Di Balik Megahnya TIFF 2026, BI Gaungkan Pesan Bijak Belanja, Inflasi Terjaga

Ayurahmi Rais • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:23 WIB

Float milik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut dengan tema Bijak Belanja Inflasi Terjaga, turut memeriahkan acara TIFF 2026 yang digelar pada 8 Agustus 2026 lalu. Float ini menampilkan komoditas bawang merah, tomat, cabai, dan padi. Juga ada miniatur booth UMKM dan QRIS.
Float milik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulut dengan tema Bijak Belanja Inflasi Terjaga, turut memeriahkan acara TIFF 2026 yang digelar pada 8 Agustus 2026 lalu. Float ini menampilkan komoditas bawang merah, tomat, cabai, dan padi. Juga ada miniatur booth UMKM dan QRIS.

 

MANADOPOST.ID — Sabtu, 8 Agustus 2026, suasana di pusat Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), begitu semarak. Ratusan ribu orang memadati ruas jalan yang menjadi lintasan Tournament of Flowers (ToF) dalam acara Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026.

Puluhan kendaraan hias bergerak perlahan, membawa warna-warni bunga yang disambut tepuk tangan dan sorakan penonton.
Di antara parade itu, sebuah float milik Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI Sulut) tampil dengan pesan yang kuat. Tidak sekadar memperlihatkan keindahan bunga, float BI  hadir dengan tema “Bijak Belanja, Inflasi Terjaga”.

Di bagian depan float terlihat bawang merah berukuran besar. Lalu ada  cabai, tomat, dan padi yang dikelilingi hamparan bunga. Ada pula miniatur booth bertuliskan “UMKM Sulut Naik Kelas” serta gerbang QRIS dengan pesan “Transaksi Praktis, Bayar Pakai QRIS”. Dalam satu float karya dekorator lokal James Mogi itu, seluruh elemen dirangkai dalam satu komposisi yang menggambarkan hubungan antara pangan, aktivitas ekonomi, dan kehidupan masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto mengatakan, kehadiran BI dalam TIFF tidak hanya untuk menampilkan kendaraan hias, tetapi juga membawa pesan kepada masyarakat untuk bijak berbelanja agar inflasi tetap terjaga.

Pesan itu, lanjutnya, sengaja dibuat dekat dengan kehidupan masyarakat. Sebab, bawang merah, cabai, dan tomat merupakan komoditas pangan yang pergerakan harganya turut menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi di Bumi Nyiur Melambai.

“Oleh sebab itu, BI menyampaikan isu inflasi melalui sesuatu yang mudah dikenali masyarakat,” tegasnya.

Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu pun menegaskan, stabilitas harga tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Produksi petani, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, dan pola belanja masyarakat juga memiliki peran penting. “Ketika masyarakat berbelanja sesuai kebutuhan, sementara produksi dan pasokan tetap dijaga, tekanan terhadap harga dapat dikendalikan. Inilah pesan sederhana yang ingin disampaikan melalui Float BI di TIFF 2026,” katanya.

Pesan BI melalui float tidak berhenti pada persoalan inflasi. Dalam kesempatan yang sama, BI juga menyelipkan tentang bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat terus diperkuat melalui UMKM dan transaksi digital.

BI mencatat, hingga semester I 2026, total pengguna QRIS di Sulut mencapai 597.907 pengguna. Volume transaksi mencapai 36,4 juta transaksi dengan nilai sekitar Rp3,85 triliun.

Tampak belakang Float milik Kantor Perwakilan BI Sulut yang menghadirkan miniatur barcode QRIS dengan pesan Transaksi Praktis Bayar Pakai QRIS.
Tampak belakang Float milik Kantor Perwakilan BI Sulut yang menghadirkan miniatur barcode QRIS dengan pesan Transaksi Praktis Bayar Pakai QRIS.

Di sisi lain, tulisan “UMKM Sulut Naik Kelas” pada float pun, bukan sekadar pelengkap visual. Pesan itu sejalan dengan berbagai upaya BI dalam meningkatkan daya saing pelaku usaha melalui program pengembangan dan pendampingan UMKM.

Melalui program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA), BI melakukan pengembangan UMKM secara terintegrasi melalui tiga pilar, yakni korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan perluasan akses pembiayaan.

