PR BESAR DUNIA PENDIDIKAN SULUT: Anak Muda Banyak Tidak Bersekolah, Pola Pikir Orang Tua Jadi Kunci

Filip Kapantow • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 01:40 WIB
 
 
Drs Jahja Paulus Rondonuwu MSi
Drs Jahja Paulus Rondonuwu MSi
 
MANADOPOST.ID— Dunia pendidikan Sulawesi Utara menghadapi Pekerjaan Rumah (PR) besar. 
 
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, provinsi ini mencatat persentase anak muda usia 15–24 tahun yang tidak sedang bersekolah, bekerja maupun mengikuti pelatihan atau Not in Employment, Education, or Training (NEET) tertinggi di Indonesia.
 
Berdasarkan data BPS yang terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026, persentase NEET Sulawesi Utara mencapai 29,52 persen. 
 
Angka ini menempatkan Sulut di posisi pertama secara nasional, disusul Maluku dengan 28,49 persen.
 
Data tersebut bukan sekadar angka statistik. Persentase 29,52 persen berarti hampir tiga dari setiap sepuluh anak muda Sulut berada di luar tiga ruang penting pembentukan masa depan, yakni pendidikan, pekerjaan dan pelatihan keterampilan.
 
Kondisi ini menjadi sinyal serius bagi pemerintah daerah, dunia pendidikan, keluarga dan seluruh pemangku kepentingan pembangunan sumber daya manusia.
 
Jika tidak segera direspons dengan kebijakan yang terukur, tingginya NEET berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia, produktivitas daerah dan kesiapan Sulawesi Utara menghadapi bonus demografi.
 
Di tengah persoalan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Sulawesi Utara Drs Jahja Paulus Rondonuwu MSi. menghadapi tugas berat untuk memastikan sistem pendidikan daerah mampu menjawab tantangan generasi muda yang semakin kompleks.
 
Namun, persoalan pendidikan tidak semata-mata berada di ruang kelas atau menjadi tanggung jawab pemerintah.
 
Ada faktor yang jauh lebih dekat dengan anak, yakni keluarga dan pola pikir orang tua.
 
PENDIDIKAN HARUS KEMBALI MENJADI PRIORITAS KELUARGA
 
Sulawesi Utara sebenarnya memiliki catatan panjang mengenai tradisi masyarakat yang menempatkan pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki masa depan keluarga.
 
Pada generasi orang tua dan oma-opa dahulu, keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi alasan untuk menghentikan pendidikan anak.
 
Sebaliknya, banyak orang tua rela bekerja keras, bahkan mengorbankan hasil kebun dan usaha keluarga, agar anak-anak mereka dapat bersekolah setinggi mungkin.
 
Tradisi itu, terlihat dari banyaknya anak-anak Sulawesi Utara yang dahulu dikirim keluar daerah untuk melanjutkan pendidikan.
 
Pengorbanan tersebut melahirkan banyak sumber daya manusia yang kemudian kembali berkontribusi bagi daerah maupun bangsa.
 
Pengalaman keluarga menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan merupakan investasi yang nilainya tidak mudah tergantikan.
 
Bahkan hingga kini, sejumlah program studi favorit di Sulut memiliki daya tarik yang kuat bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah.
 
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), misalnya, dikenal memiliki peminat tinggi. 
 
Minat tersebut bahkan membuat persaingan untuk mendapatkan kursi pendidikan kedokteran menjadi sangat ketat.
 
Artinya, persoalannya bukan semata-mata apakah pendidikan Sulut mampu menghasilkan lulusan berkualitas.
 
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah seluruh keluarga di Sulawesi Utara masih menempatkan pendidikan anak sebagai prioritas utama?
 
Di sinilah perubahan pola pikir menjadi penting.
 
Tingkat kehidupan masyarakat memang menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan pendidikan. Tetapi, pada saat yang sama, keputusan orang tua juga sangat menentukan.
 
Orang tua perlu kembali memiliki keyakinan bahwa pendidikan adalah bekal jangka panjang bagi anak. Pendidikan adalah bekal yang tak tertandingi.
 
NEET HARUS MENJADI ALARM PEMERINTAH
 
Pengamat pembangunan daerah Harianto Nanga SPi menilai tingginya angka NEET di Sulawesi Utara tidak boleh dipandang sekadar sebagai statistik tahunan.
 
