MANADOPOST.ID — Ketua Panitia Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 GMIM Tahun 2026, Recky Langie, mengajak seluruh peserta sidang menjadikan “Jesus at the Centre” atau Yesus sebagai pusat dari seluruh pembahasan dan proses pengambilan keputusan terkait Tata Gereja GMIM 2026.
Hal ini dikatakan Recky Langie saat menyampaikan sambutan dan laporan sebagai Ketua Panitia dalam ibadah pembukaan SMSI ke-82 GMIM, Kamis 24 September 2026 di MCC Wilayah Manado Barat Daya.
Recky mengaku bersyukur karena bisa dipercayakan menjadi Ketua Panitia SMSI yang menurutnya, sidang internasional karena dihadiri utusan GMIM dari negara lain. Selian itu SMSI ini juga akbar dan salah satu sidang gereja terbesar karena dihadiri 2 ribu lebih peserta.
Recky menjelaskan, pembahasan revisi Tata Gereja tidak boleh hanya dilihat sebagai proses administratif atau organisatoris, tetapi harus ditempatkan dalam kerangka pelayanan gereja yang berpusat kepada Yesus Kristus.
Kepada peserta sidang, Recky juga menjelaskan, revisi Tata Gereja pada dasarnya memiliki tiga makna penting, yakni perbaikan, perubahan dan penyempurnaan.
“Perbaikan berarti ada hal yang kurang tepat atau belum sesuai, mari kita perbaiki bersama. Perubahan berarti menyesuaikan dengan kebutuhan nyata organisasi atau gereja saat ini. Sedangkan penyempurnaan adalah meningkatkan kualitas dan mutu agar tata gereja semakin baik dan bermanfaat,” ujar Recky yang juga belum lama sukses menjadi Ketua Paskah Nasional.
Recky menegaskan, proses revisi harus diarahkan untuk menjawab kebutuhan gereja di tengah perkembangan zaman, namun tetap berakar pada Firman Tuhan.
Recky mengajak seluruh peserta SMSI ke-82 untuk tidak sekadar menyampaikan pendapat dalam pembahasan Tata Gereja, tetapi bersama-sama berpikir secara serius mengenai masa depan pelayanan GMIM.
Ia mengutip pemikiran Robert Michels mengenai Iron Law of Oligarchy untuk menekankan pentingnya kemampuan sebuah organisasi dalam melihat dan menjawab tuntutan zaman serta kebutuhan nyata yang dihadapi.
“Mari kita berpikir keras bersama, bukan sekadar berpendapat, melainkan mencari apa yang paling benar dan paling baik bagi GMIM,” katanya.
Menurut Recky, setiap keputusan yang dihasilkan dalam persidangan harus merupakan hasil dari proses yang sungguh-sungguh dan tidak dilakukan secara setengah-setengah.
“Bagi Tuhan, kita harus memberikan yang terbaik. Tidak setengah-setengah, tidak asal jadi,” tegasnya.
Ia menilai Tata Gereja GMIM 2026 memiliki arti penting bagi perjalanan pelayanan gereja ke depan, karena akan menjadi salah satu landasan dalam menentukan arah dan kualitas pelayanan GMIM.
Yesus Kristus Kepala Gereja
Di tengah berbagai gagasan, pandangan dan dinamika pembahasan, Recky kembali mengingatkan bahwa pusat utama seluruh proses tersebut adalah Yesus Kristus.
“Segala pujian, hormat dan kemuliaan hanya bagi Yesus Kristus, Kepala Gereja,” ujarnya.
Karena itu, seluruh gagasan, pemikiran maupun keputusan yang dihasilkan dalam SMSI harus ditempatkan dalam kerangka pelayanan kepada Kristus.
Recky menegaskan, pembahasan Tata Gereja tidak boleh diarahkan untuk kepentingan pribadi, kelompok ataupun jabatan.
“Semua dilakukan demi kemajuan jemaat dan kemuliaan Tuhan,” kata Ketua Recky disambut tepuk tangan.
Dengan prinsip Jesus at the Centre, Recky berharap proses pembahasan Tata Gereja GMIM 2026 dapat berlangsung dengan kesungguhan, keterbukaan dan semangat bersama untuk memberikan yang terbaik bagi gereja.
Selain mengantar pembahasan Tata Gereja, Recky juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh Ketua Wilayah atas dukungan, kerja sama dan partisipasi dalam pelaksanaan SMSI ke-82 GMIM.
Ia juga mengantar agenda laporan pertanggungjawaban keuangan SMSI ke-82 sebagai bagian dari prinsip keterbukaan dan tanggung jawab bersama.
“Laporan yang akan disampaikan adalah bentuk keterbukaan dan tanggung jawab bersama atas amanah yang Tuhan titipkan kepada kita,” ujarnya.
Menutup pesannya, Recky kembali menekankan pentingnya memberikan yang terbaik bagi Tuhan dalam seluruh proses persidangan.
“Bagi Tuhan, kita berikan yang terbaik. Jika kita berpikir keras bersama, jika kita berpusat pada Yesus, maka Tata Gereja 2026 ini akan menjadi fondasi yang kokoh bagi masa depan GMIM,” pungkasnya. (*)
Editor : Tommy Waworundeng