Di Tengah Polemik Plt Rektor Unsrat Manado, Putra Sulut ini Pernah Pimpin Universitas Hasanuddin Makassar

Grand Regar • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 06:15 WIB
Potret Pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara yang juga pernah menjabat Rektor Universitas Hasanuddin Makassar, Arnold Mononutu, dan salah satu pertemuan petinggi Negara Indonesia Timur dengan utusan NICA-Belanda pada Desember 1947. (Kolase Berbagai Sumber)
Potret Pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara yang juga pernah menjabat Rektor Universitas Hasanuddin Makassar, Arnold Mononutu, dan salah satu pertemuan petinggi Negara Indonesia Timur dengan utusan NICA-Belanda pada Desember 1947. (Kolase Berbagai Sumber)

MANADOPOST.ID-Penunjukan Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi terus menjadi perbincangan di Sulawesi Utara. Di tengah kontroversi tersebut, publik kembali diingatkan pada fakta sejarah yang menarik: seorang putra asli Sulawesi Utara justru pernah dipercaya memimpin Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Tokoh itu adalah Prof. Mr. Arnold Mononutu, putra kelahiran Manado yang menjabat Rektor Universitas Hasanuddin periode 1960–1965. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh nasional yang mendapat kepercayaan memimpin perguruan tinggi terbesar di Indonesia Timur.

Pada tahun 1960, Arnold Mononutu diminta oleh Presiden Soekarno untuk menjadi rektor Universitas Hasanuddin.

Fakta sejarah tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah Kementerian menunjuk Prof. Jamaluddin Jompa, yang juga menjabat Rektor Universitas Hasanuddin Makassar, sebagai Plt Rektor Unsrat. Penunjukan itu memunculkan beragam respons dari sivitas akademika, alumni, hingga masyarakat Sulut.

Sebagian pihak mempertanyakan alasan penunjukan figur dari luar Unsrat untuk memimpin sementara perguruan tinggi tersebut. Namun, di sisi lain, sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan lintas daerah di perguruan tinggi negeri bukanlah hal baru di Indonesia.

Jauh sebelum polemik saat ini muncul, Prof. Arnold Mononutu yang juga merupakan Pahlawan Nasional asal Sulut, telah lebih dahulu membuktikan bahwa seorang putra Sulawesi Utara dipercaya memimpin Universitas Hasanuddin di Makassar.

Ia menjabat sebagai rektor pada periode 1960–1965 setelah sebelumnya mengabdikan diri sebagai Menteri Penerangan Republik Indonesia dan Duta Besar Indonesia pertama untuk Republik Rakyat Tiongkok.

Di bawah kepemimpinannya, Universitas Hasanuddin mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi jumlah mahasiswa maupun pembukaan sejumlah fakultas baru. Kiprah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan tinggi nasional.

Rektorat Unsrat sendiri sebelumnya telah buka suara terkait penggantian mendadak rektor. “Itu (soal penggantian) saya tidak tahu, karena yang menerbitkn surat penunjukan Plt adalah Kementerian Pendidikan Tinggi, jadi mungkin silahkan konfirmasi ke kementerian,” tandas Max Rembang, Humas Juru Bicara Unsrat, Rabu (5/8/2026).

Sementara itu, hingga kini Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi belum menyampaikan secara rinci alasan yang menjadi dasar penunjukan Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Plt Rektor Unsrat. Dari pihak Unsrat sendiri, sebelumnya telah disampaikan bahwa penunjukan tersebut merupakan keputusan pemerintah pusat yang harus dijalankan sesuai ketentuan.

Perbandingan dua peristiwa yang dipisahkan lebih dari enam dekade ini pun menarik perhatian publik. Jika saat ini seorang rektor dari Makassar dipercaya memimpin sementara Unsrat di Manado, sejarah justru mencatat, seorang putra Manado pernah mendapat kepercayaan memimpin Universitas Hasanuddin.(gnr)

Editor : Grand Regar
Plt Rektor Unsrat Jamaluddin Jompa rektor universitas hasanuddin Arnold Mononutu Putra sulut