Perubahan warna bangunan sekolah ini, beredar di media sosial Facebook dan sejumlah WhatsApp Group (WAG).
Pergantian warna ini pun menimbulkan beragam reaksi masyarakat, terutama karena bertepatan dengan masa transisi kepemimpinan di Kota Bitung.
Kepala SDN Pintukota, Ketsy Agusta Antou SPdK, saat dikonfirmasi membenarkan adanya perubahan warna bangunan di sekolah yang ia pimpin.
Menurutnya, pengecatan ini merupakan bagian dari perawatan rutin yang dilakukan setiap awal tahun dan dibiayai menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Pengecatan ini memang sudah menjadi agenda rutin sekolah. Setiap tahun, kami melakukan perawatan agar bangunan tetap dalam kondisi baik,” ujar Ketsy, Kamis (6/2/2025).
Ditanya soal ganti warna dari merah ke biru, Kepsek Ketsy menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan bentuk loyalitas terhadap pimpinan baru di Kota Bitung.
“Kalau sebelumnya warna merah merupakan bagian dari loyalitas kami terhadap pemimpin sebelumnya, maka warna biru ini juga sebagai bentuk loyalitas terhadap pimpinan yang baru,” jelasnya.
Diketahui, pergantian warna bangunan sekolah ini menjadi menarik karena dianggap sebagai simbolisasi perubahan politik di Kota Bitung.
Warna biru sendiri identik dengan pasangan Hengky Honandar dan Randito Maringka yang memenangkan Pilkada 2024.
Fenomena perubahan warna bangunan sebagai bentuk loyalitas politik bukanlah hal baru di Kota Bitung.
Sebelum Pilkada 2020, warna perkantoran dan fasilitas umum lainnya termasuk sekolah di Kota Bitung, sebagian besar berwarna biru.
Setelah ada pergantian kepemimpinan saat itu, semua berlomba-lomba ganti warna merah. Adanya pergantian warna bangunan sekolah ini, menuai perdebatan di kalangan masyarakat.
Sebagian menilai bahwa dunia pendidikan seharusnya tetap netral dan tidak terpengaruh oleh dinamika politik.
Seorang warga Bitung yang enggan disebut namanya mengungkapkan pendapatnya terkait hal ini.
“Kalau memang hanya untuk perawatan rutin, tidak masalah. Tapi kalau pergantian warna ini lebih karena politik, saya rasa dunia pendidikan harus tetap netral,” ujarnya.(*)
Editor : Franky Sumaraw