Catatan: Tommy Waworundeng
MANADOPOST.ID –Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) ke-82 tadi malam, mayoritas peserta mendukung agar pelayanan aras wilayah tetap ada.
Tapi terkait sentralisasi 5 persen dari jemaat ke wilayah, sebaiknya dihilangkan. Anggarannya dialihkan untuk pengelolaan persekolahan pendidikam dasar milik GMIM.
Pembahasan mengenai sentralisasi dana jemaat menjadi salah satu isu penting dalam agenda masa depan pelayanan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), terutama ketika dikaitkan dengan penguatan sektor pendidikan.
Gagasan yang berkembang bukan menghilangkan peran wilayah, melainkan mempertimbangkan apakah sebagian dana sentralisasi yang selama ini dialokasikan ke wilayah dapat diarahkan untuk memperkuat pendidikan GMIM secara lebih terukur dan berkelanjutan.
Dengan jumlah sekitar 1.088 jemaat, kontribusi sentralisasi secara keseluruhan memiliki potensi finansial yang signifikan.
Jika, sebagai ilustrasi, kontribusi 5 persen tersebut menghasilkan sekitar Rp1,5 miliar per bulan, maka nilainya mencapai sekitar Rp18 miliar dalam setahun.
Jika terdapat potensi dana yang lebih besar, misalnya sekitar Rp1,5 miliar per bulan, maka secara sederhana nilainya mencapai sekitar Rp18 miliar per tahun.
Angka tersebut tentu bukan berarti seluruh dana harus dialihkan untuk pendidikan. GMIM memiliki berbagai kebutuhan pelayanan dan kewajiban kelembagaan lainnya.
Tetapi pendidikan dapat ditempatkan sebagai salah satu investasi strategis jangka panjang gereja.
Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya berapa besar dana yang berhasil dihimpun, melainkan apa yang dapat dihasilkan dari dana tersebut bagi generasi GMIM 10, 20 hingga 30 tahun mendatang.
Salah satu gagasan yang dapat dibahas dalam Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI) GMIM 2026 adalah pembentukan Dana Pendidikan Strategis GMIM atau skema lain yang sesuai dengan Tata Gereja serta ketentuan perbendaharaan GMIM.
Misalnya, apabila Rp1,5 miliar per bulan dapat dialokasikan secara khusus untuk pendidikan, maka dalam satu tahun tersedia sekitar Rp18 miliar.
Dana tersebut dapat diarahkan kepada program yang langsung menyentuh kebutuhan sekolah dan guru.
Pertama, peningkatan kesejahteraan guru.
GMIM dapat mempertimbangkan skema subsidi atau insentif bagi guru sekolah GMIM yang paling membutuhkan dukungan.
Tujuannya bukan sekadar bantuan sesaat, tetapi membangun sistem dukungan yang lebih terukur sehingga sekolah memiliki peluang mempertahankan tenaga pendidik berkualitas.
Kedua, beasiswa calon guru GMIM.
Gereja dapat menyiapkan beasiswa bagi anak-anak muda yang memiliki kemampuan akademik dan panggilan untuk menjadi guru.
Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka dapat dipersiapkan untuk mengabdi di sekolah-sekolah GMIM.
Dengan demikian, gereja tidak hanya mencari guru ketika terjadi kekurangan tenaga pengajar, tetapi mulai membangun sistem kaderisasi guru untuk kebutuhan sendiri.
Ketiga, peningkatan kompetensi guru.
Guru perlu mendapatkan pelatihan secara berkala mengenai pedagogi, teknologi pendidikan, kecerdasan buatan, literasi digital, pendidikan karakter, pendidikan Kristen, bahasa asing dan kompetensi lain yang relevan dengan perkembangan zaman.
Keempat, digitalisasi sekolah GMIM.
Sebagian sekolah mungkin membutuhkan komputer, jaringan internet, perangkat pembelajaran digital serta sistem administrasi yang lebih modern.
Jika kebutuhan tersebut ditangani sendiri-sendiri oleh masing-masing sekolah, kesenjangan dapat semakin besar.
Sebaliknya, program digitalisasi bersama memungkinkan gereja menetapkan standar minimal sekaligus melakukan perencanaan pembiayaan secara lebih efisien.
Kelima, renovasi dan pemerataan sarana pendidikan.
Dana pendidikan dapat diprioritaskan kepada sekolah yang membutuhkan perbaikan bangunan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, sanitasi maupun fasilitas pembelajaran.
Hal ini penting agar kualitas pendidikan tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan ekonomi jemaat tempat sekolah tersebut berada.
Kurikulum dan Generasi Masa Depan
Investasi pendidikan juga tidak hanya menyangkut gedung dan fasilitas.
GMIM perlu memikirkan pengembangan kurikulum pendidikan yang tetap memenuhi standar nasional, tetapi sekaligus memperkuat karakter, iman, etika, kepemimpinan, kreativitas, kewirausahaan dan kepedulian sosial.
Anak-anak GMIM perlu dipersiapkan menghadapi perubahan dunia yang sangat cepat.
Karena itu, pendidikan kewirausahaan, literasi keuangan, teknologi digital, kecerdasan buatan, kreativitas dan keterampilan praktis dapat mulai diperkenalkan sesuai jenjang dan usia peserta didik.
