Kesembuhan Ajaib Pitres Sombowadile  

Tommy Waworundeng • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 14:35 WIB
Penulis Suhendro Boroma
Penulis Suhendro Boroma

 

Oleh:
Suhendro Boroma

MANADOPOST.ID-Jumat siang, 18 September 2026. Saya sedang berkendara di Jl. Pajajaran Bogor. Lily Djenaan, istri saya meneruskan notifikasi kabar duka sang sahabat: Pitres Sombowadile meninggal dunia.

Terasa sesak. Ingin segera datang melayat di rumah duka di Buha, Manado. 

Jumat malam mengikuti rangkaian Muktamar ke-VIII Ikatan Persaudaran Haji Indonesia (IHPI) di Jakarta. Diniharinya saya ke Gorontalo, menghadiri pernikahan ponakan di Sabtu siang (akad nikah) dan malamnya resepsi.  

Minggu siang ke Makassar untuk RUPSLB di Senin pagi hingga petang. Lanjut ke Jakarta lagi untuk sejumlah kegiatan. Dengan sedih dan duka mendalam sambil berguman, “mohon maaf Pite’, sahabatku, saya tidak bisa menatap jasadmu untuk terakhir kalinya.” 

Tapi persahabatan sejati kita tetap terpaut dalam hati. Tidak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

Kami berjumpa kala masih sesama aktivis mahasiswa di akhir dekade 1980-an. Pitres Ketua Senat Mahasiswa Institut Teknologi Minaesa (ITM), saya memasuki masa akhir kuliah di IKIP Manado. Berjumpa, lalu menjadi sahabat karib dengan Katamsi Ginano, mahasiswa Fakultas Teknik Unsrat yang sedang mengemban posisi prestisius: Pemimpin Redaksi Majalah Inovasi Unsrat.

Kami bertiga sering diskusi ngolor ngidul di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unsrat. Pagi, siang, acapkali hingga larut malam. Selain untuk saling mengasah dan ‘unjuk kepintaran’, juga, sebenarnya, itu cara kami menyiasati  kantong yang paceklik permanen.

Kadang kami sampai tertidur di lantai kantor Inovasi. Begitu bangun, tanpa mandi, lanjut diskusi lagi. 

Lalu, atas permintaan —tepatnya atas kekuasaannya sebagai Pemred Inovasi, Katamsi mempersilakan saya dan Pite’ mengisi tulisan kolom di majalah bulanan itu. Jadilah, saya dan Pite’ mahasiswa luar Unsrat yang tulisannya sering menghiasi setiap edisi halaman-halaman Inovasi. 

Jauh sebelum itu, kami bertiga berinteraksi intens di Kelompok Diskusi Titian. Di era akhir 1980-an hingga awal dekade 1990-an, kelompok diskusi menjadi alternatif para aktivis mahasiswa mengasah intelektualitas dan menyalurkan kegelisahan sosial. 

Aktivitas ini menjadi “kanal penyelamat” sikap kritis  mahasiswa di tengah kebuntuan organisasi intra kampus akibat penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus dan  Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK-BKK) di masa Menteri Pendidikan Daoed Joesoef dan Nugroho Notosusanto. 

Sementara organisasi ekstra kampus semacam kelompok Cipayung (HMI, GMNI, GMKI, PMKRI, PMII) mengalami  pembatasan yang ketat akibat ‘pembukaman’ rezim orde baru terhadap kelompok-kelompok kritis. Di level universitas, kebebasan mimbar akademik “dikebiri” dan dialihkan sepenuhnya untuk kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Di kampus-kampus terkemuka kelompok studi jadi “bintang lapangan” yang menguasai panggung kampus dan publik. Dari aktivitas ini, UI misalnya melahirkan Rocky Gerung dan Deny JA. Hampir setiap minggu, halaman opini di media utama di Jakarta, dihiasi oleh tulisan Rocky, Deny dan sejumlah aktivis lainnya.

Di Manado, kami membentuk Kelompok Studi Titian. Isinya aktivis lintas perguruan tinggi di Sulut: dari Unsrat, IKIP, dan ITM. Ada yang masih mahasiswa seperti saya, Katamsi Ginano, Pitres Sombowadile, Lily Djenaan, Asripan Nani, Haruna Marsaolih (alm), Ali Yau, Yunus Yau, dan Musmin Lolangion (alm). 

