Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Rekam Jejak Mendiang Prof Jan Lombok, Sosok di Balik Transformasi IKIP ke Unima, Mencintai Dunia Pendidikan Hingga Akhir Hayat

Angel Rumeen • Kamis, 4 Juni 2026 | 13:44 WIB

 

Prof JLL Lombok
Prof JLL Lombok

 MANADOPOST.ID—Kabar duka menyelimuti keluarga besar Universitas Negeri Manado (UNIMA). Salah satu putra terbaik perguruan tinggi tersebut, Prof Dr Jan Lukas Lambertus Lombok SH MSi, berpulang di usia 81 tahun, dan meninggalkan jejak pengabdian panjang yang tak terpisahkan dari sejarah perkembangan kampus kebanggaan Sulawesi Utara itu.

 

Kepergian Rektor pertama UNIMA yang juga dikenal sebagai salah satu founding father universitas tersebut menghadirkan kesedihan mendalam bagi civitas akademika, para alumni, dan masyarakat luas. Sosok yang selama puluhan tahun mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Siloam Manado pada Rabu subuh, 3 Juni 2026.

 

Namun, di balik deretan jabatan, prestasi, dan catatan sejarah yang ditinggalkannya, tersimpan kisah yang lebih sederhana sekaligus menyentuh: seorang pendidik yang hingga akhir hayatnya tak pernah berhenti memikirkan kampus, mahasiswa, dan ruang-ruang kelas yang menjadi bagian dari hidupnya.

 

Bagi banyak orang, Prof. J.L.L. Lombok bukan sekadar seorang guru besar atau mantan pejabat kampus. Ia adalah simbol pengabdian, keteguhan prinsip, dan kepemimpinan yang berhasil mengantar sebuah institut pendidikan menjadi universitas negeri yang diperhitungkan di Indonesia Timur.

 

Jauh sebelum namanya dikenal luas sebagai rektor, Prof. Lombok telah mengabdikan diri dalam pengembangan ilmu sosial di kampus yang kala itu masih bernama IKIP Manado.

 

Karier kepemimpinannya mulai menonjol saat dipercaya memimpin Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) sebagai dekan selama dua periode berturut-turut, yakni 1990–1993 dan 1993–1996. Di bawah kepemimpinannya, fondasi akademik dan tata kelola fakultas diperkuat sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan yang semakin kompleks.

 

Mereka yang pernah bekerja bersamanya mengenang Prof. Lombok sebagai pemimpin yang disiplin namun bersahaja. Ia menaruh perhatian besar pada pengembangan sumber daya manusia dan kualitas akademik, sembari terus mendorong tumbuhnya budaya kerja yang profesional.

 

Visi itu kemudian menjadi bekal ketika ia dipercaya memimpin institusi pada level yang lebih tinggi.

 

Nama Prof. Lombok akan selalu dikenang dalam sejarah UNIMA karena perannya yang sangat besar dalam proses transformasi kelembagaan kampus.

 

Pada penghujung dekade 1990-an, ketika pemerintah membuka peluang perluasan mandat bagi sejumlah IKIP di Indonesia, Prof. Lombok berada di garda terdepan memperjuangkan perubahan tersebut bagi IKIP Manado.

 

Perjuangan panjang itu mencapai puncaknya pada 13 September 2000 ketika pemerintah menerbitkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 127 Tahun 2000 yang menetapkan perubahan IKIP Manado menjadi Universitas Negeri Manado.

 

Sebulan kemudian, pada 14 Oktober 2000, perubahan bersejarah itu diresmikan oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Yahya Muhaimin.

 

Momentum tersebut menjadi titik balik perjalanan institusi. Dari kampus yang berfokus pada pendidikan tenaga kependidikan, UNIMA berkembang menjadi universitas dengan cakupan keilmuan yang lebih luas dan kontribusi yang semakin besar bagi pembangunan daerah maupun nasional.

 

Tak berlebihan jika banyak kalangan menempatkan Prof. J.L.L. Lombok sebagai salah satu arsitek utama transformasi UNIMA.

 

Transformasi itu juga melahirkan perubahan pada struktur fakultas. FPIPS berkembang menjadi Fakultas Ilmu Sosial (FIS), yang kemudian menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) seperti yang dikenal saat ini.

 

Di balik capaian besar itu, terdapat perjalanan panjang seorang aparatur sipil negara yang memulai karier dari jenjang paling dasar.

 

Prof. Lombok mengabdikan dirinya di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan hingga mencapai pangkat tertinggi ASN fungsional, yakni Pembina Utama Golongan IV/e.

 

Kariernya melintasi dua era besar pemerintahan Indonesia, dari Orde Baru hingga Reformasi. Dalam setiap fase perubahan, ia dikenal mampu menjaga profesionalisme sekaligus beradaptasi dengan dinamika kebijakan yang terus berkembang.

 

Pengabdiannya juga menjangkau berbagai organisasi profesi seperti Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI).

 

Sebagai intelektual Minahasa, ia aktif menyumbangkan pemikiran bagi pemerintah daerah, DPRD, organisasi kemasyarakatan, hingga forum keagamaan dan kebudayaan.

 

Di tengah sakit yang terus menggerus tenaga, perhatian terhadap pendidikan tetap hidup. Seolah-olah ada ikatan yang lebih kuat daripada rasa sakit itu sendiri.

 

Pada awal 2025, Prof. Lombok kembali menjadi perhatian publik ketika dengan tegas menyatakan bahwa plagiarisme adalah “kejahatan akademik yang tidak bisa diampuni” karena merusak kredibilitas perguruan tinggi.

 

Pernyataan itu bukan sekadar komentar akademik. Itu adalah cerminan nilai yang sepanjang hidup ia pegang: kejujuran, integritas, dan tanggung jawab moral.

 

Baginya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari gelar dan prestasi, tetapi juga dari karakter yang dibangun selama proses belajar.

 

Namun, sebagaimana para pendidik besar yang meninggalkan warisan pemikiran dan keteladanan, kepergian Prof. J.L.L. Lombok tidak mengakhiri pengaruh yang telah ia tanamkan selama puluhan tahun.

 

Warisannya hidup dalam ribuan alumni yang pernah diajar, dalam dosen-dosen yang pernah bekerja bersamanya, dalam bangunan institusi yang ikut ia dirikan, dan dalam nilai-nilai integritas yang terus dijaga di lingkungan akademik.

 

Bagi keluarga besar UNIMA, ia adalah bagian dari sejarah. Bagi dunia pendidikan Sulawesi Utara, ia adalah teladan pengabdian. Dan bagi keluarga, ia akan selalu dikenang sebagai seorang ayah yang bahkan di ranjang perawatan masih bertanya tentang kelas yang sedang berlangsung di kampus.

 

Prof. Dr. Jan Lukas Lambertus Lombok mungkin telah menutup perjalanan hidupnya. Namun cintanya kepada pendidikan seolah tidak pernah benar-benar berakhir. Diketahui Prof Lombok akan dimakamkan di Pekuburan Arimatea, Manado. Sebelumnya bakal disemayamkan di Desa Kumelembuai, Minsel.(*)

Editor : Angel Rumeen
#Prof JLL Lombok #Unima