MANADOPOST.ID — Ketua Majelis Keluarga Besar Permesta, Recky Langie, menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
Karena itu, menurutnya, sudah saatnya Prof. Sumitro Djojohadikusumo mendapatkan pengakuan negara sebagai Pahlawan Nasional atas jasa dan pemikirannya dalam membangun fondasi ekonomi Indonesia.
Dalam pemaparannya, Recky menyebut Prof. Sumitro sebagai sosok monumental yang telah meletakkan dasar struktur perekonomian nasional sejak masa awal kemerdekaan.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Hari ini semua yang hadir memberikan pengakuan terhadap figur besar ini untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional,” ujar Recky.
Menurutnya, kecerdasan Prof. Sumitro sudah terlihat sejak usia muda. Pada usia 27 tahun, ia berhasil meraih gelar doktor di Rotterdam, sebuah pencapaian luar biasa pada masanya. Recky bahkan menyebut hanya sedikit universitas dunia yang mampu melahirkan doktor di usia muda seperti itu, sebagaimana juga pernah diraih Dr. Sam Ratulangi.
Recky menjelaskan, Prof. Sumitro tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi terus melahirkan gagasan dan desain baru mengenai ekonomi Indonesia ketika struktur ekonomi nasional masih belum memiliki kepastian arah.
“Prof Sumitro melahirkan teori ekonomi tentang hilirisasi dan ekonomi kerakyatan. Saat ini Presiden Prabowo juga berbicara mengenai ekonomi konstitusi. Banyak konsep yang sebenarnya berakar dari pemikiran Prof Sumitro,” katanya.
Ia menyebut konsep perubahan Jawatan menjadi Perusahaan Negara hingga berkembang menjadi Perusahaan Umum (Perum) merupakan bagian dari desain ekonomi yang dirancang Prof. Sumitro.
Selain itu, konsep ekonomi kerakyatan yang digagasnya diwujudkan melalui kebijakan kredit kerakyatan dan program Benteng, yakni upaya menciptakan pengusaha pribumi dengan memberikan kemudahan fasilitas nasional kepada pelaku usaha lokal yang saat itu kalah dominan dibanding perusahaan asing.
“Keputusan bijak ini melahirkan pengusaha nasional. Itu berawal dari konsep Prof Sumitro,” ungkap Recky.
Menurutnya, konsep tersebut hingga kini masih relevan dan bahkan menjadi bagian dari gagasan pembangunan nasional yang terus dikembangkan pemerintah.
Recky juga menilai pemikiran ekonomi Prof. Sumitro memberi pengaruh besar hingga ke tingkat global. Ia menyebut konsep hilirisasi dan penguatan ekonomi nasional yang diterapkan China memiliki dasar pemikiran serupa dengan teori yang pernah dirumuskan Prof. Sumitro, meski telah dimodifikasi sesuai kebutuhan negara tersebut.
“Kita bisa melihat bagaimana China kini menguasai sekitar 60 persen bisnis pertambangan dunia. Dasarnya adalah pemikiran ekonomi yang monumental,” ujarnya.
Tak hanya itu, Recky menambahkan bahwa gagasan Prof. Sumitro juga menjadi dasar penyusunan GBHN, APBN, pembentukan sistem perbankan nasional, hingga pendirian Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia beserta beberapa cabangnya yang melahirkan banyak ekonom Indonesia.
“Beliau juga menjadi cikal bakal perbankan nasional dan pernah menggagas Bank Tonsea,” katanya.
Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tekanan politik saat itu, Prof. Sumitro juga aktif melakukan lobi investasi ke mancanegara demi membuka peluang perdagangan dan investasi asing bagi Indonesia.
“Dengan penuh semangat beliau pergi ke luar negeri untuk melobi investasi asing demi membangun ekonomi bangsa,” jelas Recky.
Ia menilai semangat pemerataan pusat dan daerah yang dahulu diperjuangkan melalui gagasan Permesta kini mulai diwujudkan pemerintah.
“Permesta menggagas pemerataan pusat dan daerah. Sekarang gagasan itu dijalankan pemerintah. Negara akan kuat apabila struktur ekonominya baik dan merata,” ujarnya.
Di akhir penyampaiannya, Recky mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperjuangkan pengakuan terhadap jasa Prof. Sumitro Djojohadikusumo.
“Kita sebagai bangsa yang berhikmat harus memberikan pengakuan kepada Prof Sumitro Djojohadikusumo. Negara besar adalah negara yang menghargai jasa pahlawannya,” tutupnya. (*)
Editor : Tommy Waworundeng