Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Hanya Tumbuh 5,54 Persen, PE Sulut Triwulan I- 2026 Tidak Lagi di Atas Nasional, Pemerintah Wajib Evaluasi

Ayurahmi Rais • Rabu, 6 Mei 2026 | 17:59 WIB
Grafik PE Sulut sejak 2010 hingga 2024.
Grafik PE Sulut sejak 2010 hingga 2024.

 

 

MANADOPOST.ID –Perekonomian Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pada triwulan I-2026 tumbuh 5,54 persen  (y-on-y). 

Berdasarkan data BPS, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulut atas dasar harga berlaku pada triwulan I-2026 mencapai Rp51,67 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 tercatat sebesar Rp28,05 triliun. 

Kepala BPS Dr. Watekhi menjelaskan, dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi secara tahunan terjadi pada lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 20,85 persen, didorong oleh meningkatnya aktivitas pariwisata dan kuliner.

 "Sementara dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 7,89 persen seiring realisasi belanja pemerintah di awal tahun," jelasnya.

Di saat bersamaan, Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti juga merilis pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh 5,61 persen. Sehingga berdasarkan kompilasi data historis, ekonomi Nasional mampu melesat di angka 5,61%, sementara Sulut tertahan di angka 5,54%. Selisihnya tipis sekira (0,07%). 

Padahal tahun ini target pertumbuhan ekonomi Sulut berkisar di angka 6 hingga 7 persen. 

Berdasarkan penelusuran Manado Post, selama 15 tahun terakhir, Sulut hampir selalu mengawali tahun dengan kepala tegak. Bahkan PE Sulut pernah di angka 7% hingga 7,8% pada periode 2010-2013. Namun tahun ini berbeda.  

Pengamat Ekonomi Sulut Dr Robert Winerungan menilai hal ini jadi tanda awas. Karena selama ini Sulut selalu di atas nasional. Bahkan Sulut menjadi roda penggerak ekonomi kawasan Indonesia Timur.

"Tapi saat ini justru menjadi beban, karena Pertumbuhannya melambat. Hal ini karena kontribusi PDRB Sulut kecil untuk PDB nasional. Selain itu ekonomi kita juga tidak jalan dengan baik," sorotnya. 

Sehingga dia berharap, pemerintah harus membuat program strategis yang jelas dan terukur agar ekonomi Sulut bisa lebih tinggi dari nasional. "Ini persoalan serius. Triwulan II sampai IV nanti Sulut harus percepat pertumbuhan ekonomi," sarannya.

Saran yang sama juga diutarakan Dr Vicky Masinambow. Dosen FEB Unsrat itu meminta agar pemerintah mengevaluasi hal ini. Ia meminta agar program stratr pusat harus dimaksimalkan. Seperti Hilirisasi, Koperasi, MBG dan lain-lain.  

"Seingat saya ini baru dua kali dalam sejarah selama tahun 2000 an ekonomi kita di bawah nasional. Jika dibiarkan ini bahaya. Jadi harus evaluasi," katanya.  

Redaksi Manado Post menganalisa ada beberapa faktor yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026. Antara lain: 

Hilirisasi yang masih Lamban: Di saat pemerintah pusat dan wilayah lain agresif mendorong hilirisasi industri yang mendongkrak ekonomi nasional ke angka 5,61%, Sulut dinilai masih berkutat pada ekspor komoditas mentah yang harganya fluktuatif di pasar global. Kedepannya harus ada transformasi ekonomi ke sektor industrialisasi. Jika selama ini lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbessr masih pertanian, kedepannya harus bisa fokus pada industri pengolahan atau industrialisasi berbahan baku produk unggulan Sulut, contoh kelapa dan perikanan.   

​Penyakit Klasik SiLPA: Angka pertumbuhan yang tertahan ini kembali mengarahkan telunjuk pada manajemen fiskal daerah. Tingginya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) di 15 kabupaten/kota membuktikan bahwa pemerintah daerah belum mampu "membelanjakan" uang rakyat secara produktif untuk menggerakkan roda ekonomi di awal tahun.

​Investasi yang Kurang Menggigit: Melambatnya Sulut di bawah nasional mengindikasikan bahwa daya tarik investasi di daerah ini mulai tersalip oleh wilayah lain yang lebih progresif dalam menawarkan kemudahan infrastruktur dan insentif industri.

​Kejadian di Triwulan I-2026 ini harus dianggap sebagai "Lampu Kuning". Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota tidak bisa lagi hanya mengandalkan narasi "Sulut tangguh pandemi" atau "lebih tinggi dari nasional" yang selama ini menjadi tameng politik.

​"Data tidak berbohong. Ketika Nasional melaju lebih kencang, itu artinya daerah lain sedang berlari, sementara Sulut mungkin sedang berjalan santai. Jika tidak ada terobosan di sektor industri baru dan percepatan belanja pemerintah, predikat Sulut sebagai pemain utama ekonomi timur akan tinggal sejarah," tegas praktisi ekonomi lokal.

Anomali 2026 adalah bukti bahwa model ekonomi lama Sulawesi Utara butuh penyegaran total agar tidak terus tertinggal oleh akselerasi pusat. Menarik untuk ditunggu apakah di Triwulan II nanti Sulut bisa melakukan rebound (pembalikan) seperti pola tahun-tahun sebelumnya, atau justru tren Nasional tetap memimpin.

Jika dalam pertumbuhan nasional konteibusk pdrb sulut ke PDB nasional lebih kecil. Artinya secara nasional nd ada geliat untuk maju secara ekonomo. Nomonal PDRB kecil. Ekonomi melambat. Makanya pemda mendorong agar pertumbuhan bisa di ayas nasional. Kontribusi PDRB kecil ke nasional. Padahal kontribusi semakin tinggi.  

 

 

Editor : Ayurahmi Rais
#PE Sulut Triwulan I 2026 #PE Sulut di bawah Nasional #PE Sulut Melambat #pertumbuhan ekonomi