MANADOPOST.ID — Tak ada yang pernah tahu kapan sebuah kecelakaan akan terjadi, apalagi menghendaki sebuah peristiwa berujung pada hilangnya nyawa.
Namun, ketika sebuah insiden menimbulkan korban jiwa, pertanyaan tentang bagaimana peristiwa itu terjadi, apakah seluruh aspek keselamatan telah dipenuhi, dan siapa yang harus bertanggung jawab, tak bisa begitu saja diabaikan.
Pertanyaan-pertanyaan ini kini mengemuka setelah gelaran Open Tournament TIDAR Drag Race & Drag Bike Kotamobagu Championship 2026 di Sirkuit Non-Permanent Jalan A.P. Mokoginta, Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Minggu (9/8/2026), berubah menjadi tragedi.
Ajang yang sedianya menjadi tontonan olahraga otomotif masyarakat itu berakhir dengan duka setelah sebuah kendaraan peserta mengalami insiden dan menerjang kerumunan penonton. Sejumlah warga meninggal dunia, sementara lainnya harus menjalani perawatan akibat luka berat dan luka ringan.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun Manado Post, para korban dievakuasi dan mendapatkan penanganan di RS Monompia dan RS Pobundayan.
Di RS Monompia, satu korban tercatat meninggal dunia, yakni Harianti Mokoginta, warga Bilalang 3 Utara. Sementara Nilawati Mokodongan (Pontodon Induk), Hadi Toisi (Pangian Tengah), Ali Jojang (Bilalang 4), Murdani Pobela (Bilalang Baru), Muxin Dondo (Pontodon Timur), Arhan Mokoginta (Bilalang 3), Rapiska Mokodongan (Genggulang), dan Enjelia Lito (Bilalang 3) mengalami luka berat. Prasetio Mokodongan (Pontodon) mengalami luka ringan.
Di RS Pobundayan, empat korban tercatat meninggal dunia, yakni Lisma Mokoginta (Bilalang Utara), Ali Ponamon (Pontodon Induk), Risna Longkun (Bilalang Baru), dan Biyo Mokoagow (Bilalang 3). Sementara Johar Mokoginta (Pontodon), Rina Longkun (Bilalang Baru), dan Rugaina Menangin (Bilalang IV) mengalami luka berat.
Data tersebut masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring perkembangan penanganan para korban.
Di tengah duka yang menyelimuti keluarga korban, perhatian publik kemudian bergeser pada satu hal.
Tentang bagaimana standar keselamatan kegiatan tersebut dan sejauh mana tanggung jawab pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraannya?
Kolom komentar media sosial Manado Post pada pemberitaan terkait tragedi tersebut dipenuhi ungkapan duka, kekecewaan, hingga desakan agar aparat kepolisian mengusut peristiwa ini secara menyeluruh.
Sejumlah warganet mempertanyakan penggunaan jalan yang disebut berada di kawasan permukiman sebagai lintasan balap serta sistem pengamanan bagi penonton.
Akun Fikry Pakelo, misalnya, menulis, "Adoh balap liar ini, kong sapa yg mo tanggung jawab klu so jadi bagini."
Sementara akun Hisbul Djadinira menyoroti lokasi kegiatan. "Bodok sx eeeh Kegiatan bgini kog mo bekeng di tengah kampung....MirissSS...😡" tulisnya.
Pertanyaan mengenai penggunaan jalan umum juga disampaikan akun Manuel Karel. "Kiapa kong jalan umum ngoni beking arena balap dang setang,??".
Komentar serupa datang dari akun Ling Zhu yang menulis singkat, "Jalan umum bukan arena balapan."
Akun Dylan Patwin bahkan mempertanyakan keberadaan pengawasan di lokasi. "Balap liar ini? Petugas nda tau atau gimana???"
Sorotan lain datang dari akun Beslar Altje yang menulis, "Wajah seseorang yang baru belajar mengemudi mobil stou ,,masa dri Jao so bjalang KA left, walaupun mobilnya ada di kknn".
Sementara itu, aspek keselamatan menjadi salah satu sorotan paling keras. Akun Putra Bitung mempertanyakan standar pengamanan yang diterapkan dalam kegiatan tersebut.
"Panitia harus bertanggung jawab sih ini masa ifen bgini nda safety cma bkg pengbatas jlg dg tali kira ini ada lari karong stohh, ifen Laeng sama dg manado Makasar pake pagar dg ban ini tali rafia nda ada dana kwa mo bkg ifen ngoni tanggung Jawab itu korban," tulisnya.
Desakan pertanggungjawaban juga disampaikan akun Acha Tazya Watory.
"Turut berduka cita 🙏 Jln umum kwah bukan sirkuit resmi, panitia lah yng tanggung jawab, ndah ada pembatas jalan cuma tali rafia kong di area..." tulisnya.
Komentar yang secara langsung meminta proses hukum datang dari akun Harpoll.
"Proses hukum,,,Penyelenggara/panitia musti bertangung jawap😢😢😢".
Sedangkan akun Rikmini Sakka menyoroti lokasi kegiatan yang disebut berada di tengah permukiman. "Innalillahi....Ini noo...di tengah pemukiman warga yg padat penduduk, konk bking balapan. Panitia harus bertanggung jawab."
Berbagai komentar tersebut merupakan suara warga yang disampaikan melalui ruang publik.
Di sisi lain, Ketua Panitia Lucky Sugeha memastikan, panitia penyelenggara siap memikul tanggung jawab penuh atas seluruh dampak peristiwa nahas pascakejadian, termasuk biaya pengobatan para korban yang kini berjuang di rumah sakit."
Di hadapan deretan korban yang berbaris di ruang perawatan, ia tampak terpukul dan menyesali peristiwa yang merenggut nyawa serta melukai belasan warga tersebut." Intinya kami siap bertanggung jawab penuh atas kejadian ini," kuncinya.
Manado Post tidak menempatkan komentar warganet sebagai kesimpulan mengenai siapa yang bersalah dalam insiden ini. Sebaliknya, sorotan tersebut menjadi bagian dari aspirasi publik yang perlu dijawab melalui proses pemeriksaan dan pengusutan yang transparan.
Editor : Ayurahmi Rais