Menurutnya, angka tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan pendidikan, pelatihan kerja dan penyerapan tenaga kerja bagi generasi muda.
 
“Data tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah,” tegas Harianto.
 
Harianto menilai Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama pemerintah kabupaten dan kota perlu memperkuat kolaborasi lintas sektor.
 
Anak-anak muda yang putus sekolah maupun belum mendapatkan pekerjaan harus kembali memperoleh akses terhadap pendidikan kesetaraan, pelatihan vokasi hingga peluang kerja yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
 
Menurutnya, penanganan tidak cukup hanya dengan program jangka pendek.
 
Harus ada pemetaan kelompok umur, identifikasi penyebab anak keluar dari sistem pendidikan, penguatan keterampilan dan koneksi yang lebih nyata antara lembaga pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
 
Tanpa langkah terukur, tingginya angka NEET berpotensi berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi baru bagi Sulawesi Utara.
 
167 KEPALA SEKOLAH JUGA MENJADI PEKERJAAN RUMAH
 
Selain persoalan peserta didik, pembenahan manajemen satuan pendidikan juga menjadi bagian penting dari pekerjaan rumah pendidikan Sulut.
 
Ketua AGIS Dr Arnold Poli SH MAP menyoroti perlunya segera disampaikan kepada Gubernur Sulawesi Utara terkait kondisi 167 kepala sekolah SMA/SMK yang disebut sebagian telah menjalankan tugas sebagai pelaksana tugas (Plt) hingga empat tahun.
 
Menurutnya, kepala sekolah yang telah memenuhi ketentuan perlu segera mendapatkan kepastian status definitif.
 
“Segera menyampaikan ke Pak Gubernur agar 167 Kepsek SMA/SMK yang sudah ada yang empat tahun Plt segera didefinitifkan,” tegas Poli.
 
Kepastian kepemimpinan sekolah dinilai penting agar tata kelola satuan pendidikan dapat berjalan normal, efektif dan memiliki arah kebijakan yang jelas.
 
Sebab, membangun pendidikan bukan hanya soal gedung sekolah, kurikulum dan angka kelulusan.
 
Ada kepemimpinan sekolah, kualitas guru, dukungan keluarga, akses pendidikan, keterampilan kerja dan terutama kemauan anak untuk terus belajar.
 
PR BESAR: MENGEMBALIKAN KESADARAN BAHWA SEKOLAH ITU PENTING
 
Ketua Umum DPP Kerukunan Keluarga Nusa Utara Indonesia Dr Hendrik Manossoh menilai Data NEET 29,52 persen seharusnya menjadi momentum bagi Sulawesi Utara untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
 
"Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan sistem pendidikan yang berkualitas dan mudah diakses. Sekolah memiliki tanggung jawab membangun lingkungan belajar yang relevan. Dunia usaha memiliki peran membuka ruang pelatihan dan pekerjaan," tegas Manossoh.
 
Tetapi, keluarga tetap menjadi lingkungan pendidikan pertama dan terpenting bagi seorang anak.
 
Karena itu, pekerjaan rumah terbesar pendidikan Sulut bukan hanya bagaimana meningkatkan angka partisipasi sekolah.
 
"Lebih jauh, bagaimana membangun kembali budaya keluarga yang menomorsatukan pendidikan anak. Orang tua generasi terdahulu mungkin tidak memiliki banyak sumber daya. Tetapi mereka memiliki satu keyakinan kuat: anak harus sekolah supaya menjadi orang. Keyakinan itu perlu terus dihidupkan kembali," ungkap Manossoh yang sukses menyekolahkan putri tercinta Christansya Manossoh di Universitas Gadjah Mada.
 
Sebab, ketika pendidikan menjadi prioritas keluarga, sekolah mendapatkan dukungan. Ketika sekolah diperkuat, kualitas sumber daya manusia meningkat. Dan ketika sumber daya manusia semakin berkualitas, masa depan Sulawesi Utara akan memiliki fondasi yang lebih kuat.
 
"Pendidikan bukan sekadar biaya yang harus dikeluarkan orang tua hari ini. Pendidikan adalah bekal yang dibawa anak sepanjang hidupnya," kuncinya. (mpd)
Editor : Filip Kapantow
PR Dunia Pendidikan Sulut