SULUT PERINGKAT SATU, Anak Muda Tak Sekolah dan Tak Bekerja

Gregorius Mokalu • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:55 WIB
Grafis Persentase Kabupaten dan Kota dari Data BPS.
Grafis Persentase Kabupaten dan Kota dari Data BPS.

 

MANADOPOST.ID– Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap potret serius dunia pendidikan dan ketenagakerjaan di Sulawesi Utara.

Dari data BPS yang terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026, Sulut tercatat sebagai provinsi dengan persentase tertinggi usia muda 15–24 tahun yang tidak sedang bersekolah, bekerja, maupun mengikuti pelatihan (Not in Employment, Education, or Training/NEET) di Indonesia.

Data yang diperoleh Manado Post menunjukkan persentase NEET di Sulut mencapai 29,52 persen, tertinggi secara nasional.

Posisi berikutnya ditempati Maluku dengan persentase 28,49 persen.

Tingginya angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa hampir tiga dari sepuluh anak muda di Sulut berada di luar sistem pendidikan, dunia kerja, maupun pelatihan keterampilan.

Kondisi ini berpotensi berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia, produktivitas daerah hingga bonus demografi di masa mendatang apabila tidak segera ditangani.

Sayangnya, persoalan yang cukup serius ini belum mendapatkantanggapan dari Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut Dr Femmy J Suluh MSi.

Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui nomor ponsel 0812 4301 xxx pada beberapa kesempatan belum memperoleh respons.

Hal serupa juga terjadi saat Manado Post menghubungisejumlah kepala dinas pendidikan kabupaten dan kota di Sulawesi Utara.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan yang diberikan.

Pengamat pembangunan daerah Harianto Nanga SPi menilai tingginya angka NEET di Sulut tidak boleh dipandang sekadar sebagai statistik tahunan.

Menurutnya, data tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasiefektivitas kebijakan pendidikan, pelatihan kerja, dan penyerapan tenaga kerja bagi generasi muda.

Harianto menilai, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor agar anak-anak muda yang putus sekolah maupun belum bekerja dapat kembali memperoleh akses pendidikan kesetaraan, pelatihan vokasi, hingga peluang kerja yang sesuai kebutuhan pasar.

Menurutnya, tanpa langkah yang terukur, tingginya angka tersebut berpotensi menjadi beban sosial dan ekonomi daerah pada masa mendatang.

Sementara itu, tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia juga masih terlihat di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Berdasarkan rilis data BPS 2025, capaian Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di Minsel pada 2025 berada di angka 9,53 tahun.

Secara matematis, capaian tersebut menunjukkan rata-rata penduduk Minsel berusia 25 tahun ke atas telah menuntaskan pendidikan formal selama sembilan tahun atau setara lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas IX dan sempat mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) pada tahun pertama.

Namun, angka desimal 0,53 juga mengindikasikan masih adanya tantangan berupa fenomena putus sekolah pada masa transisi dari jenjang SMP menuju SMA atau sederajat.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Minsel Arthur Tumipa mengaku optimistis kondisi saat ini sudah mengalami perbaikan, meski data tersebut akan menjadi bahan evaluasi.

"Dinas pendidikan akan identifikasi sesuai kelompok umur. Mereka yang belum tamat itu yang akan kita sentuh. Kita ikutkan pada program paket B dan paket C," ujarnya. (*)


Editor : Gregorius Mokalu
bekerja persentase tidak sekolah Anak Muda sulawesi utara