Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Kenangan Sang Anak pada Sosok Prof Lombok: Kisah Cinta yang Tak Pernah Padam untuk Dunia Pendidikan

Angel Rumeen • Rabu, 3 Juni 2026 | 16:49 WIB
Billy Lombok, putra Prof Jan Lombok mendampingi jenazah almarhum di rumah duka.
Billy Lombok, putra Prof Jan Lombok mendampingi jenazah almarhum di rumah duka.

 

MANADOPOST.ID—Ada sosok yang kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga menghadirkan kembali potongan-potongan kenangan tentang pengabdian panjang yang tidak pernah benar-benar berhenti.

 

Begitulah duka yang menyelimuti keluarga, civitas akademika, dan masyarakat Sulawesi Utara atas wafatnya Prof Dr Jan Lukas Lambertus Lombok, rektor pertama Universitas Negeri Manado (Unima).

 

Di rumah duka, suasana haru terasa begitu pekat. Namun di balik tangis dan doa yang mengalir, tersimpan kisah-kisah kecil yang justru memperlihatkan betapa kuatnya ikatan Prof Jan Lombok dengan dunia pendidikan yang ia bangun sejak awal.

 

Bagi putranya, Billy Lombok, kepergian sang ayah bukan sekadar kehilangan seorang orang tua, tetapi juga kehilangan seorang guru kehidupan yang tidak pernah lepas dari panggilan akademik.

 

Dalam ingatannya, satu setengah tahun terakhir menjadi masa yang penuh perjuangan. Kondisi kesehatan Prof Jan Lombok perlahan menurun, tetapi tidak pernah sepenuhnya memutus keterhubungannya dengan dunia yang ia cintai: pendidikan.

 

“Sudah satu setengah tahun ini Papa sakit. Meski tidak selalu di rumah sakit. Jadi saya dan keluarga tidak bisa tinggalkan papa. Harus dijaga terus,” kata anggota DPRD Sulut ini, saat ditemui di rumah duka, di Kleak, Manado, Rabu (3/6).

 

Di balik keterbatasan fisik, Prof Jan Lombok tetap menunjukkan kegelisahan yang sama. Kampus, mahasiswa, dan aktivitas perkuliahan di Universitas Negeri Manado yang berpusat di Tondano.

 

Billy mengungkap, bahkan di ruang perawatan, pikirannya masih berkelana ke ruang kelas, ke jadwal dosen, dan ke tugas-tugas mahasiswa.

 

Salah satu kisah yang paling membekas bagi Billy adalah ketika sang ayah, dalam kondisi sakit, masih berbicara tentang keinginannya kembali ke Tondano.

 

“Papa bilang ingin pergi ke Tondano karena mau lihat kelas di sana,” kenangnya. Kalimat sederhana itu menjadi gambaran betapa kuatnya ikatan emosional seorang akademisi dengan ruang pengabdiannya.

 

Ada juga momen lain yang sulit dilupakan. Saat berada di rumah sakit, Prof Jan Lombok masih menghitung biaya kepulangan dan berbicara tentang keinginan untuk segera kembali. Bukan karena ketidaknyamanan, tetapi karena rasa ingin tahu dan tanggung jawab yang tak pernah padam terhadap kampus yang pernah ia pimpin.

 

“Papa masih telepon dosen-dosen, tanya bagaimana kelas, siapa dosen yang masuk, apakah tugas-tugas berjalan lancar,” tutur Billy. Dari percakapan sederhana itu, tergambar jelas bahwa batas antara sakit dan pengabdian seolah tidak pernah benar-benar ada bagi Prof Jan Lombok.

 

Bagi banyak orang, Universitas Negeri Manado adalah institusi pendidikan. Namun bagi Prof Jan Lombok, kampus itu adalah bagian dari hidupnya sendiri. Ia tidak hanya membangunnya sebagai rektor pertama, tetapi juga merawatnya sebagai sebuah amanah intelektual yang harus terus berjalan, bahkan ketika dirinya tidak lagi berada di ruang kerja.

 

Kepergian Prof Jan Lombok meninggalkan jejak yang tidak hanya tercatat dalam sejarah akademik, tetapi juga dalam ingatan mereka yang pernah merasakan sentuhan pemikirannya. Ia dikenang sebagai akademisi yang menempatkan pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup.

 

Kini, yang tersisa adalah kisah-kisah yang diceritakan kembali di rumah duka, di ruang-ruang kenangan, dan di antara percakapan keluarga yang belum sepenuhnya selesai. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap utuh: warisan pengabdian seorang guru besar yang tidak pernah benar-benar meninggalkan kampusnya, bahkan hingga napas terakhirnya.(*)

Editor : Angel Rumeen
#Prof Jan Lombok #Billy Lombok #Unima