Dari kalangan dosen ada Kamajaya Al-Katuuk (sastra IKIP), Reiner Emyot Ointoe (sastra Unsrat), dan Suwiryo Ismail, wartawan, Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulut, dan aktivis LSM.

Topik-topik yang kami diskusikan mencakup isu-isu strategis dan sensitif di mata rezim orde baru. Soal pilpres langsung, otonomi daerah, desentralisasi fiskal, kebebasan akademik, mimbar kampus, NKK-BKK, kemiskinan struktural, keadilan, mafia hukum, dwi fungsi ABRI, pembebasan pendidikan, hak-hak masyarakat adat, reformasi agraria, hak-hak kaum perempuan, dan banyak lagi. 

Itu di akhir era 1980-an hingga awal dekade 1990-an. Isu-isu yang kami diskusikan menjadi tema utama reformasi 1997-1998 yang menumbangkan rezim orba dan Soerhato.

Saya disekapati bagitu saya sebagai ketua. Kami membuat semacam silabus topik-topik diskusi, menyepakati jadwalnya, dan menetapkan para pemakalah atas topik yang didiskusikan. Kesepakatannya sukarela. Tetapi disiplinnya ketat: setiap pembicara harus menyiapkan makalahnya.

Sudah barang tentu bacaannya harus luas. Referensinya jelas dan kredibel. Juga, dengan sendirinya, terlatih menulis secara sistimatis dan gampang dipahami.

Jadilah kami “menguasai” halaman opini dan kolom di halaman depan media-media utama di Manado: Cahaya Siang, Manado Post, dan Majalah Inovasi.

Pada setiap diskusi, Pite’ merupakan teman dan lawan diskusi yang sering usil: memojokkan dengan argumentasi menohok. Paling sering dia berdebat dengan  Katamsi. Mungkin karena mahasiswa teknik yang pernah juara baca puisi di Unsrat ini gampang ‘diledek’. Atau itulah caranya ‘’mematikan’ lawan diskusi tidak berkutik lantaran Katamsi selalu punah motivasi kuat menguasai forum.

Jika dengan Katamsi dia menjadi oposisi, terhadap saya Pite’ cenderung berkoalisi. Suwiryo, Kamajaya dan Reiner — entah dengan kesadaran mereka sebagai yang lebih senior, memberikan kami kesempatan menguasai panggung diskusi.

Tapi acapkali kami saling adu argumensi. Kamajaya punya kedalaman dan kejernihan berpikir. Reiner memiliki pengetahuan luas dan kekayaan referensi. Suwiryo punya pisau analis antitesis pemikiran mainstream. Begitu kaya perspektif, dan liar sudut pandang. 

Usai wisuda di Januari 1990, saya, Katamsi dan Pite’ luntang-lantung berkelana. Saat itu Pite’ sudah menjadi koresponden harian Memorandum Surabaya. Akrab dan mengagumi ketajaman pemikiran autodidak fisika Hasan Sahab. Mentor Pite’ dalam bidang sastra dan kebudayaan. Kesukaan pada bidang yang terakhir ini membuatnya dekat dengan Kamajaya.

Saya belum punya pekerjaan. Suatu waktu, Pite’ mengajak saya ke Tahuna untuk perjalanan jurnalistik. Itulah pertama kali saya ke Tahuna.

Kami menginap di rumah keluarganya di Apengsembeka (ini nama kampung di Nusa Utara yang pertama saya tahu dan tidak lupa sampai sekarang). Sangat terbantu, karena saya dan Pite’ betul-betul habis uang saat tiba di Tahuna. 

Saya lebih banyak berdiam di rumah. Tidak tahu dan tidak ada tujuan mau kemana. Tiap sore disajikan pisang goreng atau kue-kue enak.

Pite’ banyak bertemu relasi dan narasumbernya. Setelah semingguan di Tahuna, Pite’ bilang ke saya, “Endo, besok torang dua so boleh balik Manado. So ada doi beli tiket.”

Endo panggilan akrab Pite’ kepada saya. Kami akhirnya tiba di pelabuhan Manado. Dengan rasa syukur saya bilang ke Pite’, “terima kasih sobawa ka Tahuna. Tapi kita lebih bersyukur lahir dan hidup di pulau yang besar.” Dia  terbahak-bahak.

