MANADOPOST. ID– Ketua Umum DPD PDI Perjuangan Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, mendampingi Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menghadiri pembukaan pameran sejarah dan arsip foto bertajuk "Meretas Jalan Demokrasi" di Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa sore.
Pameran tersebut merupakan rangkaian kegiatan refleksi untuk memperingati 30 tahun peristiwa kelam 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Kudatuli, salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Megawati tiba di lokasi sekitar pukul 15.50 WIB mengenakan busana bernuansa merah dipadukan dengan selendang batik. Kehadirannya didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan disambut jajaran pengurus DPP PDIP, termasuk Olly Dondokambey.
Pembukaan pameran diawali dengan prosesi pengguntingan pita oleh Megawati sebagai tanda dimulainya pameran secara resmi. Selanjutnya, Megawati bersama putranya yang juga Ketua DPP PDIP, M. Prananda Prabowo, serta jajaran pengurus partai berkeliling melihat koleksi arsip dan dokumentasi sejarah yang dipamerkan.
Pameran menghadirkan perjalanan sejarah bangsa dari periode 1965 hingga 1999, mulai dari kepemimpinan Presiden Soekarno, perjalanan politik Megawati Soekarnoputri, tragedi Kudatuli, hingga masa Reformasi. Selama meninjau pameran, Megawati mendapat penjelasan langsung dari sejarawan sekaligus Kepala Badan Sejarah PDIP, Bonnie Triyana.
Salah satu dokumentasi yang menarik perhatian Megawati adalah foto ikonik saat dirinya memberikan keterangan kepada wartawan setelah terpilih sebagai Ketua Umum PDI pada 1993. Selain itu, dipamerkan pula berbagai arsip yang menggambarkan penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat, yang menjadi simbol peristiwa Kudatuli.
Di ruang pameran juga ditayangkan rekaman video penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996. Megawati tampak menyaksikan tayangan tersebut dengan penuh perhatian sebelum akhirnya menuliskan pesan refleksi pada akrilik yang disediakan panitia di pintu keluar museum.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan testimoni dari tiga tokoh pelaku sejarah yang mengalami langsung peristiwa Kudatuli.
Sebagai informasi, Kudatuli merupakan tragedi berdarah yang terjadi pada 27 Juli 1996 akibat konflik kepemimpinan di tubuh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) antara kubu Megawati Soekarnoputri dan kubu Soerjadi yang saat itu mendapat dukungan pemerintah Orde Baru. Penyerbuan terhadap kantor DPP PDI memicu kerusuhan besar di Jakarta.
Berdasarkan catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), peristiwa tersebut mengakibatkan sedikitnya lima orang meninggal dunia, 149 orang mengalami luka-luka, dan 23 orang lainnya dinyatakan hilang. Tragedi Kudatuli hingga kini dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan menuju era Reformasi dan penguatan demokrasi di Indonesia.