MANADOPOST.ID- Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke 82 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) tahun 2026 bakal dimulai hari ini, Kamis (24/9).
Dari Manado Convention Center (MCC), dipastikan 1962 Anggota Sidang Majelis Sinode dari urusan 1083 jemaat, bakal bersidang menentukan arah pelayanan GMIM kedepannya.
Maka panitia di Wilayah Manado Barat Daya (MBD) telah mempersiapkan pelaksanaan dengan baik. Ditemui di h-1 pelaksanaan, Ketua Panitia Recky Langie memastikan bahwa selama 3 hari kedepan, persiapannya telah dimatangkan.
"Yesus dahsyat dan ajaib. Proses SMSI ada tiga kali penundaan. Bersyukur di beberapa hari ini sudah sangat siap 90 persen, tinggal pemantapan mengenai acara dan rundown pelaksanaan, sehingga dapat dimaksimalkan. Terutama ruang waktu teknis persidangan," tegasnya.
"Kami pantia sudah siap, baik sidang seksi dan pleno, teknis persidangan sudah siap. Bahkan kita mempersiapkan venue yang ada kita rancangan konteks persidangan berskala internasional," tambah Langie yang juga sebelumnya sukses menjadi Ketua Panitia Paskah Nasional di Manado.
Langie mengajak seluruh warga GMIM untuk mendukung penuh pelaksanaan. Bahkan di SMSI ke 82 ini, Langie menegaskan agar nama Tuhan yang harus dimuliakan dalam pelayanan.
"Maka dengan kebersamaan sebagai satu panggilan ini dalam pelayanan gereja, kita harus Jesus Center. Datang untuk memusatkan kepada kepala Gereja kita. Maka Tuhan akan perlengkapi kita dengan hikmat. Maka prodak SMSI ini akan berkualitas untuk pelayanan GMIM kedepan," terangnya.
MANADOPOST.ID, MANADO — Ketua Umum Panitia Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) 2026, Recky Langie, mengingatkan seluruh peserta persidangan untuk menempatkan Yesus Kristus sebagai pusat dalam seluruh proses SMSI, termasuk dalam pembahasan revisi Tata Gereja GMIM.
Menurut Recky, peserta SMSI tidak datang dengan membawa kepentingan pribadi maupun kehendak masing-masing, tetapi hadir untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja.
"Yang pertama dan terpenting: Yesus adalah pusat," ujar Recky.
Ia mengatakan, seluruh proses persidangan harus menyadari bahwa pelayanan gereja merupakan pekerjaan milik Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja. Karena itu, kepentingan pelayanan harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Recky juga menjelaskan bahwa pembahasan revisi Tata Gereja tidak boleh dipahami hanya sebagai upaya mengubah aturan yang sudah ada.
Menurutnya, revisi berarti melakukan perbaikan, perubahan sekaligus penyempurnaan terhadap berbagai ketentuan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan gereja.
"Ukuran dan batasan yang kita pakai bukan norma dunia, bukan aturan semata, melainkan Firman Tuhan," tegasnya.
Ia menambahkan, seluruh kaidah, tata tertib dan aturan gereja harus tetap memiliki dasar pada Firman Tuhan serta ajaran para rasul.
Karena itu, proses revisi Tata Gereja diharapkan mampu memperbaiki hal-hal yang perlu dibetulkan, meningkatkan kualitas pelayanan, serta menghadirkan gagasan dan rancangan baru yang memberikan manfaat bagi kehidupan gereja.
Recky mengajak seluruh peserta SMSI untuk menunjukkan kualitas iman melalui pemikiran yang membangun dan usulan-usulan yang dapat menghasilkan buah baik bagi GMIM.
"Jangan bawa kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan Pemilik Gereja ini," katanya.
Ia juga mengingatkan peserta agar tetap fokus kepada Tuhan Yesus Kristus selama seluruh tahapan persidangan berlangsung.
Menurut Recky, jika seluruh peserta benar-benar menempatkan Yesus sebagai pusat, maka hikmat Tuhan diharapkan menyertai proses pembahasan dan pengambilan keputusan.
Sebab, keputusan yang dihasilkan dalam SMSI ke-82 GMIM 2026 akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah dan kualitas pelayanan GMIM ke depan.
"Produk SMSI 2026 akan menentukan arah dan kualitas pelayanan GMIM ke masa depan," ujarnya.
Karena itu, Recky mengajak seluruh peserta untuk membangun kesatuan hati dalam persidangan. Perbedaan pandangan dalam pembahasan diharapkan tetap diarahkan pada tujuan bersama, yakni menghasilkan keputusan yang mendukung pelayanan dan kehidupan gereja.
"Marilah kita satu hati: bukan untuk kita, bukan untuk nama kita—semuanya untuk Dia yang adalah Kepala Gereja, Tuhan Yesus Kristus," pungkasnya.(*)
Editor : Tommy Waworundeng