MANADOPOST.ID- Gubernur Akademi Militer Mayjen TNI Rano Maxim Adolf Tilaar berkesempatan memberikan motivasi ke siswa siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 44 Minahasa. Dengan langkah gagah, Jenderal lulusan Akmil tahun 1993 ini disambut puluhan siswa dari sekolah yang berdiri di desa Tampusu, Sulawesi Utara, akhir pekan lalu.
Alunan musik kolintang dan atraksi baris berbaris dari para siswa program pendidikan gratis berbasis asrama yang diinisiasi oleh pemerintah Indonesia ini mengiringi kedatangan rombongan. Diketahui rangkaian kunjungan ini dalam kegiatan Taruna Bhakti yang sementara berlangsung.
Dalam kesempatan ini, dirinya yang menjabat Gubernur Akmil dari Juli 2025 lalu, langsung memperkenalkan dan menjelaskan para pahlawan nasional asal Sulawesi Utara yang gugur secara heroik di medan laga. Ada Daan Mogot, Gustaaf Lembong, Wolter Monginsidi dan Piere Tendean.
"Kita rakyat Sulut sudah membuktikan bahwa berkorban buat bangsa dan negara adalah indah. Nama kita akan jadi harum sampai 7 turunan kita," tegasnya.
Rano Tilaar juga menjelaskan bahwa dirinya tidak dilahirkan dari keluarga tradisi Militer. "Saya dilahirkan dari keluarga dokter. Ayah dan kakek dokter. Namun saya mengenal Militer, dikenalkan dari disiplin Militer di Paskibraka," ungkapnya yang kala itu turut membawa para Taruna agar para siswa lebih mengenal Akademi Militer bersama satuan komando kewilayahan juga hadir.
"Agar siswa siswi bisa berinteraksi. Ingat kalau mengidolakan seseorang bisa saja suatu saat menjadi sama seperti mereka. Makanya tujuan bukan jadi Militer, minimal siswa bisa menyerap apa nilai dari Akmil. Sebagai kawah candradimuka yang diambil dari mitologi Jawa," tambahnya.
Halnya ditempa di Akmil untuk menjadi pejuang dan kesatria. "Yang harus memiliki nilai patriotisme dan nasionalisme. Diharapkan ketika jadi prajurit, tidak bisa lagi memilih, seorang nasionalis mau ditempatkan dimana saja, yang namanya masih NKRI tugas kamu mempertahankan," terangnya.
Mayjen Rano Tilaar juga memberikan motivasi denhan memperkenalkan karirnya dari awal masuk Akademi Militer. Juga sewaktu dirinya masuk Kopassus yang direkomendasikan langsung seniornya, Prabowo Subianto. Dirinya pun mengabdi di Kopassus selama hampir 20 tahun.
Juga berbagai kegiatan latihan bersama. Tugas operasi, dari Aceh, Timor Timur, Papua, Perbatasan Indonesia Filipina. "Definisi daripada persaudaraan yakni memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan. Sulut contoh baik, kerukunan antar umat beragama tidak pernah terusik," tegasnya lagi.
"Sulawesi Utara beruntung dikaruniai Tuhan toleran tinggi. Persamaan selalu dikuatkan seperti tercermin dari sekolah rakyat, yang sangat erat kerukunan antar umat beragama," tambahnya lagi.
"Saya yakin persaudaraan kalian tidak akan terpecah. Banyak yang ingin mengusik, puji Tuhan kita tidak pernah terpecah belah. Apapun kalian akan jadi apa nanti, TNI, Polri, sarjana berbagai macam disiplin ilmu. Saya ingatkan apa yang disampaikan John F Kenedi, jangan tanyakan apa yangdilakukan negaramu untukmu, tanyakan apa yang dapat kamu lakukan untuk negaramu," sambungnya yang juga menyerahkan bantuan ke SRMA Minahasa.(*)
Editor : Reza Abdilah