Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Prof Sumitro Meletakkan Dasar Perekonomian Indonesia: Ekonomi Kerakyatan dan Ekonomi Pancasila, Berevolusi ke Ekonomi Konstitusi

Reza Abdilah • Sabtu, 30 Mei 2026 | 13:57 WIB
Dekan FEB Unsrat Manado saat memaparkan materi di peringatan 109 tahun Prof Sumitro Djojohadikusumo di Grha Gubernuran Bumi Beringin Manado
Dekan FEB Unsrat Manado saat memaparkan materi di peringatan 109 tahun Prof Sumitro Djojohadikusumo di Grha Gubernuran Bumi Beringin Manado

 

MANADOPOST.ID- Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unsrat Manado Victor Lengkong menegaskan bahwa Prof Sumitro Djojohadikusumo merupakan sosok ekonom agung. 

Hal ini merupakan bagian penting dalam pemaparan materinya di momentum peringatan 109 tahun Prof Sumitro di Grha Gubernuran Bumi Beringin Manado, Sulawesi Utara, Jumat (29/5). 

Dirinya menyampaikan bahwa Prof Sumitro mendesain struktur ekonomi secara konsep dan praktis, secara terpisah dari pandangan masa ekonomi yang berlaku di dunia pada waktu itu sampai sekarang. 

"Ekonomi kerakyatan, ekonomi Pancasila, berevolusi ke ekonomi konstitusi yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto," katanya. 

Lanjutnya ada tiga pilar utama arsitektur pemikiran Prof Sumitro. Yakni keselarasan sistem, kebijaksanaan afirmasi dan partisipasi akar rumput. Ini jadi dasar Jakarta School of Ekonomics," ungkapnya. 

Dalam pandangan Prof Sumitro, kata Lengkong, baik pemikiran ekonomi dari Chicago School, termasuk London School, maka dirinya membuat aliran tersendiri. "Ini jadi kebanggaan tersendiri, dengan ciri khas kekayaan politik budaya dari bangsa sendiri," terangnya. 

Prof Sumitro secara kelembagaan mewariskan murid dan pengikut yang jadi konseptor fondasi kuat kebijakan ekonomi di masa orde baru.

Seperti membentuk Fakultas Ekonomi UI, memperkuat Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. "Dan salah satu muridnya jadi Dekan FEB Universitas Hasanuddin Hendrikus Kandou. Oleh beliau diminta mendukung FEB Unsrat. Yang sempat jadi Dekan dan Rektor Unsrat," ungkapnya. 

Dirinya menegaskan bahwa para ekonom daerah dan akademisi Sulut adalah bagian dari generasi Prof Sumitro. 

"Delapan pilar, pertama ekonomi politik berbasis realita. Negara kepulauan haruslah ekonomi kita untuk mencapai tujuan kesejahteraan. Maka ada konsep pemerataan, pembangunan daerah tertinggal dan konsep lainnya," katanya lagi. 

Dari anti Fatalism, sampai tiga pilar pembangunan. "Bagaimana mekanisme pasar bisa berjalan dengan sempurna. Barang bisa masuk ke pelosok daerah. Karena pemikiran beliau, tidak boleh hanya didasarkan para stuktur pasar bebas. Juga harus untuk pemerataan pembangunan," tegasnya. 

Pilar selanjutnya adalah Industrialisasi pertanian dan waspada kegagalan pemerintah. "Sudah sejauh mana hilirisasi memberikan dampak. Prof Sumitro memberikan catatan sebagai warning agar tidak secara berlebihan menghasilkan highcoast ekonomi," terangnya. 

Pilar terakhir ekonomi terbuka dan visi ekologi jangka panjang. "Perkuat pengusaha lokal dan transfer teknologi. Banyak hambatannya, namun tentunya pembangunan berkelanjutan jadi hal penting. Jauh sebelum ekonom dunua memikirkan, Prof Sumitro sudah meletakkan dasar-dasar," ungkap Lengkong. 

"Selain Program Benteng, melalui Prof Sumitro, juga melakukan upaya penekanan kemiskinan ekstrem. Beliau telah meletakan dasar pemikiran terkait karakteristik masyarakat Indonesia," tambahnya.(*) 

Editor : Reza Abdilah
#Prof Sumitro Djojohadikusumo #Ekonomi Kerakyatan #Ekonomi #Indonesia