MANADOPOST.ID– Menjelang dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2026, hasil pemantauan digital menunjukkan sinyal positif terhadap kepemimpinan nasional.
Riset Sintesa Strategi Indonesia (SSI) mencatat sentimen positif terhadap Prabowo mencapai 59,6 persen, mencerminkan dominasi percakapan bernada positif di ruang digital.
Capaian ini menjadi modal penting bagi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk melanjutkan agenda pembangunan nasional, memperkuat kepercayaan publik, serta mendorong optimisme masyarakat terhadap masa depan Indonesia.
Dalam laporan bertajuk Jelang 2 Tahun Pemerintahan Prabowo: Skor 5 Segmen, Skor Kabinet & Future Confidence Index, SSI menganalisis pemberitaan dan percakapan digital selama 1 Juni hingga 17 Oktober 2026.
Pemantauan dilakukan melalui platform X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, serta media daring.
Hasilnya, sentimen positif terhadap Prabowo mencapai 59,6 persen, sementara sentimen negatif sebesar 15,2 persen dan netral 25,2 persen. Dari sisi sikap atau stance, narasi yang masuk kategori pro mencapai 64,6 persen, sedangkan kontra 9,3 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa percakapan positif dan narasi yang mendukung masih mendominasi ruang digital menjelang dua tahun pemerintahan.
Pendidikan dan Kesehatan Raih Skor Tertinggi
Salah satu temuan paling menonjol dalam riset SSI adalah tingginya apresiasi terhadap sektor pendidikan. Dari lima bidang yang dianalisis, pendidikan memperoleh skor sentimen bersih tertinggi, yakni +79,2, disusul kesehatan dengan +75,5.
Pada sektor pendidikan, sentimen positif tercatat mencapai 85,9 persen, sedangkan sentimen negatif hanya 6,7 persen.
Sementara itu, bidang kesehatan mencatat sentimen positif 83,2 persen dan negatif 7,7 persen.
Data tersebut menjadi sinyal positif bagi agenda pembangunan sumber daya manusia yang menjadi salah satu fondasi penting kemajuan bangsa.
Pendidikan yang berkualitas dan layanan kesehatan yang semakin baik merupakan investasi strategis untuk meningkatkan daya saing generasi muda serta memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Tingginya sentimen positif pada kedua sektor ini juga menjadi dorongan bagi pemerintah untuk memastikan bahwa program-program pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat, baik melalui peningkatan akses pendidikan maupun pelayanan kesehatan yang semakin merata.
Meski demikian, sentimen digital merupakan gambaran percakapan yang terpantau, bukan pengukuran langsung atas kualitas layanan atau tingkat kepuasan seluruh penduduk Indonesia.
Riset SSI juga memperkenalkan Future Confidence Index (FCI) untuk membaca sinyal ekspektasi publik terhadap masa depan Indonesia.
Selama periode Juni hingga Oktober 2026, indeks tersebut berada di wilayah positif dengan rasio sinyal positif sebesar 1,21, melampaui ambang batas 1,00. Temuan ini menunjukkan bahwa sinyal optimisme masih lebih dominan dibandingkan sinyal pesimisme dalam percakapan digital yang dianalisis.
Optimisme tersebut merupakan modal sosial yang penting bagi pemerintah. Kepercayaan terhadap masa depan dapat menjadi kekuatan untuk mendorong produktivitas, memperluas kesempatan kerja, memperkuat investasi, dan menjaga semangat masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi.
Namun, SSI juga mencatat bahwa pada 1–17 Oktober, sinyal tekanan sempat meningkat dibandingkan sinyal peluang. Karena pengumpulan data Oktober baru berlangsung hingga pertengahan bulan, perkembangan tersebut belum menggambarkan kondisi satu bulan penuh.
Di balik dominasi sentimen positif, riset SSI tetap memperlihatkan sejumlah pekerjaan rumah yang perlu menjadi perhatian pemerintah.
Sektor hukum mencatat skor sentimen bersih terendah di antara lima bidang yang diteliti, yakni +62,4, dengan sentimen negatif sebesar 28,1 persen.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa harapan masyarakat terhadap pemerintahan Prabowo tidak berhenti pada program pembangunan, tetapi juga mencakup penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, dan kualitas pelayanan publik.
Pemerintah perlu menjadikan apresiasi publik sebagai energi untuk mempercepat reformasi, memperkuat integritas lembaga negara, serta memastikan kebijakan berjalan secara konsisten dan berkeadilan.
Dengan demikian, keberhasilan pemerintahan tidak hanya diukur dari tingginya sentimen positif, tetapi juga dari kemampuan menerjemahkan kepercayaan masyarakat menjadi hasil pembangunan yang nyata.
Momentum Memperkuat Kepercayaan Publik
Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, temuan SSI memberikan gambaran bahwa narasi positif terhadap Presiden masih mendominasi percakapan digital yang dipantau.
Pendidikan dan kesehatan menjadi bidang dengan apresiasi tertinggi, sementara indeks kepercayaan terhadap masa depan Indonesia masih berada di zona positif.
Bagi Presiden Prabowo, capaian ini dapat menjadi dorongan untuk menjaga arah pembangunan sekaligus memperbaiki bidang-bidang yang masih menuai kritik.
Tantangan berikutnya adalah memastikan optimisme masyarakat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan, terbukanya lapangan kerja, penguatan ekonomi rakyat, pemerataan pembangunan, serta penegakan hukum yang dipercaya publik.
Dua tahun pertama pemerintahan merupakan momentum penting untuk memperkuat fondasi pembangunan. Jika kepercayaan publik dapat dipertahankan dan diikuti hasil yang semakin nyata, optimisme hari ini berpeluang menjadi kekuatan bagi Indonesia untuk melangkah menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
Catatan: Seluruh angka sentimen dalam berita ini merujuk pada hasil pemantauan digital SSI, bukan survei opini nasional yang mengukur secara langsung pilihan politik atau tingkat kepuasan seluruh masyarakat. (*)
Editor : Tommy Waworundeng