MANADOPOST.ID- Pulau Sangihe kaya akan emas, namun wilayah ini masih menjadi salah satu daerah yang kurang sejahtera di Sulawesi Utara. Terdapat kontras yang mencolok: meskipun pulau ini memiliki kekayaan mineral yang melimpah, sebagian besar nilai ekonomi yang dihasilkan dari emasnya justru mengalir keluar akibat praktik pertambangan ilegal. Akibatnya, masyarakat setempat hanya memperoleh manfaat ekonomi yang minim, tidak ada kontribusi pajak, serta harus menanggung kerusakan lingkungan yang masif.
Baru-baru ini, sebuah satuan tugas yang berbasis di Jakarta melakukan intervensi untuk menghentikan operasi berskala besar yang melibatkan penambang ilegal asal Tiongkok daratan. Para penambang tersebut telah mendatangkan lebih dari 50 unit alat berat ke Sangihe, yang mengakibatkan kerusakan parah pada hutan, aliran air, hutan bakau, dan kawasan pesisir. Meskipun operasi tersebut menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pihak-pihak yang terlibat, hanya sebagian kecil nilai ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Masyarakat pun masih harus menghadapi berbagai tantangan mendasar, seperti pasokan listrik yang tidak stabil, kelangkaan obat-obatan, dan layanan publik yang belum memadai. Para penambang asal Tiongkok daratan tersebut kini telah meninggalkan lokasi, tanpa memberikan manfaat ekonomi yang berarti bagi Sangihe, namun menyisakan dampak kerusakan lingkungan yang nyata.
Berlatar belakang situasi tersebut, PT Tambang Mas Sangihe (TMS) bersiap untuk memulai operasinya dengan pendekatan yang sangat berbeda. Alih-alih sekadar melakukan ekstraksi emas sebagaimana yang terjadi pada praktik pertambangan ilegal, TMS berkomitmen untuk membangun kemitraan jangka panjang dengan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya. Perusahaan juga berupaya memastikan bahwa porsi yang lebih besar dari nilai ekonomi yang dihasilkan melalui pengelolaan sumber daya Sangihe tetap berada di pulau tersebut.
Dalam sebuah wawancara eksklusif yang membahas berbagai aspek, CEO TMS, Terrence Filbert, memaparkan visi perusahaan terkait proyek ini serta potensinya sebagai katalisator bagi pembangunan ekonomi yang lebih luas di seluruh Pulau Sangihe.
Filbert menguraikan rencana yang mencakup penciptaan ratusan lapangan kerja lokal yang stabil, dukungan bagi pelaku usaha dan pemasok di Sangihe, peningkatan pendapatan pajak, serta investasi di berbagai sektor seperti infrastruktur, energi panas bumi, pariwisata, pendidikan, dan pengembangan masyarakat. Dengan menempatkan pemantauan lingkungan, perlindungan sumber air, dan rehabilitasi lahan secara bertahap sebagai inti pendekatannya, TMS bertekad memastikan bahwa manfaat dari sumber daya Sangihe tetap berada di pulau tersebut dan dapat dinikmati secara lebih luas oleh masyarakat. Pernyataan beliau menggambarkan pandangan perusahaan yang tidak hanya melihat proyek ini sebagai investasi pertambangan semata, melainkan sebagai katalisator pembangunan ekonomi yang lebih luas, yang mampu menciptakan efek pengganda (*multiplier effect*) bagi perekonomian lokal. Inti dari pendekatan perusahaan ini adalah prinsip sederhana: jika masyarakat Sangihe sejahtera, TMS pun turut sejahtera. "Jika masyarakat berhasil, maka kami pun berhasil. Kami berencana untuk beroperasi di Sangihe selama sekitar 20 tahun; artinya, demi kepentingan kami sendiri untuk turut membantu pulau ini berkembang bersama kami," ujar Filbert.
Penyediaan Lapangan Kerja Langsung dan Tidak Langsung oleh PT Tambang Mas Sangihe
Menurut Filbert, setelah semua persetujuan pemerintah diperoleh, kegiatan pertambangan akan dimulai secara bertahap. Pada enam bulan pertama, TMS memperkirakan akan mempekerjakan sekitar 100 orang. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 200 karyawan pada tahun kedua seiring dengan perluasan operasi. Dalam jangka panjang, jumlah tenaga kerja dapat mencapai hampir 1.000 orang setelah tambang beroperasi dengan kapasitas penuh.
Namun, bagi Filbert, angka-angka penyerapan tenaga kerja ini hanyalah permulaan.
Dampak yang lebih signifikan, menurutnya, terletak pada bagaimana pendapatan para pekerja akan berputar dalam perekonomian lokal.
