taat dan setia, dimulai dari pelayanan sebagai Guru Sekolah Minggu. Luar biasa pengajaran di sekolah minggu. Mengajar dan mengasihi anak, maka sangat terasa kasih itu," tambahnya.
"Ini mengingatkan kita bahwa jangan pandang enteng untuk mengajar anak sekolah minggu. Tidak gampang. Anak-anak punya jiwa tersendiri," sambung Pdt Adolf.
Namun ini tegas gereja. "Melihat ASM sebagai tanggung jawab. Sebab basis bagi pengkaderan. Saya bisa jadi Ketua Sinode tidak lepas dari jadi GSM dulu," terangnya.
Bentuk karakter ASM. "Karena dari kecil sudah kenal Tuhan, maka sampai besar dia tidak akan meninggalkan gereja. Ini basis pengajaran. Halnya bangsa Israel yang diingatkan kasih Tuhan. Maka GMIM bagus kedepan tergantung peran dan pengajaran kita kepada anak-anak. Tuhan akan membentuk karakter dan ini penting," tegasnya lagi.
Seperti Petrus muda, katanya, karena dalam pemberitaan injil diancam untuk dibunuh. "Petrus berani karena dia telah dibentuk oleh firman Tuhan. Dia berani katena dia telah memiliki kuasa kebangkitan itu," terangnya.
Maka butuh iman yang kuat. "Ini tugas kita. Firman Tuhan mengingatkan jadilah saksi seperti Petrus untuk guru dan ASM. Gereja membutuhkan itu. Ketika ada orang seperti Petrus, maka kita bisa merasakan kebenaran firman," katanya lagi.
Pdt Adolf menegaskan, tugas GSM untuk mengajarkan ASM menjadi saksi. "Pengorbanan sebagai GSM dan pelayanan Tuhan. Ini tugas kita semua. Marilah kita seperti Petrus. Beritakan firman. Membangkitkan semangat dan membentuk karakter seperti Petrus," tambahnya lagi.
"Kalau pengajaran ASM diperhatikan, maka di situlah kekuatan gereja ini. Mereka yang akan menentukan GMIM kedepan. Maka mari kita bersama untuk membentuk ASM menjadi saksi hidup kedepan. Cinta akan gereja, cinta akan Tuhan, adalah modal kita dalam melaksanakan kesaksian," ungkap Pdt Adolf.(*)