BANJIR DUKUNGAN: Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado menghimpun dukungan lintas sektor dalam upaya pengusulan Kiai Modjo sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia melalui Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Kiai Modjo bertajuk "Jejak Juang Kiai Modjo: Reaktualisasi Nilai Kepahlawanan, Kecerdasan Budaya, dan Peradaban Lintas Zaman" yang diselenggarakan di Auditorium Kampus II IAIN Manado, Kecamatan Wori, Minahasa Utara, Selasa (30/06/26).
MANADOPOST.ID – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado menghimpun dukungan lintas sektor dalam upaya pengusulan Kiai Modjo sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia melalui Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Kiai Modjo bertajuk "Jejak Juang Kiai Modjo: Reaktualisasi Nilai Kepahlawanan, Kecerdasan Budaya, dan Peradaban Lintas Zaman" yang diselenggarakan di Auditorium Kampus II IAIN Manado, Kecamatan Wori, Minahasa Utara, Selasa (30/06/26).
Seminar tersebut menjadi forum akademik untuk memperkuat argumentasi historis dan ilmiah sekaligus membangun komitmen bersama dalam mendukung pengusulan Kiai Modjo sebagai Pahlawan Nasional. Kegiatan ini dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pimpinan instansi vertikal, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pelestarian kebudayaan, tokoh agama, tokoh adat, budayawan, organisasi kemasyarakatan, serta masyarakat Jawa Tondano (Jaton).
Ketua Panitia, Dr. Ardianto, S.Pd., M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar nasional ini merupakan bentuk komitmen akademik IAIN Manado untuk mendukung pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Kiai Modjo melalui kajian sejarah yang komprehensif. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, sejarawan, budayawan, dan masyarakat menjadi modal penting dalam memperkuat naskah akademik sebagai bagian dari proses pengusulan.
Membuka kegiatan tersebut, Rektor IAIN Manado, Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.H.I., menegaskan bahwa pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Kiai Modjo bukan sekadar bentuk penghormatan kepada seorang tokoh sejarah, tetapi juga ikhtiar mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan, pendidikan, moderasi beragama, dan persatuan bangsa yang diwariskannya kepada masyarakat Indonesia.
Menurut Rektor, IAIN Manado memiliki kedekatan akademik dengan masyarakat Jawa Tondano. Kawasan tersebut selama ini menjadi lokasi berbagai penelitian dosen, skripsi mahasiswa, hingga pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), sehingga kampus memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus menggali, mendokumentasikan, dan memperkuat narasi sejarah perjuangan Kiai Modjo.
"Pengusulan gelar Pahlawan Nasional menjadi semakin penting mengingat besarnya kontribusi Kiai Modjo dalam sejarah perjuangan bangsa sekaligus pembentukan komunitas Jawa Tondano yang hingga kini menjadi simbol harmoni dan keberagaman di Sulawesi Utara," tegas Rektor.
Dalam seminar nasional yang juga sekaligus mengagendakan penandatanganan pernyataan dukungan lintas tokoh terhadap Usulan Kiai Modjo menjadi Pahkawan Nasional ini menghadrikan 2 (dua) narasumber nasional yakni Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., yang merupakan Narasumber dari Kementertian Kebudayaan R.I. dan Dr. Sri Margana, M.Hum., M.Phil., yang merupakan pakar sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM).
Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., yang saat ini menjabat sebagai Direktur Sejarah dan Permuseuman Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan dan juga merupakan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, menegaskan bahwa pengusulan gelar Pahlawan Nasional harus didukung oleh kajian historiografi yang kuat, bukti-bukti sejarah yang autentik, serta dukungan luas dari pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa Kiai Modjo memiliki kontribusi besar dalam perjuangan nasional sekaligus meninggalkan warisan sosial, budaya, dan keagamaan yang masih hidup hingga saat ini di tengah masyarakat Jawa Tondano.
Sementara itu, Dr. Sri Margana, M.Hum., M.Phil., menjelaskan bahwa Kiai Modjo merupakan tokoh penting dalam sejarah nasional yang tidak hanya berperan besar dalam Perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro, tetapi juga meninggalkan warisan peradaban melalui pembentukan komunitas Jawa Tondano. Menurutnya, jejak perjuangan Kiai Modjo menunjukkan bahwa pengabdian kepada bangsa tidak berhenti di medan perang, tetapi terus berlanjut melalui pendidikan, dakwah, dan pembangunan kehidupan masyarakat di tanah pengasingan.
Seminar nasional ini juga menghadirkan video keynote speech Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (H.C.) Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc. Dalam paparannya, Fadli Zon menegaskan bahwa Kiai Modjo merupakan tokoh penting dalam Perang Jawa yang tidak hanya berperan sebagai penasihat spiritual Pangeran Diponegoro, tetapi juga meninggalkan warisan perjuangan, pendidikan, dan persatuan selama masa pengasingannya di Tondano. Menurutnya, jasa-jasa tersebut menjadi landasan kuat bahwa Kiai Modjo layak diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.
Mewakili Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Utara, Wanda Leza Cicilia Musu, S.E., M.E., menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk mengawal proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Kiai Modjo sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan pemerintah pusat. "Hasil seminar dan dukungan yang terbangun dalam forum tersebut dapat memperkuat proses pemberkasan usulan di tingkat daerah maupun nasional," harap Musu. (mpd)
Editor : Filip Kapantow