MANADOPOST.ID – Sulawesi Utara (Sulut) kian mengukuhkan diri sebagai episentrum industri kelapa nasional. Ditopang hamparan perkebunan rakyat, lonjakan investasi hingga Rp481,93 triliun, serta ekspor produk turunan yang menembus USD304,5 juta, Bumi Nyiur Melambai kini membangun rantai industri kelapa yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pemerintah Provinsi Sulut bahkan menyiapkan langkah akseleratif melalui program peremajaan kebun, penguatan hilirisasi, hingga menjadi tuan rumah World Coconut Day 2026 yang akan dihadiri delegasi dari 21 negara.
Kepala Dinas Perkebunan Daerah Sulut Darwin Muksin saat ditemui Manado Post mengatakan, sektor kelapa bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan tulang punggung ekonomi daerah yang menopang kehidupan ratusan ribu pekebun sekaligus menjadi penggerak utama industri pengolahan dan ekspor.
"Kelapa merupakan salah satu kekuatan ekonomi strategis Sulut. Karena itu, arah pembangunan ke depan bukan lagi semata memperluas areal tanam, tetapi meningkatkan produktivitas, mempercepat peremajaan tanaman tua, memperkuat hilirisasi industri, dan memperluas akses pasar internasional," ujar Darwin.
Ia menjelaskan, berdasarkan data statistik perkebunan tahun 2025, luas areal perkebunan kelapa Sulawesi Utara berada pada kisaran 262 ribu hingga 265 ribu hektare, sementara berdasarkan data investasi sektor kelapa total areal mencapai sekitar 273.185 hektare. Selisih tersebut masih dinilai wajar karena dipengaruhi perbedaan periode pembaruan data dan cakupan perhitungan.
Dari total areal tersebut, sebanyak 204.016 hektare merupakan Tanaman Menghasilkan (TM), 28.448 hektare Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), serta 28.722 hektar merupakan tanaman tua atau rusak (TR/TTM) yang membutuhkan peremajaan.
Dengan populasi sekitar 22.441.980 pohon produktif atau rata-rata 110 pohon per hektare, produktivitas kelapa Sulut telah mencapai 1.255 kilogram per hektare, meningkat dibandingkan sebelumnya sebesar 1.248 kilogram per hektare.
Meski menunjukkan tren positif, Darwin mengakui produksi kelapa daerah masih belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan industri pengolahan di dalam provinsi.
Menurutnya, tantangan pembangunan sektor kelapa kini bergeser dari ekspansi lahan menuju peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul bersertifikat, penerapan teknologi budidaya modern, pemupukan berimbang, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Sulut bersama Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan kawasan kelapa seluas 18.248 hektare pada tahun 2026.
Program tersebut mencakup bantuan benih unggul, pupuk organik, serta pembiayaan kebun. Dengan kebutuhan 110 bibit per hektare, dibutuhkan sedikitnya 2.007.280 bibit kelapa unggul bersertifikat.
"Program ini diharapkan mempercepat peremajaan tanaman tua dan rusak, meningkatkan produktivitas kebun rakyat, sekaligus menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan kelapa," kata Darwin.
Mantan Penjabat Bupati Bolmut tersebut menuturkan, struktur usaha perkebunan kelapa Sulut masih didominasi perkebunan rakyat.
Dari total luas usaha perkebunan, sekitar 204.016 hektare atau 96,72 persen dikelola oleh masyarakat. Sisanya terdiri atas 4.719 hektare perkebunan besar swasta (PBS/HGU) dan 2.195 hektare perkebunan besar negara (PTPN).
Dominasi tersebut menunjukkan bahwa masa depan industri kelapa Sulut sangat bergantung pada peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani sebagai pemasok utama bahan baku industri.
Dengan asumsi produksi rata-rata 6.600 butir per hektare per tahun serta harga sekitar Rp5.000 per butir, nilai produksi usaha perkebunan kelapa Sulut pada tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp6,96 triliun.
Menariknya menurut Darwin, sekitar Rp6,73 triliun atau lebih dari 96 persen berasal dari kebun rakyat, memperlihatkan bahwa ekonomi kelapa di Sulut bertumpu kuat pada petani.
"Di sektor hilir, performa ekspor juga menunjukkan tren menggembirakan. Sepanjang 2025, Sulut mengekspor berbagai produk olahan kelapa, mulai dari Crude Coconut Oil (CCO), bungkil kopra, santan beku, hingga tepung kelapa dengan total nilai mencapai USD304.500.513,34 atau setara sekitar Rp5,46 triliun," imbuhnya.
Produk-produk tersebut jelas Darwin, telah menembus pasar Asia, Eropa, Amerika, Australia, hingga Timur Tengah, dengan minyak kelapa mentah masih menjadi kontributor utama devisa ekspor.
Nilai ekspor itu bahkan setara sekitar 78,4 persen dari estimasi nilai produksi kelapa di tingkat kebun, menandakan sebagian besar hasil panen telah berhasil ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah tinggi yang memiliki daya saing global.
"Daya tarik sektor kelapa Sulut juga tercermin dari derasnya investasi yang masuk. Nilai investasi industri pengolahan kelapa skala menengah dan besar tercatat mencapai sekitar Rp478,53 triliun, berasal dari akumulasi aset dan modal 16 perusahaan yang beroperasi di sektor pengolahan kelapa terintegrasi. Sementara itu, 416 unit Industri Kecil dan Menengah (IKM) menyumbang investasi sekitar Rp3,40 triliun," tegasnya.
Dengan demikian, menurut Darwin, total investasi sektor kelapa Sulut telah mencapai sekitar Rp481,93 triliun. Investasi tersebut tersebar pada industri minyak kelapa, santan, tepung kelapa, tempurung, hingga berbagai produk turunan lainnya yang memperkuat ekosistem industri berbasis kelapa.
Darwin menegaskan, kekuatan sektor kelapa Sulut kini bertumpu pada empat fondasi utama, yakni basis produksi yang luas, dominasi perkebunan rakyat, industri hilir yang terus berkembang dan berorientasi ekspor, serta tingginya nilai investasi.
"Empat pilar tersebut membentuk rantai nilai yang saling terintegrasi, mulai dari kebun, industri pengolahan, pemasaran internasional, hingga investasi yang terus tumbuh. Ini menjadi modal besar untuk menjadikan Sulut sebagai pusat industri kelapa Indonesia," tegasnya.
Sebagai pengakuan dunia terhadap posisi strategis Sulut, provinsi ini dipercaya menjadi tuan rumah World Coconut Day 2026 pada 7–10 Oktober 2026. Ajang internasional tersebut akan menghadirkan peserta dari 21 negara dan menjadi forum kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, peneliti, serta pekebun kelapa dunia.
Rangkaian kegiatan dijelaskan Darwin, meliputi International Conference, Global Exhibition, Business to Business (B2B) Meetings, Capacity Building, hingga International Choir Competition sebagai etalase budaya Sulut.
Darwin optimistis penyelenggaraan World Coconut Day 2026 akan menjadi katalis bagi peningkatan investasi, perluasan pasar ekspor, promosi inovasi teknologi pengolahan, sekaligus mempercepat hilirisasi industri kelapa.
"Kami ingin momentum ini menjadi panggung dunia untuk menunjukkan bahwa Sulut tidak hanya merupakan sentra produksi kelapa nasional, tetapi juga siap menjadi pusat industri, investasi, perdagangan, dan bahkan pusat kelapa dunia," pungkas Darwin. (ewa)
Editor : Baladewa Setlight