Hingga Juli 2026, lebih dari 150 UMKM binaan BI Sulut telah terdigitalisasi melalui integrasi dengan e-commerce dan pencatatan keuangan melalui SIAPIK.
BI terus mendorong pelaku usaha memperluas pasar dan meningkatkan kapasitas melalui business matching ritel, pelatihan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pemanfaatan marketplace global, dukungan sarana dan prasarana, capacity building, hingga study visit ke berbagai praktik usaha terbaik di tingkat nasional.

Semua rangkaian pesan itu berada dalam satu garis yang sama, yakni tentang bagaimana menjaga inflasi agar daya beli masyarakat tetap kuat, sementara UMKM perlu diperkuat agar mampu menangkap peluang ekonomi yang muncul. Joko meyakini, ketika semuanya berjalan bersama, pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergerak, tetapi juga semakin inklusif dan berkelanjutan.

“Kami bersyukur bisa berkontribusi dalam kegiatan TIFF 2026, karena kegiatan ini dihadiri oleh ratusan ribu pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri. Ada banyak peluang yang tercipta karena banyak pelaku UMKM yang bisa mempromosikan produknya kepada setiap pengunjung yang datang,” sebut lelaki kelahiran Boyolali, 28 Desember 1968 tersebut.

Di sisi lain, di balik satu kendaraan hias yang melintas di hadapan ratusan ribu penonton, ada rantai ekonomi yang sudah bergerak jauh sebelum parade dimulai.

Ketua Panitia TIFF 2026, Levita Supit, membeberkan, sebanyak 37 petani bunga lokal dilibatkan dalam merangkai setiap float dengan penggunaan bunga krisan sekitar 353 ribu tangkai.

Setiap kendaraan menggunakan bunga dalam jumlah besar. Satu float berukuran besar membutuhkan sekitar 8.000 tangkai, sementara float berukuran kecil membutuhkan sekitar 4.000 tangkai bunga.
Dengan kisaran harga bunga rata-rata Rp4.000 per tangkai, sementara biaya pembuatan float diperkirakan sekitar Rp95 juta untuk ukuran besar dan Rp50 juta untuk ukuran kecil, artinya sebelum ribuan penonton menyaksikan keindahan parade, sudah ada transaksi dan pekerjaan yang berlangsung di tingkat petani, dekorator, dan pekerja pendukung lainnya.

TIFF 2026 juga dihadiri para duta besar dan perwakilan negara sahabat. Di antaranya Seychelles, Bosnia dan Herzegovina, Solomon Islands, Kazakhstan, Korea Selatan, Polandia, Ukraina, Yordania, dan Kuba.
Hadir pula Wakil Duta Besar Selandia Baru, Konsul Jenderal Filipina, Delegasi Pemerintah Kota Baguio, Filipina, serta perwakilan Ethiopia.

Selain delegasi internasional, TIFF juga menjadi ruang pertemuan bagi investor dan berbagai pihak yang ingin melihat langsung potensi Tomohon dan Sulut lebih dekat.n“TIFF tidak hanya menjadi panggung bunga dan pariwisata, tetapi juga etalase bagi potensi daerah, produk masyarakat, dan peluang ekonomi yang dapat dikembangkan lebih jauh,” tukasnya.

Senada, Gubernur Sulut Yulius Selvanus menuturkan, TIFF menjadi penggerak kebangkitan ekonomi kreatif yang dampaknya dirasakan masyarakat.
“TIFF menjadi panggung yang mempertemukan pemerintah, masyarakat, petani, akademisi, seniman, sektor swasta, pengusaha, perbankan, UMKM, serta media dalam satu rangkaian yang sama untuk menggerakkan ekonomi daerah,” tegasnya.

Diketahui, TIFF merupakan festival tahunan Pemkot Tomohon. Ajang ini sudah dilaksanakan sejak 2008. Sejak Tahun 2015, TIFF  telah diakui oleh Kementerian Pariwisata  dan telah menjadi kalender kegiatan setiap tahun dari Kementerian Pariwisata RI.

Editor : Ayurahmi Rais
Float BI di TIFF 2026 Bijak Belanja Inflasi Terjaga Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 UMKM Sulut Naik Kelas Transaksi Praktis Bayar Pakai QRIS