Dedikasinya di Timor Timur, Dianugerahi SATYA LENCANA SEROJA dari Presiden Soeharto Lewat Menhan

Tommy Waworundeng • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 10:01 WIB
Jenasah almarhum Ferry Rende disemayamkan di rumah duka, ditemani istri tercinta Ibu Yeni Soputan. Insert foto semasa hidup
Jenasah almarhum Ferry Rende disemayamkan di rumah duka, ditemani istri tercinta Ibu Yeni Soputan. Insert foto semasa hidup

 

 

MANADOPOST.ID-Almarhum Ferry Rende ternyata semasa hidup, sempat berjuang di Timor Timor untuk membela NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 

Atas keberanian dan dedikasinya di daerah operasi Timor Timur, Ferry dianugerahi SATYA LENCANA SEROJA, diserahkan oleh Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf atas nama Presiden Republik Indonesia ke-2, Jenderal Besar H.M. Soeharto. 

Berikut riwayat hidup lengkap Ferry Rende yang dikirim istri almarhum, Ibu Yeni Soputan. Yang diambil dari coretan Jefry Rawis, Beny Matindas, dan dari tulisan sendiri Ferry Rende. "Suami  saya sudah menulis apa saja tang telah Ia lakukan. Rencana akan dibuat buku. Filenya ada simpan di laptop. Tapi teman teman almarhum sudah mengirim juga," ujar Ibu Yeni Soputan, istri almarhum. 

Berikut riwayat hidup almarhum Ferry Rende. 
Lahir 3 Maret 1956 di Kawangkoan, Minahasa, sebuah daerah yang melahirkan banyak pemimpin, cendekiawan, dan pejuang bangsa. Ferry tumbuh dalam keluarga sederhana namun kaya nilai perjuangan, integritas, dan spiritualitas kerja keras.
Ayahnya, Joost Adrian Rende, adalah seorang pekerja serba bisa: memulai kehidupannya sebagai tukang kayu, kemudian beralih menjadi tukang jahit, sambil tetap menjadi petani untuk menafkahi keluarga. Dari sang ayah, Ferry belajar arti ketekunan, disiplin, dan kehormatan dalam kesederhanaan.
Ibunya, Juliana Mioyo, lahir di Ayamaru, Papua Barat Daya pada era pra-kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan putri dari Gerard Mioyo, seorang prajurit KNIL yang meski hidup di masa kolonial, dikenal memiliki kecintaan besar pada cita-cita Indonesia Merdeka. Ibunda Juli -panggilan akrabnya- tertular budaya kerja keras dan konsisten karena hingga 80an tahun almarhumah masih menekuni profesi tukang jahit baju.  Juli wafat usia 82 tahun pada 12 Desember 2021. Dari jalur ibu inilah Ferry mewarisi jiwa kerja keras, disiplin dan konsistensi serta kepekaan patriotik yang berakar kuat pada sejarah. 
Dari garis ayah, semangat itu semakin kokoh. Opa-nya, Festus “Kopral” Rende, juga seorang prajurit KNIL yang dianugerahi Bintang Aceh, sebuah penghargaan bagi para prajurit yang ikut menjaga keutuhan NKRI di Daerah Istimewa Aceh. 
Latar dua opa prajurit ini menjadikan jiwa bela negara Ferry sebagai sebuah warisan generasi—bukan hanya pilihan pribadi.

*Pendidikan dan Pembentukan Karakter*
Ferry menempuh pendidikan dasar di SD GMIM Leilem, kemudian melanjutkan ke SMP Kristen Leilem, dan selanjutnya ke jurusan Tata Niaga (Marketing/Pemasaran) di SMEA Kristen Kawangkoan. Pendidikan menengah ini memperkenalkannya pada dunia ekonomi dan kewirausahaan yang kelak membantunya dalam profesi mengajar dan jurnalistik.
Kemudian pada tahun 1975, Ferry diterima sebagai mahasiswa Jurusan Ekonomi Perusahaan pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial (FKIS) di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri Manado. Ferry menyelesaikan seluruh proses akademik, namun tidak mengikuti ujian akhir dan wisuda. Meski tidak memperoleh ijazah formal, predikat Bachelor of Arts (BA) tetap melekat padanya, sekaligus menunjukkan bahwa ilmu yang ia dapatkan jauh lebih bermakna dibanding sekadar dokumen akademik.