Gaji karyawan diperkirakan akan dibelanjakan di toko-toko setempat, pasar tradisional, restoran, layanan transportasi, dan berbagai usaha kecil di seluruh Sangihe. Aktivitas ekonomi ini, menurutnya, akan menciptakan peluang kerja yang melampaui sektor pertambangan itu sendiri.
"Kami tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung. Akan ada pula lapangan kerja tidak langsung yang tercipta melalui sektor jasa, perdagangan, dan rantai pasok operasional perusahaan," ujarnya.
Berbeda dengan banyak proyek pertambangan yang sangat bergantung pada pekerja dari luar daerah, PT Tambang Mas Sangihe menyatakan niatnya untuk memprioritaskan perekrutan penduduk setempat.
Menurut Filbert, banyak warga Sangihe yang telah memiliki pengalaman di industri pertambangan setelah bekerja di berbagai lokasi operasi di Sulawesi dan Papua. Ketersediaan tenaga kerja berpengalaman ini merupakan keuntungan besar yang mengurangi kebutuhan perusahaan untuk merekrut tenaga kerja dari luar pulau.
"Lebih baik bagi warga untuk bekerja di dekat rumah dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga setiap hari. Hal ini memberikan manfaat baik bagi masyarakat maupun perusahaan," katanya.
Bagi warga yang memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki pengalaman di bidang pertambangan, perusahaan berencana menyediakan pelatihan kejuruan dan program pengembangan keterampilan guna mempersiapkan mereka untuk meniti karier jangka panjang di industri ini.
"Kami ingin karyawan tetap bersama kami hingga masa pensiun. Hal itu hanya dapat terwujud jika kami juga berinvestasi pada kesejahteraan mereka serta keluarga mereka," ujar Filbert.
Menciptakan Peluang bagi Pertambangan Rakyat yang Legal
TMS juga sedang mempertimbangkan cara agar masyarakat setempat dapat berpartisipasi secara lebih langsung dalam ekonomi sektor mineral di Sangihe.
Sebagai bagian dari visi jangka panjangnya, perusahaan berencana menjajaki pembentukan beberapa wilayah Izin Pertambangan Rakyat (IPR) di sebagian area konsesinya yang tidak diperlukan untuk kegiatan utama penambangan perusahaan.
"Setelah TMS mencapai tahap produksi dan menyelesaikan proses regulasi yang diperlukan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), perusahaan berniat menyediakan area yang sesuai di mana para penambang lokal berpotensi untuk beroperasi secara legal di bawah skema IPR," ujar Bapak Flibert.
Model yang diusulkan ini akan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pertambangan yang teregulasi, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi tambahan.
Berdasarkan konsep yang dipaparkan oleh Flibert, TMS dapat memberikan dukungan berupa keahlian geologi dan teknis, membantu kegiatan eksplorasi jika diperlukan, serta membeli emas yang dihasilkan dari wilayah IPR tersebut untuk kemudian diproses di fasilitas milik TMS.
Tujuannya adalah menciptakan lingkungan pertambangan yang harmonis: TMS akan berfokus pada pengembangan operasi utama penambangannya, sementara masyarakat setempat mendapatkan jalur legal untuk berpartisipasi dalam ekonomi mineral pulau tersebut serta memperoleh bagian yang lebih besar dari nilai yang dihasilkan oleh sumber daya alamnya.
Energi Panas Bumi yang Terjangkau untuk Masa Depan Sangihe
Filbert juga memaparkan rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi, yang menurutnya dapat menjadi salah satu komponen paling transformatif dari proyek ini.
Berdasarkan penilaian awal, pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas sekitar 10 gigawatt (GW) dapat dibangun di dekat Gunung Awu, di bagian utara Pulau Sangihe, dengan perkiraan investasi sekitar US$40 juta. Filbert menyatakan bahwa TMS memiliki akses ke jaringan internasional yang mampu mendukung pembiayaan tersebut.
Ia berpendapat bahwa tingginya biaya dan masalah keandalan listrik masih menjadi salah satu hambatan terbesar bagi pembangunan ekonomi di Pulau Sangihe.
Saat ini, pembangkitan listrik sangat bergantung pada pembangkit bertenaga diesel, sehingga biaya energi menjadi mahal dan pasokannya rentan terhadap gangguan ketersediaan bahan bakar. Filbert meyakini bahwa energi panas bumi menawarkan solusi jangka panjang dengan menyediakan sumber listrik yang lebih bersih, lebih andal, dan lebih terjangkau.
Jika proyek ini terlaksana, listrik yang dihasilkan tidak hanya akan mendukung kegiatan pertambangan, tetapi juga memasok listrik berbiaya lebih rendah dan lebih andal bagi masyarakat setempat.
"Kami ingin semua orang di pulau ini mendapatkan manfaat dari listrik yang lebih murah. Hal itu merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujar Filbert.
