MANADOPOST.ID–Saat ini Bangsa Indonesia akan merayakan 81 tahun Hari Kemerdekaan. Sekaligus mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan pertempuran dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Generasi muda saat ini perlu tahu, Tanah Minahasa memiliki sejarah panjang dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di antara deretan Pahlawan Nasional Indonesia, tiga putra berdarah Minahasa dikenang karena gugur akibat tembakan musuh ketika menjalankan tugas perjuangan, yakni Robert Wolter Mongisidi, Mayor Daan Mogot, dan Pierre Andreas Tendean.
Ketiganya berasal dari generasi yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan: rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan bangsa dan negara.
Menurut Mayjen TNI Rano Tilaar saat podcast dengan Manado Post beberapa waktu lalu, ketiga pejuang itu tidak wafat karena sakit atau usia lanjut, melainkan gugur di medan perjuangan dan dalam menjalankan tugas negara.
"Robert Wolter Mongisidi, Daan Mogot, dan Pierre Tendean gugur di medan perjuangan di saat menjalankan tugas negara. Ketigannya gugur setelah ditembak musuh," ujar Mayjen TNI Rano Tilaar yang juga Gubernur Akademi Militer.
Bahkan bisa dikatakan suku Minahasa yang penduduknya hanya sekitat 1 juta jiwa, tapi terbanyak memiliki pahlawan yang gugur tertembak dalam upaya berjuang membela bangasa dan negara.
Hal itu dikatakan Wakil Ketua Ikatan Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Sulawesi Utara Ronny Mongisidi.
"Suku Minahasa adalah suku yang terbanyak memiliki pahlawan. Saat ini ada 11 pahlawan dan masih akan bertambah karena yang lain masih dalam proses pengusulan. Dan kami yang tergabung dalam ikatan keluarga pahlawan nasional Indonesia Sulut bangga. Bahkan dari 11 pahlawan itu, 3 gugur dalam perjuangan. Minahasa juga terbanyak pahlawan yang gugur, " kata Ronny Mongisidi.
Seperti Robert Wolter Mongisidi, Pejuang LAPRIS yang Dieksekusi Belanda.
Robert Wolter Mongisidi lahir di Malalayang, Manado, pada 14 Februari 1925. Setelah menempuh pendidikan di HIS dan MULO Don Bosco Manado, ia sempat menjadi guru bahasa Jepang sebelum menetap di Makassar.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Mongisidi bergabung dalam perlawanan terhadap kembalinya Belanda melalui NICA. Bersama sejumlah pejuang, ia mendirikan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.
Perlawanan yang dipimpin Tou Bantik ini membuat Belanda beberapa kali menangkapnya. Setelah sempat melarikan diri, ia kembali tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Pada 5 September 1949, Robert Wolter Mongisidi dieksekusi oleh regu tembak Belanda di Makassar. Pengorbanannya kemudian diabadikan dengan penetapan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
"Setia hingga akhir di dalam keyakinan" adalah kalimat terakhir yang ditulis oleh pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi pada halaman Alkitab miliknya sebelum ia dieksekusi mati oleh tentara Belanda. Kalimat ini juga dikenal sebagai pesan rohani dan judul lagu rohani Kristen tentang keteguhan iman.
Chris Soumokil, Menteri Kehakiman Indonesia Timur saat itu. Dia memberikan hukuman mati kepada Mongisidi dan menolak permintaan amnesti oleh rekan-rekan dan keluarganya. Soumokil kemudian menghadapi nasib yang sama seperti Mongisidi, dieksekusi oleh regu tembak pada 12 Maret 1966
Kemudian yang kedua mati gugur dalam merebut kemerdekaan yakni Mayor Daan Mogot. Tou Minahasa ini gugur di pertempuran Lengkong.
Nama Elias Daniel "Daan" Mogot menjadi salah satu legenda perjuangan Republik. Ia lahir di Manado pada 28 Desember 1927, Daan menunjukkan kemampuan kepemimpinan sejak usia sangat muda.
Ia pernah menjadi instruktur PETA pada masa pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Berbekal pengalaman militernya, Daan Mogot turut menggagas berdirinya Akademi Militer Tangerang dan dipercaya menjadi direktur pertamanya.
Pada 25 Januari 1946, ia memimpin operasi pelucutan senjata tentara Jepang di Lengkong, Tangerang. Misi tersebut berubah menjadi pertempuran sengit setelah terjadi baku tembak. Meski telah terkena peluru di bagian dada dan paha, Daan Mogot tetap memimpin perlawanan hingga akhirnya gugur bersama puluhan taruna Akademi Militer Tangerang.
Saat gugur, usianya baru 18 tahun. Namanya kini diabadikan menjadi nama jalan utama di Jakarta sebagai penghormatan atas jasa-jasanya.
Pahlawan tou Minahsa ketiga yang gugur dalam tugas adalah
Pierre Tendean. Tendean gugur dalam Tragedi G30S, mempertahankan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari upaya para pengkhianat bangsa yang hendak merubah dan menjadikan NKRI sebagai negara komunis.
Pierre Andreas Tendean merupakan perwira muda TNI Angkatan Darat yang bertugas sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Gerakan 30 September (G30S) menyerbu rumah dinas Nasution. Dalam situasi gelap dan penuh kekacauan, Pierre Tendean mengaku sebagai Nasution.
Para penculik diduga mengira dirinya adalah Jenderal Nasution sehingga ia ditangkap dan dibawa ke Lubang Buaya.
Di lokasi tersebut, Pierre Tendean ditembak mati. Jenazahnya dibuang ke sumur tua bersama enam perwira TNI lainnya.
Setelah berhasil ditemukan pada 4 Oktober 1965, jenazahnya dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965.
Pengorbanannya menjadikan Pierre Tendean sebagai salah satu Pahlawan Revolusi yang dikenang sepanjang sejarah Indonesia.
Warisan Kepahlawanan
Kisah Robert Wolter Mongisidi, Daan Mogot, dan Pierre Tendean menunjukkan besarnya kontribusi putra-putra Minahasa dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Mereka berasal dari masa perjuangan yang berbeda, tetapi sama-sama memilih mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan, keutuhan, dan kehormatan negara.
Semangat patriotisme, keberanian, dan pengorbanan ketiga pahlawan tersebut menjadi warisan sejarah yang patut dikenang serta diwariskan kepada generasi muda agar nilai-nilai cinta tanah air tetap hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (*)
Editor : Tommy Waworundeng