*Pengabdian sebagai Pengajar*
Sejak masih mahasiswa, Ferry sudah aktif menjadi pengajar di berbagai sekolah swasta. Ia mengajar di lingkungan Yayasan Pendidikan Kristen ElFatah Manado, mengampu pelajaran di SMP, SMEA, dan SMA. Ia juga mengajar di SMA Kristen Bethesda Manado dan sejumlah sekolah lain, menjadikannya sebagai pendidik muda yang dikenal cerdas, komunikatif, dan berdedikasi.

Kepercayaan yang lebih besar datang dari Ketua Yayasan ElFatah, Drs. E.A.W. Possumah, yang menunjuk Ferry sebagai Pelaksana Kepala Sekolah SMP Kristen ElFatah Manado. Di usia yang masih muda, Ferry telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan dan manajerial yang matang.

Di kampus sendiri—di Fakultas Pendidikan IPS IKIP Manado—ia pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ilmu Pemasaran, sebuah peran yang mempertebal fondasi akademik dan kemampuan analitisnya.

Pernah pula menjadi tim penginjilan pada Yayasan Literatur Kristen Indonesia (YALKI) untuk mengabarkan Injil Yesus Kristus di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Untuk aras gereja, pernah menjadi pelayan khusus sebagai Syamas atau Diaken di lingkungan GMIM Kristus Manado dengan jabatan Ketua Komisi Literatur. Tugas pokok komisi ini adalah mengelola Toko Buku Gamaliel serta Perpustakaan GMIM Jemaat Kristus Manado. 

Masih di lingkungan gereja ini, pernah selaku Wakil Ketua Komisi Pelayanan Kategorial Pria/Kaum Bapa; dan dua kali menjadi Sekretaris Komisi Animatea. Komisi yang mengelola Taman Pekuburan Arimatea milik GMIM Jemaat Kristus di Kayuwatu Manado. Pimpinan gereja juga mempercayakan kepada Ferry menjadi aktifis kepanitiaan seperti Sekretaris Panitia Hari Ulang Tahun ke -50 dan pada momentum yang sama, Ferry dipercayakan menulis serta mengedit  Buku _50 Tahun GMIM Jemaat Kristus Manado_ yang terbit tahun 2012. 

*Pengabdian Bela Negara*
Puncak pembentukan watak patriotiknya terjadi ketika ia aktif di Komando Resimen Mahasiswa (Menwa)  Sam Ratulangi atau Mahasamra pada 1978–1979. Di sinilah negara memanggil. Ferry ditugaskan sebagai sukarelawan ke Timor Timur, sebuah kehormatan yang hanya diberikan kepada putra-putra bangsa terpilih yang memiliki disiplin, mental baja, dan loyalitas tinggi.

 Tahun medio hingga akhir 1979, Ferry menjadi Siswa Kursus Kader Pimpinan (Suskapin) Resimen Mahasiswa se Indonesia di Jakarta dan Jawa Timur (khusus pelatihan tempur lapangan dan survival di Hutan Lawang). 

Atas keberanian dan dedikasinya di daerah operasi Timor Timur, Ferry dianugerahi SATYA LENCANA SEROJA, diserahkan oleh Menhankam/Pangab Jenderal M. Jusuf atas nama Presiden Republik Indonesia ke-2, Jenderal Besar H.M. Soeharto. 

Setiap pejuang di daerah Timor Timur yang memperoleh Bintang Satya Lencana Seroja dalam proses keanggotaan Legiun Veteran Republik Indonesia. 

