MANADOPOST.ID — Infrastruktur pendidikan semestinya menjadi investasi jangka panjang bagi kenyamanan dan keselamatan peserta didik.
Namun, kondisi fasilitas di SMP Negeri 1 Manado justru kembali menjadi sorotan setelah sejumlah orang tua murid mengeluhkan persoalan air bersih di sekolah tersebut.
Keluhan itu mencuat di tengah fakta bahwa pembangunan infrastruktur SMP Negeri 1 Manado baru selesai pada Desember 2024 dengan nilai kontrak mencapai Rp4.124.260.000.
Pekerjaan tersebut dikerjakan CV Tirta Kencana berdasarkan kontrak Nomor D.03/PUPR/CK-08-2.01-0021/03-008/SP/XI/2024 tertanggal 22 November 2024.
Dengan nilai proyek miliaran rupiah dan usia bangunan yang relatif masih baru, munculnya persoalan fasilitas dasar seperti ketersediaan air bersih menjadi perhatian tersendiri.
Salah satu wali murid, Rahmat, mengaku kecewa setelah mengetahui kondisi air di sekolah yang dinilai tidak bersih.
Tidak hanya persoalan kualitas air, menurut dia, aliran air juga beberapa kali mengalami gangguan hingga mati.
Keluhan tersebut menurut Rahmat menjadi persoalan serius karena menyangkut kebutuhan dasar siswa dan siswi selama berada di lingkungan sekolah.
"Anak saya itu kan sekolah di SMP Negeri 1 Manado, nah saat itu anak saya sedang menstruasi. Kemudian saya menyarankan agar anak saya membawa pembalut dari rumah untuk nantinya diganti di sekolah. Namun jawaban anak saya bahwa air di sekolah sangat kotor. Bahkan sering mati air," imbuhnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin sensitif karena fasilitas sekolah itu belum lama selesai dibangun.
Bagi wali murid, pembangunan infrastruktur dengan anggaran miliaran rupiah semestinya berbanding lurus dengan keberfungsian fasilitas yang digunakan setiap hari.
Rahmat bahkan membandingkan kondisi saat dirinya masih bersekolah di SMP Negeri 1 Manado dengan keadaan sekarang.
"Saya dulu sekolah di SMP Negeri 1 Manado. Tidak pernah mati air. Memang kondisi toilet waktu saya dahulu banyak yang rusak. Tapi kalau air itu sangat bersih dan lancar. Saya kaget sekarang air di SMP Negeri 1 Manado sudah kotor dan bahkan sering mati," jelasnya.
Sebelumnya, berdasarkan pantauan Manado Post di lapangan, sejumlah bagian dari proyek infrastruktur sekolah tersebut disebut telah mengalami kerusakan.
Fasilitas toilet dan sejumlah bagian lainnya ditemukan dalam kondisi rusak atau tidak berfungsi.
Salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan septic tank. Berdasarkan temuan lapangan, septic tank yang dibangun dalam proyek tersebut telah penuh sehingga berdampak terhadap fungsi toilet.
Dalam sebuah proyek konstruksi, keberhasilan pekerjaan pada akhirnya tidak hanya diukur dari selesainya bangunan secara fisik. Lebih jauh, fasilitas yang dibangun harus dapat digunakan sebagaimana peruntukannya, berfungsi secara layak, serta memenuhi kebutuhan pengguna.
Apalagi objek proyek merupakan fasilitas pendidikan yang setiap hari digunakan oleh siswa, guru dan tenaga kependidikan.
Pantauan di lapangan juga menemukan bahwa fasilitas sumur bor dan tandon air PVC merupakan bagian pekerjaan yang dikerjakan CV Tirta Kencana.
Keberadaan kedua fasilitas tersebut menjadi relevan ketika persoalan ketersediaan air justru kembali dikeluhkan oleh orang tua murid.
Persoalan semakin menarik perhatian karena sebelumnya data yang dirangkum Manado Post menemukan adanya Tuntutan Ganti Rugi (TGR) dalam proyek SMP Negeri 1 Manado, termasuk pada sejumlah item yang berkaitan dengan fasilitas air bersih.
Dalam data tersebut, terdapat kekurangan pada item instalasi air bersih luar bangunan sepanjang 20 meter dengan nilai sekitar Rp620 ribu.
Kemudian terdapat item pemasangan tandon air PVC yang dalam kontrak tercantum sekitar 6,80 meter, namun disebut tidak tercatat terpasang dengan nilai sekitar Rp1,7 juta.
Temuan lainnya muncul pada toilet 3. Pada bagian tersebut disebut terdapat pengurangan volume pekerjaan berupa plesteran dinding 15,40 meter persegi senilai Rp1.185.800, acian dengan volume yang sama senilai Rp1.039.500, serta keramik dinding ukuran 30x60 sentimeter yang berkurang 2,43 meter persegi dengan nilai Rp850.500.
Selain itu, pembersihan cat lama disebut berkurang 17,62 meter persegi dengan nilai Rp519.790.
Pada toilet 4, daftar kekurangan yang dirangkum sebelumnya kembali mencakup sejumlah pekerjaan dan fasilitas, mulai dari flashing seng plat sepanjang 6,50 meter, instalasi air bersih, instalasi listrik penerangan, hingga beberapa fasilitas yang disebut tidak tercatat terpasang.
Direktur CV Tirta Kencana, Linda Budiman, sebelumnya mengakui adanya Tuntutan Ganti Rugi berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Namun, Linda menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan merupakan kelebihan pembayaran yang disengaja, melainkan hasil pemeriksaan yang kemudian telah diselesaikan melalui pembayaran TGR.
"Itu bukan kelebihan bayar. Itu hasil pemeriksaan BPK dan sudah saya bayar itu TGR," singkatnya.
Mengenai kondisi septic tank yang ditemukan telah penuh dan disebut menjadi salah satu penyebab toilet tidak berfungsi, Linda membantah adanya pekerjaan yang tidak dikerjakan sebagaimana ketentuan kontrak. Menurut dia, pekerjaan septic tank telah dilaksanakan seluruhnya.
"Semua torang ada kerja so sesuai dengan RAB. Kalopun ada kurang hitungan pas pemeriksaan BPK itu torang so byr TGR nya. Semua proyek pasti ada TGR bukan cuma proyek itu," tutupnya. (ewa)
Editor : Baladewa Setlight