Tujuannya agar sekolah GMIM tidak hanya menghasilkan anak yang mampu menguasai pelajaran, tetapi juga generasi yang mampu beradaptasi, menciptakan peluang dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Jika Rp18 Miliar Per Tahun, Apa Hasilnya?
Apabila ilustrasi Rp1,5 miliar per bulan tersebut mendekati penerimaan aktual, maka dalam lima tahun nilainya secara sederhana mencapai sekitar Rp90 miliar.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan tentang pendidikan tidak cukup berhenti pada pernyataan bahwa pendidikan adalah prioritas.
Pendidikan membutuhkan anggaran, kelembagaan, target dan evaluasi.
Karena itu, apabila kebijakan tersebut hendak dipertimbangkan, perlu dirumuskan secara jelas: berapa dana yang dialokasikan, siapa penerima manfaatnya, program apa yang dibiayai, bagaimana mekanisme pengawasannya dan apa indikator keberhasilannya.
Transparansi juga menjadi bagian penting.
Jika jemaat memberikan kontribusi melalui mekanisme sentralisasi, maka informasi mengenai penerimaan dan pemanfaatannya perlu dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka sesuai ketentuan GMIM.
Misalnya, berapa dana yang terkumpul, berapa yang dialokasikan untuk pendidikan, sekolah mana yang menerima dukungan, program apa yang dibiayai dan apa hasil yang dicapai.
Dengan mekanisme tersebut, sentralisasi tidak hanya dipahami sebagai kewajiban administratif jemaat kepada sinode.
Sentralisasi dapat ditempatkan sebagai mekanisme gotong royong seluruh jemaat untuk membiayai masa depan gereja.
Pembangunan fisik memang lebih mudah dilihat hasilnya.
Gedung gereja terlihat. Bangunan sekolah terlihat. Kursi dan meja dapat dihitung.
Tetapi investasi terhadap guru dan anak-anak tidak selalu langsung terlihat hasilnya.
Padahal dampaknya dapat berlangsung jauh lebih panjang.
Seorang guru yang mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang baik dapat mendidik ratusan anak sepanjang masa pengabdiannya.
Sekolah yang kualitasnya diperkuat dapat melahirkan generasi baru.
Dan generasi yang memperoleh pendidikan berkualitas dapat memberikan perubahan bagi masyarakat.
Karena itu, jika GMIM memiliki sumber daya yang dapat dihimpun secara bersama-sama, investasi pendidikan layak ditempatkan dalam pembahasan strategis gereja.
Dari 1.088 Jemaat untuk Satu Masa Depan
Kekuatan sentralisasi juga terletak pada prinsip kebersamaan.
Kondisi ekonomi 1.088 jemaat tentu tidak sama. Ada jemaat yang memiliki kemampuan finansial lebih kuat, ada yang sedang dan ada pula yang memiliki keterbatasan.
Jika pendidikan sepenuhnya bergantung pada kemampuan masing-masing jemaat, kesenjangan kualitas sekolah berpotensi terus terjadi.
Di sinilah mekanisme sentralisasi dapat memiliki fungsi strategis: jemaat yang lebih kuat ikut menopang kebutuhan jemaat yang lebih terbatas.
Bukan untuk menghilangkan kemandirian jemaat, tetapi untuk membangun kesadaran bahwa pendidikan anak-anak GMIM merupakan tanggung jawab bersama.
Anak-anak GMIM di Manado, Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Tenggara, Bitung, dan Tomohon, merupakan bagian dari masa depan gereja.
Karena itu, jika terdapat potensi dana sekitar Rp3 miliar per bulan atau Rp36 miliar per tahun, angka tersebut tidak semestinya hanya dibaca sebagai angka dalam laporan keuangan.
Di balik angka tersebut terdapat peluang untuk membiayai guru, memberikan beasiswa, memperbaiki sekolah, menyediakan teknologi, memperkuat kurikulum dan mempersiapkan generasi baru GMIM.
Pada akhirnya, pembahasan dalam SMSI GMIM 2026 bukan hanya mengenai berapa persen dana yang disentralisasikan.
Yang tidak kalah penting adalah untuk apa dana tersebut digunakan dan perubahan apa yang ingin dihasilkan bagi masa depan gereja.
Jika pendidikan ditetapkan sebagai salah satu prioritas, maka kebijakan tersebut perlu disertai perencanaan yang jelas, mekanisme pengawasan, transparansi serta evaluasi hasil.
Sebab keberhasilan pengelolaan keuangan gereja bukan hanya soal seberapa tertib dana dicatat dan dipertanggungjawabkan.
Lebih jauh, perlu dilihat seberapa besar sumber daya tersebut menghasilkan perubahan nyata bagi pelayanan dan kehidupan umat.
Dan jika GMIM sedang mempersiapkan wajah gereja 20 atau 30 tahun mendatang, salah satu investasi jangka panjang yang dapat dibicarakan secara serius adalah pendidikan anak-anak dan peningkatan kualitas serta penghargaan terhadap profesi guru.
Sebab ketika GMIM berinvestasi pada pendidikan hari ini, sesungguhnya GMIM sedang mempersiapkan masa depan GMIM sendiri. I Love GMIM, I Love Jesus. (*)
Editor : Tommy Waworundeng