Penghargaan itu menegaskan bahwa Ferry bukan hanya penulis yang mengisahkan perjuangan—ia sendiri adalah bagian dari perjuangan itu.

*Karier Jurnalistik dan Dunia Media*
Setelah masa tugas negara dan pengabdiannya di dunia pendidikan, Ferry mengambil keputusan penting: beralih sepenuhnya menjadi jurnalis profesional. Pilihan ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa untuk berada di baris depan penyampaian informasi, dokumentasi sejarah, dan pembelaan nilai kebenaran.

Ia menorehkan perjalanan panjang di berbagai media nasional dan daerah, antara lain:

Berawal dari Harian Cahaya Siang di Manado atas ajakan jurnalis Dr. Jeffrey Rawis 

Jawa Pos di Surabaya dan perwakilan Jakarta yang dituntun langsung Bos Jawa Pos, Dahlan Iskan. 

Harian Gala Bandung dan Media Indonesia perwakilan Jawa Barat lalu kemudian ditarik ke kantor pusat Gondang Dia Jakarta pada tahun 1983.  Harian Media Indonesia merupakan milik Surya Paloh, pengusaha dan politisi. 

Indonesian Observer, Harian Mandiri, Mandiri Online (www.mandiri.com), SwaraTV sebuah media yang khusus meliput menyiarkan setiap kegiatan di dalam lembaga legislatif yaitu DPR dan MPR RI di kawasan Senayan Jakarta.

Ikut membidani kelahiran Lembaga Penyiaran Televisi Swasta Lokal pertama di Indonesia Timur khususnya Sulawesi Utara yaitu Televisi Manado atau TVM. Selain selaku Pemimpin Redaksi, para pemegang saham memberikan kepercayaan kepada Ferry menjadi Direktur Utama PT Televisi Sejahtera Manado. 

Setelah dari TVM kembali ke Jakarta bersama Audrey Tangkudung mengelola Tour & Travel TV. Sebuah televisi khusus bernuansa Pariwisata Indonesia. Siaran ini terpantau melalui kanal televisi berbayar Indovision milik Peter Gontha. 

Kembali lagi ke Manado ketika diajak Dr. Jusak Kereh sang pemilik televisi swasta lokal lainnya yaitu menjadi Pemimpin Redaksi pada Pacific TV Manado.

Di setiap media, Ferry dikenal sebagai jurnalis dengan ketajaman analisis, keberanian berpendapat, serta kepedulian besar pada isu-isu sosial, politik, dan sejarah perjuangan bangsa.

*Memimpin Ziarah ke Hollyland*
Jedah dalam kegiatan penyiaran televisi, Ferry diajak Ronny Tambayong (kini almarhum), seorang pemilik  travel di Jakarta PT Hidup Makmur Terencana (HMT). Perusahaan perjalanan ini khusus melayani peziarah ke Tanah Suci atau Holyland (dengan tujuan Mesir, Israel, Turki, Yordania dll).  Ferry pun bergabung dan dipercayakan mengepalai Kantor Perwakilan Manado Sulawesi Utara.
Untuk pertama kalinya pada November 2014 Ferry dipercayakan oleh HMT memimpin rombongan peziarah rohani asal Sulawesi Utara, NTB, NTT, dan beberapa orang dari Jakarta. Rombongan  kembali dengan selamat dan penuh sukacita untuk berniat kembali lagi.

Akhirnya niat itu terulang. Pada November 2017, pengelola HMT mempercayakan Ferry kembali memimpin peziarah. Kali ini, rombongan yang Ferry pimpin sempat nginap semalam di Dubai sebelum lanjut ke Mesir, Israel dan berakhir di Yordania. Seperti sebelumnya, lama perjalanan adalah 12 hari. Pengalaman rohani yang luar biasa. 

