MANADOPOST.ID- Kesejahteraan para petani Cap Tikus harus diperhatikan pemerintah. Pasalnya dari hasil minuman tradisional asli bumi nyiur melambai ini, banyak menghidupi keluarga. Orang tua para pejabat, politisi bahkan pendeta, tak jarang berprofesi sebagai petani Cap Tikus.
Hal inilah yang sementara diupayakan jajaran PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk. Selain ingin membawa nama Cap Tikus mendunia, kesejahteraan masyarakat petani juga jadi perhatian serius.
Beberapa solusi dan usulan pun langsung disampaikan para petani di desa Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Minahasa Selatan, kala dialog langsung bersama Direktur Utama PT Jobubu Irjen Pol (Purn) Carlo Brix Tewu, Selasa (7/7) kemarin.
Bertatap muka langsung di rumah Francis Kumaat, suasana hangat terbangun. Mantan Kapolda Sulut ini dengan ramah mendengar masukan para petani, sembari menanyakan kaitan produktifitas hasil yang didapat.
Hasilnya diperoleh bahwa profesi petani di daerah tersebut, kebanyakan telah menurun dari ayah bahkan kakek. Bahkan menurut para petani kini, untuk proses menyadap air pohon aren atau batifar, hanya 5 sampai 6 pohon sehari.
"Ba tifar sampai 6 sampai 7 pohon sehari dapat dipanjat. Karena berisiko. Sebab pohon cukup tinggi. Juga tergantung cuaca untuk jumlah yang dapat diproduksi," tegasnya.
Sementara itu, untuk hasil ketika sudah disuling menjadi Cap Tikus, juga tergantung saguer. "Kalau saguer bagus, sekitar 1/2 gelon sehari. Mungkin 12 liter," katanya.
Diketahui saat ini, ada sekira 22 ribu petani Cap Tikus di Sulawesi Utara. Untuk itu, Tewu menegaskan bahwa untuk lebih mengefisienkan produksi sehingga meningkat, harus ada intervensi pemerintah, memberikan perhatian khusus ke petani Cap Tikus.
Sebab menurutnya di Minsel, salah satu produksi lokal andalan adalah Cap Tikus. Dirinya mencontohkan, untuk PT Jobubu, kebutuhan bahan baku Cap Tikus bisa mencapai 100 sampai 200 liter/hari.
Pun Cap Tikus yang dicari, juga harus berkualitas baik dengan kadar sesuai yang dibutuhkan. "Jadi harus ada intervensi pemerintah, sebab bisa jadi PAD. Untuk penanaman dan peremajaan pohon seho. Pemerintah wajib memberikan dukungan kepada masyarakat," tegasnya.
"Dalam diskusi ini ternyata pohon semakin berkurang, maka pemerintah harus ikut memikirkan pohon aren agar tetap ada. Sebab jadi sumber pendapatan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya," tambahnya.
Menurutnya produksi kian menurun, karena jarak pohon yang sudah cukup jauh saat ini. "Sehingga menyulitkan para petani. Sekarang paling tinggi 7 pohon, kalau dulu boleh 10 sampai belasan pohon sehari," ungkapnya.
Lanjutnya bahwa PT Jobubu berkeinginan untuk Cao Tikus mendunia. "Kalau kami di PT Jobubu agar Cap Tikus jadi legal. Agar bisa dijual kemana-mana, termasuk luar negeri. Semakin banyak kita berjualan di luar negeri, semakin mendunia Cap Tikus, maka petani makin sejahtera," tegasnya lagi.
"Juga mendorong agar petani Cap Tikus dilindungi. Itu harus diperhatikan karena berurusan dengan pemanjatan pohon. Paling tidak para petani lebih efektif untuk produksi Cap tikus. Solusinya adalah mungkin bisa memberikan masukan ke pemerintah untuk program khusus, dengan biaya tidak mahal, yang penting pemerintah siapkan bibit untuk penanaman dan peremajaan," tambahnya lagi.
Dari sektor swasta, kata Tewu, pihaknya bermitra dengan pemerintah agar sesuatu aturan perundang-undangan melegalkan Cap Tikus. "Namun kami juga tidak mau merebut pasar petani yang jualan kecil-kecilan, maka kami lebih jual keluar," katanya.
"Yang kita bisa lakukan adalah berkolaborasi dengan pemerintah untuk peremajaan. Bagaimana mendorong masyarakat untuk menanam dan pemerintah menyediakan bibit yang unggul. Itu juga yang sementara PT Jobubu lakukan. Tetap semangat para petani Cap Tikus," ungkapnya.
"Saya juga akan menyampaikan langsung ke pak Gubernur. Karena ini adalah kearifan lokal. Akan menyurat ke Gubernur dan Bupati. Pesan saya ke petani mari sama-sama kita berkerja. Juga akan melakukan kajian melibatkan Perguruan tinggi, agar pohon aren punya kualitas unggul. Pohon tidak terlalu tinggi, jaraknya dekat, maka produktifitas akan meningkat. Maka kita harus melakukan dari sekarang," sambungnya.
Dalam kesempatan itu, juga hadir Anggota DPRD Minsel Alex Kumaat. Dirinya pun berjanji suara dari petani Cap Tikus di diskusi tersebut akan dibawah ke tanah legislatif, untuk jadi usulan ke eksekutif, pun akan dikawal.(*)
Editor : Reza Abdilah