Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bitung Koleksi Sampah 120 Ton Per Hari

Chanly Mumu (UKW: 17401) • Minggu, 4 Juli 2021 | 20:02 WIB
Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Lumowa menyerahkan Bansos Forkopimda Sulut ke Nelayan di Minsel, Selasa (5/5). (Reza/MP)
Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Lumowa menyerahkan Bansos Forkopimda Sulut ke Nelayan di Minsel, Selasa (5/5). (Reza/MP)
MANADOPOST.ID - Produksi sampah masyarakat Bitung per hari cukup fantastis, sehingga warga diimbau untuk membuat lubang sampah sendiri di pekarangan rumah, sebagai wadah membuang sampah organik. Tercatat di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bitung, produksi sampah warga tiap harinya mencapai 100 - 120 ton. "Jumlah sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) rata-rata, 100 hingga 120 ton per hari," kata Kepala DLH Kota Bitung Sadat Minabari SIK MSi, Minggu (4/7). Kondisi itu jelas membebani TPA Aertembaga Bitung, apalagi diakui Minabari masih ada warga yang mencampur sampah organik dan anorganik, yang harusnya dipilah dulu baru dibuang di tempat pembuangan sementara. Dengan kondisi itu, warga yang masih memiliki pekarangan, diimbau untuk membuat lubang sampah, sebagai wadah membuang sampah organik. "Jika di tempat tinggal warga masih ada halaman, diimbau untuk membuat lubang sampah sendiri, sebagai tempat pembuangan sampah organik seperti sisa makanan, sisa sayuran dan kulit buah-buahan, rumput, daun dan ranting. Sehingga yang terangkut ke TPA tinggal sampah anorganik berupa kertas, plastik dan sampah lainnya," urai Minabari. Dengan demikian, jika diasumsikan 226.500 warga, berpotensi menghasilkan 0,7 kg sampah per hari, bisa diminimalisir dengan adanya lubang sampah mandiri. Hal ini mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Bitung Ir Maurits Mantiri, karena sampah organik yang mudah busuk atau terurai itu, bisa menjadi pupuk kompos. "Sampah dedaunan seperti daun dan kulit pisang, sebelum dibuang di tempat sampah di pekarangan, dicacah dulu. Hasilnya akan menjadi pupuk kompos, yang bisa bermanfaat digunakan untuk menyuburkan tanaman warga," ulas Mantiri dalam kegiatan ruang sepakat, Sabtu (3/7). Sementara itu, LSM Sakti Petrus Rumbayan, meminta Pemkot Bitung melalui DLH untuk kampanyekan secara terstruktur sistematis dan masif terkait hal tersebut. "Coba DLH kampanyekan secara terstruktur sistematis dan masif untuk setiap rumah menyiapkan lubang sampah di masing-masing rumah, yang masih ada halaman," usulnya. (tr-01/can) Editor : Chanly Mumu (UKW: 17401)
#produksi sampah warga #Bitung sampah organik #Produksi Sampah #Sadat Minabari #Dinas Lingkungah Hidup #DLH Kota Bitung