*Staf Khusus Penjabat Gubernur di Tiga Provinsi*
Pengalaman baru kembali Ferry rasakan. Ini juga unik. Terjadi pada kurun waktu 2015/2016; 2016/2017 dan 2018. 

Seorang pejabat Eselon 1 (Satu) di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia yaitu Dr. Soni Sumarsono, Direktur Jenderal Otonomi Daerah mengajak Ferry untuk menjadi advisornya. 

Rupanya Sumarsono telah memegang surat keputusan atau SKep atau SK Presiden RI Joko Widodo. Yaitu SKep tentang pengangkatan Sumarsono selaku Penjabat Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. 
SKep itu muncul karena masa jabatan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang (2005-2010 dan 2010-2015) telah berakhir dan Sumarsono ditunjuk sebagai penjabat pengganti. 
Tugas Sumarsono ada tiga yaitu Satu, memastikan penyelenggaraan pemerintahan di Sulawesi Utara berjalan baik; Kedua, memastikan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah berjalan aman, lancar dan sukses serta; Ketiga, memastikan keamanan dan ketertiban umum di Sulawesi Utara kondusif.

Guna mewujudkan tiga tugas pokok dan misi pemerintah pusat kepada Sumarsono, maka dia memerlukan seseorang yang mampu menjadi staf khusus beliau di bidang Komunikasi Publik dan Politik. 

Tahu bahwa Ferry Rende memiliki keahlian kemampuan serta pengalaman mumpuni pada bidang komunikasi publik, Sumarsono mengundang Ferry ke Jakarta fan bertemu di suatu tempat. Setelah berdiskusi singkat, Sumarsono mengangkat Ferry untuk menjadi Advisornya dengan Surat Keputusan pada jabatan Staf Khusus Gubernur.
Bersyukur setelah dijalani selama enam bulan dengan sukses Sumarsono memboyong Ferry menjadi Staf Khusus Direktur Jenderal Otonomi Daerah di Kemendagri. 

Pada Oktober 2016, tatkala Sumarsono kembali dipercayakan menjadi pelaksana Gubernur DKI Jakarta, Ferry pun diajak untuk posisi yang sama Staf Khusus Bidang Komunikasi Publik dan Politik.
Saat itulah Ferry menulis tiga buku. Isi buku mengulas secara detil setiap aktivitas, keputusan serta kebijakan Sumarsono selaku pelaksana Gubernur. Gubernur DKI Jakarta sesungguhnya adalah Basuki Tjahaja Purnama atau populer dengan sapaan Ahok. Ahok yang harus cuti dua kali karena menjalani proses kampanye Pilkada DKI Jakarta, wajib cuti dan selama Ahok cuti, Sumarsono juga dua kali atau dua tahap menjadi pelaksana Gubernur DKI Jakarta. Akhir 2016 dan awal 2017. Sumarsono mampu emban tugas, Ferry pun dinilai mampu menjadi staf pendamping.

Belum selesai. Pada Medio 2018, Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tjahjo Kumolo atas nama Presiden Rl Joko Widodo kembali melantik Sumarsono selaku Penjabat Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan di Makassar. 
Demi suksesnya tiga tugas pokok seperti di Sulawesi Utara dsn DKI Jakarta, Sumarsono tak luput kembali memberikan kepercayaan penuh kepada Ferry untuk mendampingi.

Pengalaman selama di tiga daerah berbeda karakter itu,  Ferry ternyata tidak hanya menjadi Staf Khusus bidang Komunikasi Publik dan Politik tetapi juga membuat perencanaan agenda harian gubernur. 

Guna memudahkan koordinasi dengan Sang Gubernur yang juga Kepala Daerah itu, maka Ferry diminta Sumarsono untuk domisili di rumah dinas gubernur. Baik di Manado, Jakarta maupun Makassar sama.  

*Karya Buku* 
Ada 6 (enam) buku yang Ferry persembahkan buat Sumarsono. Satu di Sulawesi Utara, tiga di Jakarta, dua di Sulawesi Selatan. 
 