Berjalan waktu, saya dan Pite’  menjadi volunteer di YLBHI-LBH Manado. Di antara sekian banyak aktivitas, saya dan Pite’ ditugaskan ke Paguyaman, Kab Gorontalo, awal hingga akhir tahun 1990. Membantu dan mengadvokasi ribuan petani dan buruh tani yang diperlakukan tidak adil dalam pembebasan tanah untuk kepentingan pabrik gula PT Naga Manis.

Kami berdua mendatangi dan berdialog dengan warga di desa-desa di Paguyaman. Kadang dengan berjalan kaki, naik ompreng, atau menumpang mobil ladbak terbuka dengan bonus ‘mandi debu’.

Saat balik ke Limboto (kami numpang di rumah keluarga Suwiryo di Dehualolo), sering kami numpang di truk. 

Rupanya Pite’ sudah lama menderita sakit maag akut. Saat kambuh, kami berdua sedang di Paguyaman. Dengan berbagai cara, saya bawa Pite’ yang sudah sangat lemah ke rumah dinas suaminya Mike Nangka, mantan anggota DPRD Sulut, di Ipolo Gorontalo.

Pite’ sekarat. Saya menginformasikan kepada Suwiryo dan Herry Mangindaan (alm), Direktur YLBHI-LBH Manado. Pite’ sakit keras sampai susah berjalan.

Dia harus dipapa. Mike menyediakan kamar khusus, dan berusaha membawa ke dokter. Seingat saya di depan rumah dinas Dolog —rumah dinas suami Mike, tempat praktik dr Abeng Elong. Pite’ kami bawah dan diobati dr Abeng.

Tapi kondisinya tidak membaik. Tambah parah. Dia hanya bisa makan susu bubuk makanan bayi. Saking sudah lemahnya, makanan bayi itu harus saya suapi. 

Perlahan. Semalaman. Dia tidak bisa tidur. Kelihatan sudah pasrah.

Mike sudah khawatir. Begitu pagi, Mike sendiri yang menelopon Suwiryo dan Herry Mangindaan. Pak Herry lewat telopon mengkonfirmasi ke saya. “Parah sekali kondisi Pite’. Harus segera dibawa pulang Manado. Kalau pulang dengan mobil berisiko,” kata saya kepada Pak Herry.

Di ujung telepon, saya dengar Pak Herry berujar, “Wiryo (Suwiryo), cepat cari tiket pesawat, bawa segera pulang Pite’ ke Manado.”

Beruntung dapat tiket, kebetulan ada jadwal pesawat Merpati dari Jalaludin ke Sam Ratulangi Manado. Besoknya Pite’ tiba di Manado langsung dibawa ke RSUP Wenang —belum di Malalayang.

Puji syukur Pite’ sembuh. Semua orang di LBH Manado bergembira. Mendengar kabar Pite’ sembuh, saya segera ke Manado. 

Saya bertemu di kantor LBH Wanea Manado. Dia memeluk saya sambil meneteskan air mata. “Terima kasih Endo. Puji syukur Tuhan menyembuhkan saya,” katanya. 

Saya bergembira. Pite’ sembuh seperti keajaiban. Dia betul-betul sudah sekarat. Melihat kondisinya, hanya pertolongan Tuhan yang menyembuhkannya.

Dia sendiri memberi kesaksian. “Endo,” katanya, “waktu sudah sekarat di rumahnya Mike, saya sudah pasrah. Doa saya, ‘ya Tuhan, kalau sudah ajal saya ikhlas menerima. Tapi jangan di sini (di Gorontalo). Biarlah saya mati di tengah keluarga saya di Manado.”

Pite’ tidak hanya sembuh. Tubuhnya pulih. Kembali berisi. Penuh semangat. Optimis meniti lika-liku kehidupan.

Setelah mempersunting Nona, Pite’ mendapat tawaran kerja di Majalah Maesa ASMI Jalarta. Di bawah asuhan Erick Dajoh. Hijrahlah dia dan istri ke Jakarta. Ngekost di gang sempit di Rawamangun Jakarta.

Saya terus di LBH Manado. Menjelang akhir 1990, saya dapat kesempatan mengikuti pelatihan yang dilaksanakan YLBHI,  YLKI  dan LP3ES di Jakarta. Itulah pertama kali saya ke Jakarta.

