MANADOPOST.ID-Finalis Remaja Teladan (Retel) Sinode GMIM, Jumat (26/6) mengunjungi Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Mereka diterima Ketua Bawaslu Sulut Ardiles Mewoh, Pimpinan Erwin Sumampouw dan Kepala Sekretariat Aldrin Christian.
Ada yang istimewa dalam kunjungan Finalis Retel itu. Dimana momentum tersebut juga sekaligus dengan peluncuran perdana program 'Walewangko Pengawasan Pemilu'. Program tersebut merupakan inisiatif Bawaslu Sulut yang menjadikan kantor Bawaslu sebagai rumah belajar demokrasi dan kepemiluan bagi masyarakat.
Dalam bahasa Minahasa, Walewangko berarti Rumah Besar, yang merepresentasikan keterbukaan Bawaslu sebagai ruang bersama untuk belajar, berdiskusi, dan membangun kesadaran demokrasi.
Para Finalis Retel GMIM mendapat wawasan soal mengenai demokrasi, kepemimpinan yang berintegritas, serta peran pengawasan pemilu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tak hanya itu, para Finalis diajak berkeliling mengenal lebih dekat lingkungan kerja Bawaslu Sulut melalui room tour.
Dalam kesempatan itu, para Finalis berdialog interaktif dengan pimpinan dan jajaran Bawaslu Sulut.
Ketua Harian Panitia Pemilihan Retel Sinode GMIM, Briliant Maengko mengatakan, kunjungan tersebut bertujuan agar Finalis mampu memperluas pemahaman generasi muda mengenai demokrasi dan kepemiluan.
"Tujuan kunjungan kami sederhana, yaitu agar generasi muda memiliki pemahaman yang baik tentang demokrasi dan kepemiluan," ujarnya.
Ketua Bawaslu Sulut Ardiles Mewoh menjelaskan bahwa program Walewangko Pengawasan Pemilu telah lama dirancang sebagai bagian dari upaya membangun budaya demokrasi melalui pendidikan kepemiluan.
"Kami sengaja merancang kantor ini menjadi tempat belajar demokrasi dan pemilu. Kunjungan ini menjadi yang pertama secara formal. Dan kami tetapkan sebagai pilot project yang dinamakan Walewangko Pengawasan Pemilu. Kami ingin kantor ini menjadi rumah besar pengawasan Pemilu bagi masyarakat," jelas Ardiles.
Ditekankannya, pemilih pemula pada Pemilu 2029, perlu dibekali pemahaman yang memadai agar mampu berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab.
"Menjadi pemilih pemula bukan hanya datang ke TPS untuk memberikan suara, tetapi juga mampu membedakan informasi yang benar dan hoaks. Dengan datang langsung ke Bawaslu, adik-adik bisa melihat sendiri bagaimana kami bekerja menjaga kualitas demokrasi. Harapan kami, pengalaman ini dapat dibagikan kembali kepada komunitas masing-masing," ungkapnya.
Koordinator Divisi SDM, Organisasi dan Diklat Bawaslu Sulut, Erwin Sumampouw mengajak para Finalis yang mayoritas merupakan Generasi Z untuk mengambil peran sebagai agen penyebar informasi positif di tengah masyarakat.
Menurutnya, generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun budaya demokrasi yang sehat, termasuk menyuarakan penolakan terhadap praktik politik uang dan penyebaran informasi bohong.
"Adik-adik dapat menjadi agen Bawaslu di lingkungan masing-masing dengan menyampaikan informasi yang benar tentang pemilu. Misalnya mengajak masyarakat menolak politik uang. Di Alkitab pun suap dilarang. Begitu juga dengan hoaks yang dapat melemahkan kualitas demokrasi kita," ujar Erwin.
Sementara itu, Kepala Sekretariat Bawaslu Sulut, Aldrin A Christian menegaskan, Bawaslu ingin membuka diri sebagai ruang belajar bagi seluruh elemen masyarakat.
"Kerinduan kami, Bawaslu tidak hanya menjadi tempat bagi penyelenggara pemilu, tetapi juga menjadi rumah bagi semua elemen masyarakat yang ingin belajar tentang demokrasi dan pengawasan pemilu," kata Aldrin.
Bawaslu berharap, melalui peluncuran Walewangko Pengawasan Pemilu, maka semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda yang terlibat aktif dalam pendidikan demokrasi dan pengawasan partisipatif. (lak)
Editor : Livrando Kambey