Karya penting ini demi  memperkaya literatur kepemimpinan 

Selain itu, Ferry menjadi editor buku “Episode Kehidupan Theo L. Sambuaga: Pemikir Pejuang - Pejuang Pemikir Berkarya bagi Bangsa”, sebuah karya biografis tokoh nasional asal Sulawesi Utara yang ia garap dengan ketelitian dan wawasan sejarah.

Terakhir Ferry sedang berkontribusi dalam penulisan Biografi SD Mais Wuisan, tokoh penting Peristiwa Heroik Merah Putih 14 Februari 1946—membuktikan bahwa Ferry tidak hanya mencatat sejarah, tetapi ikut menjaga keberlanjutannya.

*Aktivisme dan Kiprah Organisasi*
Sepanjang hidupnya, Ferry aktif dalam berbagai organisasi, antara lain:

Pengurus Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, NKK BKK sewaktu masih mahasiswa IKIP Manado 

Wakil Komandan Batalion 2/IKIP, Asisten Teritorial dan Kepala Staf Komando Resimen Mahasiswa Sam Ratulangi atau Mahasamra.

Tiga kali Sekretaris Dewan Pimpinan Provinsi Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa (IARMI) Sulawesi Utara, tetapi juga pernah menjadi salah satu Ketua pada Dewan Pimpinan Nasional IARMI semasa Ketua Umum Agustomo. Terakhir Wakil Sekretaris Bidang DPN IARMI era Ketum Zulkifli Hasan dan Sekjen A. Riza Patria. 

Pernah Ketua Komisariat GMKI FKIS IKIP Manado 

Koordinator Wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo pada Ikatan Alumni Satgas Menwa Seroja Timtim 

Menjadi salah satu deklarator pembentukan Ormas NasDem di Sulawesi Utara 

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (APEDI) Sulawesi Utara 

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih (GPPMP) Sulawesi Utara dengan Ketum Dr. Jeffrey Rawis SE, MA 

Salah satu Ketua Dewan Pimpinan Nasional Perjuangan Semesta Nusantara (PSN) dengan Ketum Dr. Ir. Rio Sumual, MTh


Melalui organisasi-organisasi tersebut, ia terus menyebarkan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, patriotisme, kebangsaan, dan pentingnya melestarikan semangat perjuangan bagi generasi muda.

BIODATA KELUARGA FERRY
Nama istri: Dr. Dra. Grace Jenny Soputan, MSi pensiunan dosen di FEB UNIMA Tondano 

Anak dan Cucu:
Army Wempie, Adolf Rende, menantu Viane Wullur m. Cucu-cucu: Vellycia Abigael Rende, Kenzeva Rende, dan Kevin Mozes Rende.
Jufry Navy Johanes Rende, menantu Marcella Katuuk (almarhumah). Cucu-cucu: Milane Youla Rende, Jake Christopher Alzheimer Rende. 
Maestry Pingkan Rende, menantu David Paparang. Cucu: Faith Lemuel Lie, Evellyn Lemuela Lie

Adik kandung: Jack Rende (almarhum), Wansye Rende, Jhon Gagarin Rende dan Daniel Rende (almarhum)

*Sosok Patriot, Jurnalis, dan Penjaga Ingatan Bangsa*
Dari keluarga patriot, dari tugas negara, dari ruang kelas, dari meja redaksi, hingga dari lembaran-lembaran sejarah yang ia tulis—Ferry Boy Marthin Rende adalah sosok yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa dengan cara-cara yang paling hakiki.

Ia adalah patriot yang pernah berdiri di garis depan, pendidik yang membentuk karakter, jurnalis yang menjaga nurani publik, dan penulis yang menyalakan api ingatan kolektif bangsa. (*) 

 

 

 

 

Editor : Tommy Waworundeng
Presiden Soeharto Ferry Rende