Pite’ menjemput saya di Soekarno Hatta. Membawa ke tempat pelatihan, sekitaran Blok M Jakarta Selatan. Usai pelatihan, Pite’ menawari jangan langsung  pulang Manado.

Dia ajak ke kostnya di Rawangun. Nona, istrinya  menyambut hangat.  Setiap hari dia ajak ke kantornya di ASMI Jakarta. Melihat suasana kerja, bertemu Erick Dajoh dan timnya.

Januari 1991 saya bergabung dengan Manado Post. Pite’ berganti-ganti aktivitas: wartawan, seniman, artis, pegiat LSM, konsultan politik, penulis, sambil terus menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah dari dua anaknya.

Dinamika rupa-rupa aktivitas itu membuat kami sering berbeda. Pite’ membawa rombongan menemui saya dan melakukan protes keras terhadap rangkaian liputan Manado Post tentang Gereja Setan. Bahkan posisinya berlawanan: head to head dengan saya di Manado Post kala Pite’ dan Katamsi, bersama Iverdixon, Kamajaya, Suwiryo dan Reiner menerbitkan Kabar, harian yang berkantor di Toar Manado.

Tapi keberpihakannya pada nilai yang kami perjuangkan bersama tidak pernah padam. Saat saya dan teman-teman Manado Post “diadili” secara terbuka di  Gedung DPRD Sario Manado, akibat serangkaian pemberitaan di masa reformasi 1997-1998, Pite’ duduk tak jauh dari saya. 

Tak hanya memberi dukungan. Dia memberi semangat seperti kami debat sengit saat diskusi di Titian. “Saya lihat aura dan ketangkasan berdebat tadi, seperti mematahkan argumentasi lawan waktu torang diskusi di Titian,” katanya.

Pun ketika Manado Post didemo oleh parpol dan sejumlah pihak, lagi-lagi gara-gara pemberitaan dan pembelaan terhadap para aktivis reformasi 1997-1998, Pite’ tidak tinggal diam. Dia menggalang koalisi aktivis LSM dan masyarakat sipil datang memberi dukungan kepada saya dan teman-teman Manado Post.

“Suhendro dan Manado Post pasti mampu membela diri mereka sendiri,” katanya “Kami datang di sini untuk menyatakan bersama teman-teman Manado Post melawan ancaman terhadap demokrasi dan kebebasan,” tegasnya lantang.

Suatu waktu dia menganggur. Saya menawari dia masuk Manado Post. “Terima kasih Endo,” tuturnya, “saya terus ihtiar mencari jalan hidup sendiri.” 

Pite’ tegar. Tapi punya sisi lembut karena dia menyukai seni. Minat yang membawa saya terpengaruh. Akhirnya kami punya teman seniman dan budayawan yang sama: Alex Ulaen, Iverdixon Tinungki, Frangky Kalamata, Rimata Narande, Jhon Samuel, Sonny Lengkong, Axel Galatang, Jhon Saul, Nasyul, dan banyak lagi. 

Karena minat yang sama itu pula membuat saya dan Pite’ memberanikan diri ‘menculik’ Rima Melati. Artis senior bernama asli Marjolien Tambayong alias Lientje itu kami bawa ke Sekretariat WAHLI Sulut di Teling Atas. 

Sambil duduk melantai, kami berdikusi seputar seni peran, teater dan upaya mengorbitkan talenta-talenta terbaik artis asal Sukut di pentas nasional.

Di lain waktu, kami bercengkeramah di sanggar lukisnya Jhon Samuel, atau di rumah Iverdixon. Sambil meratapi nasib para seniman yang kaya imajinasi tapi tipis isi dompet. 

Pite’ biasanya selalu punya cara memberi semangat kepada teman-teman. “Kita bisa miskin materi, tapi harus tetap berjiwa bangsawan,” katanya.

Jumat 18/9 Pite’ kembali ke pangkuan  Tuhan Yang Maha Pengasih. Saya kira, dengan ‘jiwa bangsawan’. Di alam damai sana, dia akan menemui keajaiban berikutnya. Abadi selama-lamanya. ***

 

 

 

 

Editor : Tommy Waworundeng
Suhendro Boroma Mahasiswa Unsrat aktivis