Ia meyakini bahwa biaya listrik yang lebih rendah dapat menarik investasi baru di sektor manufaktur, industri digital, fasilitas penyimpanan berpendingin (cold storage), perikanan, dan sektor-sektor lain yang bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
Selain itu, energi panas bumi dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor sekaligus memperkuat ketahanan energi jangka panjang bagi penduduk maupun pelaku usaha.
"Listrik yang terjangkau bukan sekadar kebutuhan operasional; ini adalah investasi strategis bagi daya saing jangka panjang Sangihe," tambahnya.
Pertambangan sebagai Penggerak Pengembangan Pariwisata
Mungkin aspek yang paling tidak lazim dari visi jangka panjang perusahaan ini adalah ambisinya untuk memosisikan pertambangan sebagai katalis bagi pertumbuhan industri pariwisata Sangihe.
Alih-alih memandang pertambangan dan pariwisata sebagai sektor yang saling bersaing, Bapak Filbert meyakini bahwa keduanya dapat berkembang berdampingan, menciptakan ekonomi lokal yang lebih beragam dan tangguh. Ekonomi yang lebih tangguh, disertai ketersediaan barang dan jasa yang lebih baik, juga turut mendukung keberhasilan perusahaan TMS.
Begitu perusahaan mulai menghasilkan pendapatan dari produksi emas, TMS berencana menginvestasikan kembali sebagian keuntungannya untuk pengembangan masyarakat. Perusahaan juga berniat membantu mempromosikan Sangihe sebagai destinasi penyelaman internasional melalui kerja sama erat dengan hotel-hotel setempat, yang pada gilirannya akan mendorong maskapai penerbangan untuk meningkatkan frekuensi penerbangan ke kepulauan tersebut.
Pada saat yang sama, perusahaan sedang mempertimbangkan pemberian dukungan finansial kepada maskapai penerbangan seperti Wings Air untuk mendorong adanya penerbangan berjadwal rutin ke pulau tersebut, sehingga Sangihe menjadi lebih mudah diakses oleh wisatawan.
Berkat dukungan dari TMS ini, hotel-hotel lokal, operator penyelaman, pemandu wisata, restoran, penyedia layanan transportasi, dan berbagai usaha kecil akan memperoleh manfaat dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan serta frekuensi penerbangan.
Frekuensi penerbangan yang lebih tinggi dan beragamnya pilihan aktivitas rekreasi juga akan mempermudah akses ke pulau tersebut bagi karyawan TMS, mitra bisnis, dan pengunjung lainnya, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan itu sendiri.
Filbert berpendapat bahwa tantangan terbesar dalam menarik wisatawan bukanlah kualitas daya tarik alamnya, melainkan terbatasnya aksesibilitas menuju kepulauan tersebut.
"Sangihe sebenarnya memiliki potensi penyelaman yang luar biasa, dan saya ingin membantu mempromosikan kegiatan penyelaman di seluruh wilayah kepulauan ini. Tidak banyak orang yang bersedia menempuh perjalanan dengan kapal. Jika tersedia penerbangan rutin, pengunjung bisa datang dengan pesawat, menghabiskan satu atau dua hari untuk menyelam, lalu segera kembali. Hal ini menjadikan Sangihe destinasi akhir pekan yang menarik. Staf kami dan perusahaan juga akan diuntungkan oleh meningkatnya permintaan akan penerbangan rutin tersebut," jelasnya.
Membangun Bersama untuk Dua Dekade Mendatang
Bagi Filbert, TMS merupakan investasi jangka panjang, bukan sekadar usaha pertambangan jangka pendek.
Ia memperkirakan proyek ini dapat beroperasi selama kurang lebih 20 tahun. Selama kurun waktu tersebut, ia meyakini bahwa keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah emas yang dihasilkan.
Menurutnya, tolok ukur terbaik adalah kontribusi TMS terhadap peningkatan berkelanjutan di bidang lapangan kerja, infrastruktur, energi, pariwisata, usaha lokal, serta kualitas hidup masyarakat Sangihe secara keseluruhan.
"Oleh karena itu, visi perusahaan dibangun di atas gagasan yang melampaui sekadar pertambangan: bahwa pengembangan sumber daya mineral Sangihe dapat menjadi katalis bagi pembangunan pulau itu sendiri. Jika masyarakat berhasil, maka kami pun berhasil," ujar Filbert.
Bagi TMS, ambisinya adalah agar saat masa operasional tambang berakhir kelak, Sangihe tidak hanya mewarisi bekas lokasi tambang. Pulau ini diharapkan memiliki ekonomi yang lebih kuat, tenaga kerja yang lebih terampil, infrastruktur yang lebih baik, serta peluang yang lebih luas bagi penduduknya.
Editor : Tanya Rompas