Agustus hingga September Manado Masuk Puncak Kemarau, Lebih Kering dan Lama Akibat Fenomena El Nino

Ayurahmi Rais • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 20:10 WIB

 

Kebakaran melanda kawasan permukiman padat penduduk di Kelurahan Wanea, Lingkungan I, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara, Rabu (29/7/2026) malam.
Kebakaran melanda kawasan permukiman padat penduduk di Kelurahan Wanea, Lingkungan I, Kecamatan Wanea, Kota Manado, Sulawesi Utara, Rabu (29/7/2026) malam.

 

MANADO – Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), kini memasuki musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau akan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado, Dhira Utama, mengatakan dampak El Nino menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih lama dibandingkan kondisi normal.

"Untuk wilayah Manado saat ini masih memasuki musim kemarau. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026," ujarnya.

Kondisi cuaca yang semakin kering mulai menimbulkan berbagai dampak. Selain memicu kekeringan di sejumlah lahan pertanian, musim kemarau juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Dalam kurun waktu Mei hingga Juli 2026, Manado Post mencatat sejumlah kebakaran besar terjadi di Kota Manado, mulai dari pusat perbelanjaan, permukiman warga hingga lahan kosong

 

Kebakaran terbaru terjadi pada Rabu (29/7) malam di Lingkungan I, Kelurahan Wanea, Kecamatan Wanea. Kobaran api melanda kawasan permukiman padat penduduk dan dengan cepat menghanguskan sedikitnya 10 unit rumah warga. Akibatnya, puluhan warga kehilangan tempat tinggal.

Berdasarkan data sementara dari Kasatreskrim Polresta Manado, Kompol Elwin Kristanto, peristiwa tersebut berdampak pada 21 kepala keluarga (KK) atau sebanyak 82 jiwa.

Petugas Dinas Pemadam Kebakaran bersama personel kepolisian, TNI, dan masyarakat berupaya memadamkan api agar tidak merembet ke rumah-rumah lainnya. Namun, proses pemadaman berlangsung cukup sulit.

Material bangunan yang sebagian besar berbahan kayu, ditambah tiupan angin yang cukup kencang, membuat kobaran api cepat membesar dan sulit dikendalikan. Kondisi permukiman yang padat dengan jarak antarrumah yang berdekatan juga mempercepat penyebaran api.

"Data sementara terdapat 10 rumah yang terbakar. Sebanyak 21 kepala keluarga dengan total 82 jiwa terdampak. Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan karena saat ini petugas masih fokus melakukan pemadaman," kata Kompol Elwin.

Hingga berita ini diturunkan, petugas masih melakukan proses pendinginan di sejumlah titik untuk memastikan tidak ada bara api yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun besaran kerugian material akibat peristiwa tersebut.

 Polisi juga belum dapat memastikan sumber api dan akan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) setelah situasi dinyatakan aman.

Sementara itu, pemerintah bersama instansi terkait diperkirakan akan melakukan pendataan lanjutan terhadap warga terdampak guna menyalurkan bantuan darurat dan memenuhi kebutuhan dasar para korban.

Di tengah kondisi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, Wali Kota Manado, Andrei Angouw, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi kebakaran dan ancaman kekeringan. Ia juga mengajak warga menggunakan air bersih secara bijak.

"BMKG telah memperingatkan bahwa akan ada kekeringan yang cukup panjang. Jadi semua harus waspada. Saya berharap masyarakat bersiap menghadapi kondisi ini dan menghemat penggunaan air," tutupnya.(*)

Editor : Ayurahmi Rais
Puncak Kemarau Manado Agustus Puncak Kemarau Fenomena El Nino