MANADOPOST.ID-Hari ini, Senin 17 Agutus 2026, seluruh Bangsa Indonesia sementara merayakan 81 Tahun Proklamasi Kemerdekaan. Sekaligus mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur di medan pertempuran dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu yang perjuangannya sangat heroik yakni Robert Wolter Mongisidi. Putra Bantik Minahasa itu gugur ditembak Belanda sambil meninggalkan kalimat perjuangan, 'Setia hingga akhir di dalam keyakinan'.
Kalimat yang dikutib RW Mongisidi dari Alkitab itu, kemudian menjadi kalimat pembangkit semangat juang para pejuang pejuang tanah air dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI dari para penjajah.
Nama Robert Wolter Mongisidi pun diusulkan digunakan sebagai nama Komando Daerah Militer (Kodam) yang ada di Sulawesi Utara. Nama Kodam XIII Merdeka diganti menjadi Kodam Robert Wolter Mongisidi.
Karena nama XIII Merdeka tidak tepat sebab merupakan nama Sandi Penumpasan Permesta oleh tentara pusat.
Karana itu beberapa warga Minahasa yang enggan namanya diberitakan, mengusulkan agar nama RW Mongisidi dipakai sebagai nama Kodam di Sulut.
Tapi ada juga usulan lain. Yaitu nama RW Mongisidi ditambahkan saja. "Jadi namanya Kodam XIII Merdeka RW Mongisidi," kata Ketua Ikatan Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI) Sulawesi Utara Ronny Mongisidi.
Berikut sekilas perjuangan pahlawan RW Mongisidi yang heroik gugur membela tanah tumpa darah Indonesia.
Robert Wolter Mongisidi lahir di Malalayang, Manado, pada 14 Februari 1925. Setelah menempuh pendidikan di HIS dan MULO Don Bosco Manado, ia sempat menjadi guru bahasa Jepang sebelum menetap di Makassar.
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Mongisidi bergabung dalam perlawanan terhadap kembalinya Belanda melalui NICA. Bersama sejumlah pejuang, ia mendirikan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.
Perlawanan yang dipimpin Tou Bantik ini membuat Belanda beberapa kali menangkapnya. Setelah sempat melarikan diri, ia kembali tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Pada 5 September 1949, Robert Wolter Mongisidi dieksekusi oleh regu tembak Belanda di Makassar. Pengorbanannya kemudian diabadikan dengan penetapan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
"Setia hingga akhir di dalam keyakinan" adalah kalimat terakhir yang ditulis oleh pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi pada halaman Alkitab miliknya sebelum ia dieksekusi mati oleh tentara Belanda. Kalimat ini juga dikenal sebagai pesan rohani dan judul lagu rohani Kristen tentang keteguhan iman.
Chris Soumokil, Menteri Kehakiman Indonesia Timur saat itu. Dia memberikan hukuman mati kepada Mongisidi dan menolak permintaan amnesti oleh rekan-rekan dan keluarganya. Soumokil kemudian menghadapi nasib yang sama seperti Mongisidi, dieksekusi oleh regu tembak pada 12 Maret 1966. (*)
Editor : Tommy Waworundeng