MANADOPOST.ID–Kebijakan operasional Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) selama 24 jam di Bali untuk mengatasi antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) menjadi perhatian warga di Sulawesi Utara (Sulut).
Warga berharap langkah serupa dapat diterapkan di Sulut, khususnya pada SPBU yang mengalami antrean panjang BBM bersubsidi seperti Solar dan Pertalite.
Operasional 24 jam dinilai dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan BBM tanpa harus menumpuk pada jam-jam tertentu.
Antrean kendaraan di SPBU tidak hanya menyita waktu, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Kondisi ini menjadi perhatian, terutama bagi pengendara yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, menjalankan usaha, maupun mengangkut barang dan penumpang.
Karena itu, warga meminta pemerintah daerah bersama PT Pertamina Patra Niaga dan pengelola SPBU mengevaluasi jam operasional SPBU di Sulut.
SPBU yang memiliki tingkat kebutuhan tinggi diharapkan dapat melayani masyarakat selama 24 jam, terutama di jalur-jalur utama dan kawasan dengan mobilitas kendaraan yang tinggi.
Dengan jam operasional yang lebih panjang, pengisian BBM diharapkan bisa tersebar sepanjang hari sehingga tidak seluruh kendaraan terpusat pada waktu yang sama.
Meski demikian, penerapan operasional 24 jam perlu disertai dengan kepastian pasokan BBM, kesiapan petugas, serta pengawasan distribusi agar pelayanan berjalan efektif dan tidak sekadar memperpanjang jam buka.
Warga berharap kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi antrean sekaligus meningkatkan kenyamanan masyarakat dalam memperoleh BBM di Sulut.
Pertanyaannya, apakah langkah operasional SPBU 24 jam seperti di Bali dapat diterapkan secara lebih luas di Sulut?
Pemerintah dan pihak Pertamina diharapkan memberikan perhatian terhadap aspirasi warga tersebut serta menyiapkan langkah konkret untuk memperbaiki pelayanan BBM.
Pantauan di sejumlah SPBU di Manado, Kamis (15/10/2026), memperlihatkan kendaraan mengular untuk mendapatkan BBM Pertalite.
Antrean terlihat di SPBU Sario dan SPBU Ringroad, bahkan sampai mendapat pengawalan petugas kepolisian untuk membantu mengatur situasi di lokasi.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Bitung. Meski antrean tidak separah di Manado, kendaraan terlihat mengular hingga ke depan area SPBU.
Salah satu kondisi yang menjadi perhatian terjadi di SPBU Manembo-nembo, Bitung.
Di lokasi tersebut, Pertalite dilaporkan kosong. Papan pengumuman yang terpasang menyebutkan, “Pertalite kosong, sedang dalam perjalanan."
Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus mencari alternatif bahan bakar agar tetap bisa melanjutkan aktivitas, termasuk ketika menghadapi kebutuhan mendesak.
Seorang warga Bitung mengaku terpaksa membeli Pertamax di Pertamini dengan harga Rp19 ribu per liter karena membutuhkan BBM saat itu juga.
“Cuma dapa 15 liter Pertamax dengan harga mahal di Pertamini,” ungkapnya, sembari berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan ketersediaan BBM tersebut.
Situasi itu menggambarkan beban tambahan yang harus ditanggung warga ketika BBM sulit diperoleh melalui saluran pengisian yang biasa digunakan.
Selain waktu yang terbuang untuk mengantre, masyarakat juga berpotensi mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan bahan bakar.(fys)
Editor : Franky Sumaraw