WAWANCARA EKSKLUSIF: Dr dr Ray Wagiu Basrowi, Founder HCC, Direktur Eksekutif IHDC, Saatnya Menerjemahkan Angka IPM Sulut Menjadi Kualitas Hidup Sehat
Filip Kapantow• Selasa, 7 Juli 2026 | 00:08 WIB
Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
MANADOPOST.ID - indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Utara kembali menunjukkan tren yang menggembirakan dengan mempertahankan posisi di peringkat sembilan nasional.
Namun, menurut pakar kedokteran komunitas asal Sulawesi Utara Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, keberhasilan pembangunan tidak seharusnya diukur dari peringkat semata, melainkan dari sejauh mana masyarakat benar-benar hidup lebih sehat, produktif, dan sejahtera.
Kepada Manado Post, Dr. Ray menjelaskan bagaimana kekuatan kearifan lokal seperti semangat mapalus, budaya komunitas, dan kekayaan pangan lokal dapat menjadi fondasi pembangunan manusia yang lebih berkualitas.
Berikut petikan wawancaranya.
Manado Post: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Utara kembali menempatkan provinsi ini di peringkat sembilan nasional dengan tren yang terus meningkat. Bagaimana Anda melihat capaian ini?
Dr. Ray Wagiu Basrowi: Ini merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Konsistensi kenaikan IPM menunjukkan bahwa investasi di bidang kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan mulai memberikan hasil. Namun, saya melihat IPM bukanlah garis finis. Peringkat hanyalah indikator. Yang lebih penting adalah bagaimana peningkatan itu benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, orientasinya perlu bergeser dari ranking oriented menjadi people oriented. Artinya, apakah masyarakat hidup lebih sehat, lebih produktif, lebih mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Itulah makna pembangunan manusia yang sesungguhnya.
Manado Post: Apa yang membuat Sulawesi Utara memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kualitas pembangunan manusianya?
Dr. Ray Wagiu Basrowi: Sulawesi Utara memiliki kekuatan yang tidak dimiliki semua daerah, yaitu modal sosial dan budaya. Filosofi mapalus mengajarkan saling membantu tanpa pamrih. Dalam kesehatan masyarakat, nilai seperti ini sangat berharga karena mendorong kepedulian, partisipasi, dan gotong royong menjaga kesehatan bersama.
Begitu pula budaya kekeluargaan yang masih kuat. Banyak keluarga di Sulawesi Utara tetap menjaga hubungan antargenerasi. Jika ini dimanfaatkan dengan baik, keluarga dapat menjadi garda terdepan dalam mencegah hipertensi, diabetes, stroke, hingga mendampingi lansia agar tetap sehat dan mandiri.
Manado Post: Bagaimana kearifan lokal itu dapat diterjemahkan menjadi kebijakan kesehatan?
Dr. Ray Wagiu Basrowi: Menurut saya, promosi kesehatan tidak selalu harus dimulai dari rumah sakit. Di Sulawesi Utara, gereja, kelompok pelayanan, organisasi perempuan, komunitas pemuda, hingga kelompok mapalus merupakan ruang sosial yang sangat kuat.
Bayangkan jika edukasi tentang pencegahan diabetes, skrining tekanan darah, kesehatan mental remaja, atau pencegahan anemia rutin dilakukan melalui komunitas-komunitas tersebut. Dampaknya bisa jauh lebih luas karena pesan kesehatan disampaikan melalui lingkungan yang dipercaya masyarakat. Itulah yang saya maksud sebagai translasi pembangunan—mengubah angka statistik menjadi perubahan perilaku dan budaya hidup sehat.
Manado Post: Apakah ada tantangan yang perlu mulai diantisipasi?
Dr. Ray Wagiu Basrowi: Tentu. Ketika IPM semakin tinggi, tantangannya juga berubah. Kita mulai menghadapi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, obesitas, penyakit jantung, serta meningkatnya kebutuhan kesehatan mental dan layanan bagi lansia. Apalagi Sulut merupakan salahdaerah dengan tingkat prevalensi penyakit tidak menular yang Karena itu, pembangunan kesehatan harus bergeser dari sekadar mengobati menjadi menjaga masyarakat tetap sehat sepanjang hidup. Pencegahan harus menjadi investasi utama.
Manado Post: Sulawesi Utara juga dikenal kaya akan hasil laut dan pangan lokal. Seberapa penting hal ini?
Dr. Ray Wagiu Basrowi: Sangat penting. Kekayaan laut Sulawesi Utara merupakan keunggulan yang tidak semua provinsi miliki. Ikan segar, pangan lokal seperti ubi, jagung, pisang, sayuran, dan rempah merupakan fondasi pola makan yang sehat. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kekayaan ini tergeser oleh konsumsi makanan ultra-proses, minuman berpemanis, dan pola makan tinggi garam yang dapat meningkatkan risiko penyakit kronis. Modernisasi seharusnya tidak membuat kita meninggalkan kekuatan pangan lokal.
Manado Post: Apa pesan Anda bagi pemerintah daerah?
Dr. Ray Wagiu Basrowi: Saya berharap pembangunan kesehatan Sulawesi Utara tidak hanya mengejar peningkatan IPM, tetapi juga membangun modal manusia yang sehat. Setiap kebijakan, baik di sektor kesehatan, pendidikan, olahraga, pangan, maupun lingkungan, perlu menjawab satu pertanyaan sederhana: apakah kebijakan ini membuat masyarakat Sulawesi Utara hidup lebih sehat, lebih produktif, dan lebih siap menghadapi masa depan?
Jika semangat mapalus, kekuatan komunitas, dan kekayaan pangan lokal dipadukan dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan yang tepat, saya optimistis Sulawesi Utara tidak hanya dikenal sebagai provinsi dengan IPM tinggi, tetapi juga sebagai daerah yang berhasil menerjemahkan pembangunan menjadi kualitas hidup yang benar-benar dirasakan masyarakat. (mpd)